Mengenal Ruminasi, Gangguan Makan yang Sebabkan Anak Mengunyah Kembali Makanan yang Sudah Dimuntahkan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Usia anak-anak merupakan masa penting untuk menyiapkan kecukupan nutrisi sebelum memasuki usia remaja dan dewasa. Masalah nutrisi pada anak biasanya berkaitan dengan faktor akses terhadap makanan dan pola konsumsi. Tetapi ternyata faktor lainnya yang berhubungan langsung dengan masalah nutrisi anak adalah gangguan makan. Salah satunya adalah gangguan makan ruminasi.

Definisi gangguan makan ruminasi

Gangguan ruminasi adalah kelainan yang ditandai dengan perilaku anak yang mengeluarkan makanan dan mengunyah makanan tersebut kembali setelah ditelan atau dicerna sebagian. Mereka biasanya kembali mengunyah dan menelan, namun terkadang juga memuntahkan makanan tersebut. Perilaku ruminasi dapat terjadi saat sedang menghabiskan makanan (mengulum makanan di dalam mulut) atau setelah selesai makan.

Perilaku ruminasi sudah menjadi gangguan makan yang perlu diperhatikan ketika anak terus menerus mengulangi hal tersebut. Jika sebelumnya belum pernah terjadi dan telah bertahan selama minimal satu bulan (dengan frekuensi terjadinya minimal satu kali dalam sehari), maka hal tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai gangguan makan ruminasi.

Gangguan ruminasi dapat membaik dan hilang dengan sendirinya ketika anak beranjak dewasa. Tetapi masih terdapat kemungkinan gangguan ruminasi terjadi pada remaja dan orang dewasa, meski mereka cenderung menyembunyikannya.

Gangguan ini pada umumnya ditemukan pada anak berusia bayi hingga anak-anak, namun lebih mungkin terjadi pada anak dengan gangguan kognitif.

Gejala dan dampak yang ditimbulkan

Terlepas dari terjadinya ruminasi disengaja atau tidak, gangguan makan ini berkaitan dengan kerja fungsi saluran cerna seperti kontraksi dan relaksasi otot dalam mencerna makanan.

Anak yang melakukan ruminasi dapat mengalami berbagai gejala, di antaranya:

  • Penurunan berat badan
  • Mengalami bau mulut
  • Kerusakan gigi
  • Sakit perut berulang
  • Gangguan mencerna makanan
  • Bibir tampak kering
  • Bibir terluka akibat gigitan

Jika tidak ditangani gangguan makan ruminasi juga dapat menyebabkan masalah yang lebih serius:

  • Malnutrisi
  • Sering mengalami dehidrasi dan gangguan elektrolit
  • Gangguan pertumbuhan fisik
  • Gangguan dan infeksi saluran napas
  • Tersedak dan menyebabkan sesak napas
  • Pneumonia
  • Kematian

Secara tidak langsung perilaku mengeluarkan makanan juga dapat memberikan tekanan pada otot bagian tubuh sehingga memicu rasa pegal dan nyeri. Hal tersebut biasanya terjadi pada otot bagian punggung, sekitar kepala bagian belakang, otot perut dan otot mulut.

Apa saja faktor risikonya?

Penyebab utama mengapa seorang anak dapat mengalami gangguan makan ini tidak diketahui, namun beberapa hal dapat meningkatkan peluang seorang anak melakukan perilaku mengeluarkan makanan kembali, di antaranya:

  • Mengalami stress yang memicu perilaku memuntahkan makanan
  • Mengalami penyakit yang berkaitan dengan saluran cerna
  • Pola asuh orangtua yang cenderung menelantarkan anak
  • Anak suka mengunyah makanan
  • Kekurangan perhatian sehingga memuntahkan makanan merupakan cara ia memperoleh perhatian.

Bagaimana gangguan makan ruminasi dapat dikenali?

Diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk memastikan jika seorang anak mengalami gangguan makan ruminasi. Dikutip dari laman Medscape, panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) menetapkan kriteria ruminasi sebagai berikut:

  • Perilaku sudah terjadi dan bertahan minimal selama satu bulan.
  • Perilaku mengeluarkan dan mengunyah makanan kembali tidak berkaitan dengan penyakit saluran cerna yang menyebabkan seseorang memuntahkan makanan kembali seperti refluks asam lambung (GERD)┬ádan pyloric stenosis.
  • Perilaku ruminasi tidak terjadi bersamaan dengan gangguan makan anoreksia nervosa, bulimia nervosa, binge eating atau gangguan yang membatasi makanan tertentu.
  • Jika perilaku ini terjadi sebagai akibat dari gangguan kesehatan mental dan gangguan perkembangan saraf seperti disabilitas intelektual, gejala dari gangguan makan ruminasi harus cukup serius untuk didiagnosis dan mendapatkan penanganan independen.

Apa yang dapat dilakukan?

Perilaku makan anak menjadi fokus utama dalam mengatasi gangguan makannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi ruminasi adalah:

  • Ciptakan suasana makan yang menyenangkan bagi anak.
  • Memperbaiki kebiasaan makan anak, terutama posisi dan postur tubuh anak ketika sedang dan sesudah makan.
  • Memperbaiki hubungan ibu atau pengasuh dengan anak seperti memberikan perhatian yang dibutuhkan anak.
  • Kurangi distraksi ketika sedang memberikan makan anak.
  • Alihkan perhatian ketika ia tampak berusa mengeluarkan makanan, jika perlu berikan makanan ringan yang memiliki rasa asam ketika anak ingin memuntahkan makanan.

Selain upaya di atas, penerapan terapi kejiwaan juga diperlukan untuk ibu atau pengasuh beserta keluarga untuk mengatasi tekanan emosi akibat gangguan makan anak dan memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 23, 2017 | Terakhir Diedit: Desember 19, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca