backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Karotenemia pada Bayi

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Karotenemia pada Bayi

Mengonsumsi wortel dan makanan kaya beta karoten baik untuk kesehatan bayi dan ibu menyusui. Akan tetapi, jika asupannya terlalu banyak, maka bisa meningkatkan risiko karotenemia yang ditandai dengan kulit bayi menguning atau oranye.

Kenali kondisi ini lebih dalam melalui ulasan berikut supaya Anda bisa membedakannya dengan jaundice atau penyakit kuning.

Apa itu karotenemia?

Karotenemia adalah kondisi kulit berwarna kuning atau oranye yang terjadi karena tingginya kadar beta karoten dalam darah.

Kondisi yang dikenal juga dengan sebutan yellow palm ini pertama kali dipaparkan oleh Hess dan Meyers pada tahun 1919.

Kondisi ini sering kali terjadi akibat konsumsi buah dan sayur yang tinggi beta karoten, seperti wortel, secara berlebihan.

Siapa pun dapat mengalami yellow palm. Akan tetapi, karotenemia paling sering terjadi pada bayi dan anak-anak.

Meskipun bisa mengubah warna kulit jadi kekuningan atau oranye, karotenemia berbeda dengan jaundice atau penyakit kuning.

Bila dilihat dari penyebabnya, jaundice disebabkan oleh kadar bilirubin (produk sampingan dari pemecahan sel darah merah) yang tinggi dalam darah. 

Di samping itu, perbedaan yang mencolok dari keduanya adalah jaundice dapat menyebabkan sklera (bagian putih mata) menjadi kuning. Sementara yellow palm tidak menimbulkan gejala demikian.

Apa saja gejala karotenemia pada bayi?

kulit bayi terlalu higienis

Gejala khas karotenemia adalah kulit berwarna kuning atau oranye yang disebut karotenoderma.

Gejala ini muncul di area kulit yang tebal dan memiliki kelenjar keringat, seperti telapak tangan dan kaki. Nah, dari gejala inilah, istilah yellow palm muncul. 

Karotenoderma sebenarnya bisa muncul di seluruh tubuh. Akan tetapi, kasus seperti ini sangat jarang terjadi.

Selain itu, gejala lain yang mungkin menyertai di antaranya:

Yellow palm tidak menyebabkan menguningnya sklera seperti gejala jaundice karena organ ini tidak memiliki kelenjar keringat. 

Kapan harus periksa ke dokter?

Kondisi kulit menguning atau oranye akibat kelebihan beta karoten hanya menunjukkan gejala yang disebutkan di atas. Bila si Kecil atau Anda mengalami perubahan sklera maupun gejala lain yang mengkhawatirkan, segera periksakan diri ke dokter. 

Apa penyebab karotenemia pada bayi?

Penyebab terjadinya kulit kuning atau oranye pada bayi terbagi menjadi dua, yakni sebagai berikut.

1. Karotenemia primer

Penyebab karotenemia primer adalah kelebihan asupan makanan atau suplemen yang mengandung beta karoten.

Beta karoten merupakan provitamin A dan antioksidan yang berperan dalam menjaga warna normal kulit dan membantu melindungi kulit dari sengatan matahari.

Beta karoten ada pada buah dan sayur yang berwarna oranye, kuning tua, dan hijau, seperti mangga, pepaya, labu kuning, wortel, brokoli, dan ubi jalar.

Beberapa jenis keju, susu, dan mentega juga dapat mengandung beta karoten yang tinggi.

Walaupun tubuh membutuhkan antioksidan ini, jika asupannya berlebihan, maka dapat menyebabkan karotenoderma.

2. Karotenemia sekunder

Warna telapak tangan dan kaki yang menguning atau oranye juga bisa terjadi akibat kondisi medis tertentu. 

Kondisi yang dikenal sebagai karotenemia metabolik kemungkinan bersifat genetik dan menyebabkan gangguan pada proses perubahan beta karoten menjadi vitamin A. 

Jadi begini, beta karoten diserap di usus kecil dan diubah menjadi vitamin A.

Namun karena adanya gangguan pada proses ini, kadar beta karoten tidak berkurang. Lambat laun, kadarnya bisa berlebihan dalam darah. 

Apa saja faktor risiko kerotenemia?

mpasi salmon

Walaupun dapat menyerang semua usia dan jenis kelamin, kondisi ini lebih sering ditemukan pada bayi dan anak-anak.

Bayi di bawah 6 bulan dapat mengalami kulit kuning atau oranye karena ibunya mengonsumsi terlalu banyak makanan mengandung beta karoten.

Zat tersebut dapat terserap ke ASI dan masuk ke tubuh bayi selama proses menyusui.

Sementara pada bayi yang sudah memasuki usia 6 bulan, karotenemia dapat terjadi karena pemberian MPASI yang kurang tepat. 

Anda mungkin saja memberikan buah hatinya MPASI dari campuran wortel, labu kuning, atau ubi dalam jumlah banyak.

Hal ini tentu dapat meningkatkan risiko menguningnya telapak kaki dan tangan bayi.

Selain karena faktor ibu menyusui dan MPASI, bayi juga berisiko tinggi mengalami kondisi ini karena memiliki masalah kesehatan, seperti:

  • diabetes melitus,
  • hipotiroidisme,
  • penyakit hati, dan
  • penyakit ginjal.

Pada anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa, kasus kulit berubah oranye atau menguning dapat terjadi karena menjalani diet vegan atau diet vegetarian. 

Kehamilan dan anorexia nervosa juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi yellow palm.

Bagaimana karotenemia didiagnosis?

Dalam mendiagnosis karotenemia, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat area kulit yang menguning atau berubah oranye. 

Dokter juga akan menanyakan pola makan secara rinci untuk mengetahui asupan makanan tinggi karoten, seperti wortel, yang berlebihan dan penggunaan suplemen nutrisi tertentu.

Bila memang ini penyebabnya, tes kesehatan biasanya tidak perlu dilakukan. Namun bila dokter mencurigai masalah kesehatan tertentu, Anda atau si Kecil akan diminta untuk mengikuti tes darah. 

Karotenemia dapat dipastikan dengan kadar beta karoten yang tinggi, kadar vitamin A yang normal atau sedikit meningkat, dan hasil tes fungsi hati yang normal.

Jika penyebab karotenemia tidak jelas, skrining terhadap kondisi lain yang dapat terjadi dengan karotenemia harus dilakukan.

Apa pengobatan karotenemia pada bayi?

dokter anak

Melansir Cleveland Clinic, karotenemia primer bukan kondisi yang berbahaya dan perawatannya pun cukup sederhana. 

Oleh karena itu, jika Anda mendapati si Kecil maupun anggota keluarga di rumah menunjukkan gejala karotenemia, jangan dulu panik. 

Cara mengatasi karotenemia primer pada bayi adalah dengan mengurangi jumlah makanan kaya beta karoten pada MPASI dan ibu yang sedang menyusui.

Perawatan berupa perbaikan pola makan juga berlaku pada remaja hingga orang dewasa.

Deretan makanan tinggi kandungan beta karoten yang musti dikurangi asupannya, meliputi:

  • aprikot,
  • blewah,
  • wortel,
  • mangga,
  • jeruk,
  • labu kuning, dan
  • ubi jalar.

Lewat cara ini, warna kulit yang kuning atau oranye akan mulai memudar dan kembali normal dalam beberapa bulan. 

Perlu diingat juga bahwa asupan sayur dan buah untuk bayi yang mengandung beta karoten hanya dikurangi, bukan dihilangkan.

Jika penyebab karotenemia bukan karena pola makan, maka pengobatan akan melibatkan penanganan kondisi yang mendasarinya. 

Misalnya, pada pasien yang memiliki diabetes, perawatannya akan melibatkan pola makan, perubahan gaya hidup, atau penggunaan obat-obatan.

Jika Anda masih bingung dalam mengubah pola makan terkait asupan beta karoten, jangan ragu untuk konsultasi kepada dokter maupun ahli gizi.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan