Apakah nak Anda pernah mengalami cepirit atau buang air besar yang tidak sengaja di celana? Bila terjadi terus menerus, ini bisa menjadi tanda dari enkopresis atau encopresis.
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None
Apakah nak Anda pernah mengalami cepirit atau buang air besar yang tidak sengaja di celana? Bila terjadi terus menerus, ini bisa menjadi tanda dari enkopresis atau encopresis.
Nah, sebelum berpikir demikian, Anda perlu tahu, cepirit yang terjadi sesekali merupakan kondisi yang wajar. Lantas, apa tandanya bila anak mengalami encopresis? Cari tahu, yuk, Bu!
Ketika anak BAB di celana, Anda mungkin merasa jengkel karena berpikir anak terlalu malas untuk pergi ke toilet hingga celana mereka menjadi korbannya.
Jika jarang terjadi, tentu tidak masalah. Namun, jika si kecil sering BAB di celana, waspada tanda encopresis!
Enkopresis (encopresis) atau inkontinensia fekal adalah keluarnya feses secara tidak sengaja yang berulang hingga mengotori celana.
Kondisi ini terjadi karena adanya penumpukan feses di usus besar dan rektum sehingga usus menjadi penuh dan feses cair keluar atau bocor.
Akhirnya, feses yang menumpuk dapat menyebabkan perut mengembung melebihi ukuran normal (distensi abdomen) dan kehilangan kendali untuk buang air besar.
Mayo Clinic menyebutkan bahwa encopresis biasanya terjadi pada anak di atas usia 4 tahun yang sudah bisa menggunakan toilet.
Pada kebanyakan kasus, enkopresis adalah gejala sembelit kronis pada anak.
Namun, pada kasus lain yang lebih jarang, encopresis mungkin disebabkan oleh masalah emosional.
Melansir data Mott Children Hospital, sembelit dengan enkopresis memengaruhi setidaknya tiga hingga empat dari 100 anak prasekolah dan satu hingga dua dari 100 anak pada usia sekolah.
Kondisi ini pun lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
Terkadang, encopresis bisa membuat orangtua merasa frustasi. Pada anak, kondisi ini bisa membuatnya malu, frustasi, hingga mudah marah.
Bahkan, jika anak diejek oleh teman sebayanya atau dimarahi dan dihukum oleh orangtua, hal ini bisa membuat anak stres atau memiliki percaya diri yang rendah.
Tanda atau gejala encopresis bisa berbeda pada tiap anak.
Namun, berikut adalah beberapa tanda dan gejala dari enkopresis yang umum terjadi pada anak.
Jika anak Anda sudah terlatih menggunakan toilet dan memiliki salah satu atau lebih gejala tersebut, sebaiknya segera hubungi dokter.
Enkopresis bisa terjadi karena berbagai penyebab. Berikut adalah beberapa penyebab encopresis yang umum.
Sembelit adalah penyebab paling umum dari encopresis. Biasanya, ini terjadi jika sembelit anak Anda sudah kronis atau yang berlangsung lama.
Ketika sembelit, feses menjadi keras dan kering sehingga sulit dan sakit untuk anak Anda keluarkan.
Akibatnya, anak Anda akan menghindar untuk pergi ke toilet, kemudian feses bisa menumpuk dalam usus besar.
Pada akhirnya, usus besar bisa meregang dan memengaruhi saraf yang bertugas memberi sinyal untuk pergi ke toilet.
Saat usus besar menjadi terlalu penuh, feses cair dapat keluar secara tiba-tiba atau tanpa sengaja.
Adapun penyebab umum dari sembelit adalah berikut.
Stres emosional dapat memicu enkopresis.
Seorang anak mungkin mengalami stres akibat terlalu dini atau kesulitan dalam belajar menggunakan toilet (toilet training) atau perubahan dalam kehidupan anak.
Perubahan dalam hidup anak misalnya pada pola makan, mulai masuk sekolah, perceraian orang tua, atau kelahiran saudara kandung.
Selain dua penyebab utama tersebut, ada beberapa kondisi medis dan hal lainnya yang juga bisa menimbulkan enkopresis.
Berikut adalah beberapa penyebab tersebut.
Berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena enkopresis atau encopresis.
Untuk mendiagnosis enkopresis, dokter akan menanyakan gejala, riwayat kesehatan dan toilet training, serta makanan yang anak Anda konsumsi.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksan fisik dan pemeriksaan ke area rektum atau dubur untuk mengetahui kondisi feses.
Pemeriksaan rektum dokter lakukan dengan memasukkan jarinya yang sudah menggunakan sarung tangan ke area dubur anak Anda.
Hal ini dokter lakukan sambil menekan perut anak Anda dengan tangan lainnya.
Selain dua pemeriksaan tersebut, dokter juga mungkin akan merekomendasikan rontgen perut atau barium enema untuk memeriksa penumpukan feses di usus besar.
Bila masalah emosional dicurigai sebagai penyebabnya, evaluasi psikologis juga mungkin akan dokter rekomendasikan.
Semakin cepat dokter mengobati encopresis, semakin besar kemungkinannya akan berhasil. Adapun dalam mengobati kondisi ini, ada beberapa langkah yang akan dokter lakukan.
Adapun masing-masing langkah memiliki beberapa pilihan metode.
Metode yang dokter pilih akan tergantung pada gejala, usia, riwayat kesehatan, serta tingkat keparahan encopresis anak Anda.
Berikut adalah langkah-langkahnya.
Untuk langkah ini, dokter mungkin akan meresepkan obat pencahar.
Pilihan obat tersebut seperti enema (cairan yang dimasukkan lewat rektum untuk melembutkan tinja yang keras dan kering) atau suppositoria (obat padat lewat dubur).
Setelah feses yang menumpuk keluar, dokter mungkin meresepkan obat yang dapat membantu pergerakan usus anak untuk mencegah penumpukan kembali.
Selain obat, berikut beberapa hal perlu anak Anda lakukan untuk menjaga pergerakan usus yang sehat.
Pada beberapa kasus, psikoterapi mungkin akan dokter rekomendasikan jika encopresis terjadi akibat masalah emosional atau.
Ambil contohnya, membantu rasa malu, bersalah, depresi, atau percaya diri anak rendah yang terkait dengan encopresis.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda dan anak Anda lakukan untuk mencegah sembelit pada anak serta terjadinya encopresis.
Jika masih ada pertanyaan seputar encopresis, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter, ya, Bu.
Disclaimer
Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.
Tanya Dokter
Punya pertanyaan kesehatan?
Silakan login atau daftar untuk bertanya pada para dokter/pakar kami mengenai masalah Anda.
Ayo daftar atau Masuk untuk ikut berkomentar