Alergi Susu Sapi: Penyebab, Gejala, dan Pilihan Susu Alternatifnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mendengar tentang alergi susu sapi? Faktanya, kondisi ini menjadi jenis alergi pada anak yang sering menyerang. Mengapa sebagian anak memiliki alergi susu sapi dan sebagian lainnya tidak dan bagaimana pengobatannya? Berikut ulasannya untuk Anda.

Apa penyebab anak mengalami alergi susu sapi?

ciri-ciri bayi alergi susu sapi

Alergi susu sapi pada bayi sangat umum terjadi. Hal ini disebabkan oleh sistem imunitas tubuh yang mengenal protein susu sapi sebagai zat asing di dalam tubuh.

Akibatnya, tubuh merespon dan melawan protein yang masuk, sama halnya dengan bakteri dan virus.

Susu sapi mengandung kasein (protein) serta beberapa protein lainnya. 

Oleh karena dikenal sebagai “ancaman”, tubuh mengeluarkan senyawa kimia yang memancing terjadinya gejala alergi. 

Pelepasan senyawa kimia akibat alergi susu sapi ini didasari beberapa sebab berikut.

Reaksi Imunoglobulin E (IgE) mediated

Immunoglubulin E merupakan antibodi yang berperan dalam melawan alergi. Di sini, sistem imunitas melakukan pelepasan senyawa histamin, senyawa kimia yang dilepaskan tubuh saat merespon alergi.

Gejala ini berlangsung sekitar 20-30 menit setelah si kecil mengonsumsi protein susu sapi. Namun, gejala bisa muncul lebih dari 2 jam.

Melihat ini, orangtua harus segera mengambil solusi untuk mengatasi alergi susu sapi pada bayi.

Reaksi Non-immunoglobulin E-mediated

Sel T atau sel darah putih ditafsir sebagai penyebab dari munculnya gejala alergi. Biasanya gejala muncul secara bertahap, dari 48 jam hingga 1 minggu setelah si kecil meminumnya.

Meskipun penyebabnya berbeda dari yang sebelumnya, segera cari cara untuk mengatasi gejala alergi susu sapi.

Campuran reaksi Imunoglobulin E dan Non-immunoglobulin E mediated

Adapun bayi yang memiliki gejala alergi susu sapi karena gabungan reaksi Imunoglobulin E dan Non-immunoglobulin E mediated.

Bila demikian, mengatasi bayi dengan gejala alergi susu harus cepat dilakukan orangtua.

Tanda dan gejala alergi susu sapi

gejala akibat alergi susu sapi dan cara mengatasi alergi ini

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala alergi susu sapi terbagi menjadi dua, yakni: anak yang sedang menerima ASI eksklusif dan anak yang mengonsumsi susu formula.

Ciri-ciri atau gejala anak bayi mengalami alergi susu sapi yaitu:

Gejala ringan

  • Muntah, diare, konstipasi, darah pada tinja
  • Anemia defisiensi besi
  • Pilek, batuk, kronik
  • Kolik yang berlangsung terus menerus (lebih dari 3 jam per hari per minggu selama 3 minggu)

Gejala berat

  • Gagal tumbuh karena diare dan anak tidak mau makan
  • Anemia defisiensi besi karena ada darah di feses

Bila mengalami gejala berat, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak.

Namun, jika Anda ragu dengan gejala yang muncul, konsultasi ke dokter adalah jalan terbaik.

Umumnya, alergi akan terjadi hanya sampai anak berusia 4 tahun. Namun, jika gejala masih muncul ketika anak sudah lebih dari 4 tahun, mungkin alergi tersebut akan dialami hingga dia beranjak remaja.

Setelah itu, biasanya gejala alergi akan hilang dengan sendirinya. Sangat jarang ditemukan gejala alergi susu sapi pada orang dewasa. 

Walaupun begitu, anak yang dulunya pernah mengalami gejala alergi susu, memiliki risiko mengalami alergi terhadap hal lain.

Bahkan kondisi ini bisa menyebabkan asma ketika dewasa nanti.

Apakah alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa?

Susu Alternatif Bagi Anak Yang Alergi Susu Sapi

Tidak seperti intoleransi laktosa yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh, kondisi ini cukup berbeda.

Gejala alergi susu sapi justru terjadi akibat adanya reaksi sistem kekebalan tubuh anak dengan protein yang terkandung di dalam susu sapi. 

Jenis protein yang paling sering menyebabkan alergi adalah whey dan kasein. Bayi dan anak yang mengalaminya bisa saja alergi terhadap salah satu atau kedua protein tersebut. 

Reaksi yang muncul biasanya terjadi dalam hitungan menit atau beberapa jam setelah mengonsumsi susu.

Anak bisa saja alergi terhadap susu apapun, karena dalam berbagai susu terdapat protein di dalamnya.

Namun yang paling sering terjadi adalah alergi yang disebabkan oleh susu sapi.

Apakah anak saya berisiko memiliki alergi susu sapi?

bayi alergi susu sapi

Beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan risiko kejadian gejala alergi susu sapi pada anak  dan bayi, yaitu:

Alergi terhadap hal lain

Banyak anak-anak yang alergi terhadap susu juga alergi dengan zat atau benda lain. Namun, biasanya alergi susulah yang menyebabkan alergi terhadap zat lain muncul.

Eksim atopik

Eksim atopik adalah kelainan kulit yang kronis atau menahun, berupa gatal-gatal dan kemerahan pada berbagai bagian tubuh. 

Anak yang memiliki dermatitis atopik, berpeluang lebih besar untuk mempunyai alergi terhadap makanan, termasuk susu.

Genetik atau riwayat keluarga

Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi terhadap suatu jenis makanan, berpeluang lebih besar untuk alergi terhadap susu sapi.

Usia

Alergi terhadap susu sering terjadi pada bayi dan balita karena sistem pencernaannya yang masih berkembang.

Seiring dengan pertumbuhannya, sistem pencernaan anak akan berkembang dan menjadi matang.

Lama-lama, alergi yang dimiliki karena belum matangnya organ pencernaan untuk mencerna jadi beradaptasi terhadap protein yang ada di dalam susu.

Alternatif susu untuk anak yang alergi susu sapi

alergi pada anak

Tak harus susu sapi, ada banyak pilihan susu lain yang bisa diberikan pada anak yang alergi susu sapi, berikut pilihannya:

ASI

Bagi bayi yang masih menyusu, melanjutkan ASI eksklusif merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi nutrisinya.

Kandungan protein dalam ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi.

Kualitas protein ASI lebih baik dibandingkan dengan susu sapi karena ASI memiliki jenis asam amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. 

Salah satu contohnya adalah asam amino taurin yang memiliki peran pada perkembangan otak.

Asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang.

Susu formula hipoalergenik

Jika anak Anda mengonsumsi susu formula atau susu formula campur ASI, pilihlah susu formula yang hipoalergenik.

Susu hipoalergenik adalah susu yang mempunyai peptida dengan berat molekul kecil dan tidak menimbulkan reaksi alergi pada anak. 

Susu yang termasuk dalam golongan hipoalergenik adalah susu terhidrolisat ekstensif dan susu formula asam amino.

Susu terhidrolisat ekstensif diberikan pada anak yang menderita alergi susu dengan gejala klinis ringan atau sedang.

Susu formula asam amino diberikan pada anak yang menderita alergi susu dengan gejala klinis berat.

Sebagai alternatif lainnya, anak yang menderita alergi susu sapi juga dapat mengonsumsi susu yang mengandung isolat protein kedelai.

Susu kedelai

Susu kedelai untuk anak dengan alergi bisa menjadi alternatif untuk menggantikan asupan susu sapi.

Susu soya memiliki kandungan isoflavon yang merupakan phytoestrogen berperan seperti hormon di dalam tubuh. 

Selain itu, menurut American Academy of Pediatrics (AAP), susu soya formula merupakan asam amino yang diformulasikan untuk melengkapi kebutuhan bayi.

Asam amino ini terbentuk dari protein dan bahan lainnya untuk mendukung nutrisi anak.

Oleh karena itu, susu soya formula kerap menjadi pilihan para ibu untuk bayi yang memiliki alergi susu sapi.

Penting untuk diketahui orangtua, mungkin saja sebagian anak memiliki alergi pada protein di dalam susu soya.

Meski kerap menjadi alternatif pilihan, ibu bisa memberikan susu formula terhidrolisa ekstensif.

Selain melengkapi kandungan protein, susu formula terhidrolisa ekstensif juga mengandung ARA (arachidonic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid).

Keduanya merupakan asam lemak yang menunjang daya penglihatan dan visual anak, serta perkembangan memori otak dalam jangka pendek.

Susu kacang mede

Tidak hanya enak dijadikan camilan, kacang mede ternyata juga bisa dijadikan susu.

Cara pembuatannya juga sama dengan susu almond, bisa Anda buat sendiri di rumah atau membeli yang sudah jadi.

Campuran yang biasanya dipakai untuk membuat susu kacang mede adalah kurma, sea salt, dan perisa vanila.

Meskipun kacang mede cenderung rendah lemak, tetapi kacang mede memiliki kandungan vitamin, mineral, dan antioksidan yang tinggi.

Di dalamnya juga terdapat vitamin E, vitamin K, vitamin B6, fosfor, zinc, magnesium, dan zat besi.

Kandungan tersebut membantu menjaga kesehatan jantung, mata, hingga kelancaran peredaran darah juga merupakan fungsi dari kacang mede.

 Satu gelas susu kacang mede dapat memenuhi 15 persen kebutuhan vitamin K, 13 persen, zat besi, dan 25 persen kebutuhan magnesium harian.

Susu almond

Susu almond sering dibuat tanpa menggunakan pemanis tambahan. Kalau diberi pemanis, umumnya memakai pemanis alami seperti madu atau buah kurma. 

Jika dibandingkan dengan susu kedelai, susu almond memiliki jumlah kalori yang lebih rendah, sekitar 90 kalori per gelas nya (240 ml). 

Susu almond juga lebih kaya akan asam lemak tidak jenuh serta kaya akan vitamin E.

Satu porsi susu almond sudah dapat memenuhi kebutuhan vitamin E sebesar 50 persen. 

Tidak hanya vitamin E, kandungan vitamin A dan vitamin D, dan kalsium.

Namun susu almond sebaiknya tidak diberikan untuk anak di bawah usia satu tahun.

Hal yang terpenting adalah selalu konsultasikan ke dokter jika Anda ingin memberikan alternatif selain susu sapi.

Selain itu, ingat bahwa anak yang alergi susu tidak boleh diberikan susu sapi dan segala produk turunannya, seperti mentega dan margarin, keju, yoghurt, es krim, puding, dan lainnya.

Waspadai juga produk-produk yang mengandung kasein, whey, dan laktosa pada kolom bahan bakunya.

Bagi anak yang sudah bisa makan makanan padat, Anda bisa menukar asupan kalsium dari susu sapi dengan makanan sumber kalsium lainnya, seperti bayam, pokcoy, tahu, jeruk, telur, teri, dan sarden.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

Stres saat hamil memang normal. Tetapi jika ibu hamil mengalami stres hingga mengganggu aktivitasnya, dampak stres tersebut bisa memengaruhi janin.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Perkembangan Janin, Kehamilan 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Banyak hal yang menyebabkan kulit bayi sensitif. Ketahui bagaimana cara penanganan agar kulit bayi Anda terjaga. Seperti apa tips perawatan yang tepat?

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Pahami Faktor Penentu Persalinan Caesar sebagai Persiapan Sambut si Kecil

Apakah Ibu sudah menentukan metode persalinan yang akan dilakukan? Simak tentang persalinan normal, alasan di balik keputusan operasi caesar dan prosesnya.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
potret pasangan diskusi tentang persalinan normal dan caesar
Melahirkan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dikenal dengan istilah postpartum preeklampsia. Apa saja gejala dan bahayanya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hipertensi, Kesehatan Jantung 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ibu hamil makan daging kambing

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pekerjaan rumah tangga saat hamil

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
kandungan asi

Mengenal ASI: Jenis, Warna, Kandungan, dan Kebutuhan Harian untuk Bayi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 14 menit
alergi binatang kucing dan anjing

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit