Alergi Susu Sapi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Ada beberapa jenis alergi pada anak, salah satunya alergi susu sapi. Ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh bayi yang bereaksi dengan protein yang ada di dalam susu sapi. Sebagian besar bayi yang mengalami gejala alergi susu, biasanya bisa mengatasi hal tersebut setelah mereka melewati usia 4 tahun, dan hanya sedikit yang alerginya bertahan hingga dewasa.

Apa penyebab anak mengalami alergi susu sapi?

ciri-ciri bayi alergi susu sapi

Alergi susu sapi pada bayi sangat umum terjadi. Hal ini disebabkan oleh sistem imunitas tubuh mengenal protein susu sapi sebagai zat asing di dalam tubuh. Karena itu, tubuh merespon dan melawan protein yang masuk, sama halnya bakteri dan virus.

Susu sapi mengandung kasein (protein) serta beberapa protein lainnya. Karena dikenali sebagai “ancaman”, tubuh mengeluarkan senyawa kimia yang memancing terjadinya gejala alergi. 

Pelepasan senyawa kimia akibat alergi susu sapi ini didasari beberapa sebab berikut.

Reaksi Imunoglobulin E (IgE) mediated

Immunoglubulin E merupakan antibodi yang berperan dalam melawan alergi. Di sini sistem imunitas melakukan pelepasan senyawa histamin, senyawa kimia yang dilepaskan tubuh saat merespon alergi.

Gejala ini berlangsung sekitar 20-30 menit setelah si kecil mengonsumsi protein susu sapi. Namun, gejala bisa muncul lebih dari 2 jam. Melihat ini, orangtua harus segera mengambil solusi untuk mengatasi alergi susu sapi pada bayi.

Reaksi Non-immunoglobulin E-mediated

Sel T atau sel darah putih ditafsir sebagai penyebab dari munculnya gejala alergi. Biasanya gejala muncul secara bertahap, dari 48 jam hingga 1 minggu setelah si Kecil minum susu sapi.

Meskipun penyebabnya berbeda dari yang sebelumnya, mengatasi gejala alergi susu sapi perlu segera dilakukan.

Campuran reaksi Imunoglobulin E dan Non-immunoglobulin E mediated

Adapun bayi yang memiliki gejala alergi susu sapi karena gabungan reaksi Imunoglobulin E dan Non-immunoglobulin E mediated. Bila demikian, mengatasi bayi dengan gejala alergi susu harus cepat dilakukan orangtua.

Bagaimana gejala alergi susu sapi?

gejala akibat alergi susu sapi dan cara mengatasi alergi ini

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala alergi susu sapi terbagi menjadi dua, yakni: anak yang sedang menerima ASI eksklusif dan anak yang mengonsumsi susu formula. Masing-masing memiliki gejala ringan dan berat sama.

Ciri-ciri atau gejala anak bayi mengalami alergi susu sapi yaitu:

Gejala ringan

  • Muntah, diare, konstipasi, darah pada tinja
  • Anemia defisiensi besi
  • Pilek, batuk, kronik
  • Kolik persisten (Lebih dari 3 jam per hari per minggu selama 3 minggu)

Gejala berat

  • Gagal tumbuh karena diare atau regurgitasi, anak tidak mau makan.
  • Anemia defisiensi besi karena darah di tinja

Bila mengalami gejala berat, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak. Bila Anda ragu dengan gejala alergi susu sapi tersebut, maka konsultasi ke dokter adalah jalan terbaik.

Umumnya, alergi akan terjadi hanya sampai anak berusia 4 tahun. Namun jika gejala masih muncul ketika anak sudah lebih dari 4 tahun, mungkin alergi tersebut akan terjadi hingga dia beranjak remaja.

Setelah itu biasanya gejala alergi akan hilang dengan sendirinya. Sangat jarang ditemukan gejala alergi susu sapi pada orang dewasa. 

Walaupun begitu, anak yang dulunya pernah mengalami gejala alergi susu, memiliki risiko mengalami alergi terhadap hal lain, bahkan bisa menyebabkan asma ketika dewasa nanti.

Apakah alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa?

Susu Alternatif Bagi Anak Yang Alergi Susu Sapi

Tidak seperti intoleransi laktosa yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh, gejala alergi susu sapi justru terjadi akibat adanya reaksi sistem kekebalan tubuh anak dengan protein yang terkandung di dalam susu sapi. 

Jenis protein yang paling sering menyebabkan alergi adalah whey dan kasein. Bayi yang mengalami alergi bisa saja alergi terhadap salah satu atau kedua protein tersebut. 

Reaksi yang muncul biasanya terjadi dalam hitungan menit atau jam setelah mengonsumsi susu. Anak bisa saja alergi terhadap susu apapun, karena dalam berbagai susu terdapat protein di dalamnya. Namun yang paling sering terjadi adalah alergi yang disebabkan oleh susu sapi.

Apakah anak saya berisiko memiliki alergi susu sapi?

bayi alergi susu sapi

Beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan risiko kejadian gejala alergi susu sapi pada anak bayi, yaitu:

Alergi terhadap hal lain

Banyak anak-anak yang alergi terhadap susu juga alergi dengan zat atau benda lain. Namun, biasanya alergi susulah yang menyebabkan alergi terhadap zat lain muncul.

Eksim atopik

Eksim atopik adalah kelainan kulit yang kronis atau menahun, berupa gatal-gatal dan kemerahan pada berbagai bagian tubuh. 

Anak yang memiliki dermatitis atopik, berpeluang lebih besar untuk mempunyai alergi terhadap makanan, termasuk susu.

Genetik atau riwayat keluarga

Anak yang memiliki anggota keluarga yang mempunyai riwayat alergi terhadap suatu jenis makanan, berpeluang lebih besar untuk alergi terhadap susu

Usia

Alergi terhadap susu sering terjadi pada anak-anak. Seiring dengan pertumbuhannya, sistem pencernaan anak akan berkembang dan menjadi matang, sehingga pada akhirnya mereka dapat beradaptasi terhadap protein yang ada di dalam susu.

Apakah alergi susu sapi akan menimbulkan komplikasi?

alergi pada anak

Anak yang memiliki alergi terhadap susu, berpeluang untuk mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti:

  • Alergi terhadap jenis makanan lain, seperti telur, kedelai, kacang-kacangan, atau bahkan daging.
  • Hay fever atau alergi terhadap serbuk bunga dan debu, sama seperti alergi-alergi lainnya

Alergi ini terjadi akibat adanya gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh anak.

Cara mencukupi kebutuhan anak yang alergi susu sapi

alergi pada anak

Bagi orangtua yang memiliki anak dengan kondisi alergi susu sapi, ada beberapa cara untuk tetap mencukupi kebutuhan gizi dan nutrisi si kecil. Berikut pilihan susu untuk bayi dan anak yang alergi susu sapi.

Lanjutkan pemberian ASI

Bagi bayi yang masih menyusu, melanjutkan ASI eksklusif merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi nutrisinya. Kandungan protein dalam ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi.

Kualitas protein ASI lebih baik dibandingkan dengan susu sapi karena ASI memiliki jenis asam amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. 

Salah satu contohnya adalah asam amino taurin yang memiliki peran pada perkembangan otak. Asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang.

Hindari segala bentuk produk susu sapi

Anak yang alergi susu tidak boleh diberikan susu sapi dan segala produk turunannya, seperti mentega dan margarin, keju, yogurt, es krim, sereal, cake, biskuit, krakers, bubur susu, pudding, dan custard. 

Waspadai juga produk-produk yang mengandung kasein, whey, dan laktosa pada kolom bahan bakunya.

Bagi anak yang sudah bisa makan makanan padat, Anda bisa menukar asupan kalsium dari susu sapi dengan makanan sumber kalsium lainnya, seperti bayam, pokcoy, tahu, jeruk, telur, teri, dan sarden.

Pilih susu formula hipoalergenik

Jika anak Anda mengonsumsi susu formula atau susu formula campur ASI, pilihlah susu formula yang hipoalergenik. Susu hipoalergenik adalah susu yang mempunyai peptida dengan berat molekul kecil dan tidak menimbulkan reaksi alergi pada anak. 

Susu yang termasuk dalam golongan hipoalergenik adalah susu terhidrolisat ekstensif dan susu formula asam amino.

Susu terhidrolisat ekstensif diberikan pada anak yang menderita alergi susu dengan gejala klinis ringan atau sedang. Susu formula asam amino diberikan pada anak yang menderita alergi susu dengan gejala klinis berat.

Sebagai alternatif lainnya, anak yang menderita alergi susu sapi juga dapat mengonsumsi susu yang mengandung isolat protein kedelai.

Pilih susu kedelai

Susu kedelai untuk anak dengan alergi bisa menjadi alternatif untuk menggantikan asupan susu sapi. Susu soya memiliki kandungan isoflavon yang merupakan phytoestrogen berperan seperti hormon di dalam tubuh. 

Selain itu, menurut American Academy of Pediatrics (AAP), susu soya formula merupakan asam amino yang diformulasikan untuk melengkapi kebutuhan bayi.

Asam amino ini terbentuk dari protein dan bahan lainnya untuk mendukung nutrisi anak. Oleh karena itu, susu soya formula kerap menjadi pilihan para ibu untuk bayi yang memiliki alergi.

Penting untuk diketahui orangtua, mungkin saja sebagian anak memiliki alergi pada protein di dalam susu soya. Meski kerap menjadi alternatif pilihan, ibu bisa memberikan susu formula terhidrolisa ekstensif.

Selain melengkapi kandungan protein, susu formula terhidrolisa ekstensif juga mengandung ARA (arachidonic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid).

Keduanya merupakan asam lemak yang menunjang daya penglihatan dan visual anak, serta perkembangan memori otak dalam jangka pendek.

Susu kacang mede

Tidak hanya enak dijadikan camilan, kacang mede ternyata juga bisa dijadikan susu. Cara pembuatannya juga sama dengan susu almond, bisa Anda buat sendiri di rumah atau membeli yang sudah jadi.

Campuran yang biasanya dipakai untuk membuat susu kacang mede adalah kurma, sea salt, dan perisa vanila. Meskipun kacang mede cenderung rendah lemak, tetapi kacang mede memiliki kandungan vitamin, mineral, dan antioksidan yang tinggi.

Di dalamnya terdapat vitamin E, vitamin K, vitamin B6, fosfor, zinc, magnesium, dan zat besi. Kandungan tersebut membantu menjaga kesehatan jantung, mata, hingga kelancaran peredaran darah juga merupakan fungsi dari kacang mede.

 Satu gelas susu kacang mede dapat memenuhi 15 persen kebutuhan vitamin K, 13 persen, zat besi, dan 25 persen kebutuhan magnesium harian.

Susu almond

Susu almond sering dibuat tanpa menggunakan pemanis tambahan. Kalau diberi pemanis, umumnya memakai pemanis alami seperti madu atau buah kurma. 

Jika dibandingkan dengan susu kedelai, susu almond memiliki jumlah kalori yang lebih rendah, sekitar 90 kalori per gelas nya (240 ml). 

Susu almond juga lebih kaya akan asam lemak tidak jenuh serta kaya akan vitamin E. Satu porsi susu almond sudah dapat memenuhi kebutuhan vitamin E sebesar 50 persen. 

Tidak hanya vitamin E, kandungan vitamin A dan vitamin D, dan kalsium. Namun susu almond sebaiknya tidak digunakan untuk anak di bawah usia satu tahun. Konsultasikan ke dokter apakah anak yang alergi susu sapi bisa diberikan susu almond.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Alergi Lateks, Termasuk Karet Gelang dan Kondom

Orang yang mengidap alergi lateks bisa mengalami mulai dari gatal-gatal hingga sesak napas setiap terpapar bahan karet lateks. Bagaimana cara mencegahnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

Kulit mendadak memerah, hidung meler, dan bersin-bersin di ruangan ber-AC? Ini mungkin pertanda gejala alergi dingin. Simak ciri-ciri alergi dingin lainnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Alergi Softlens: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Pakai lensa kontak kadang membuat mata merah dan berair, terlebih bagi yang punya alergi. Cari tahu lebih jauh tentang alergi softlens di sini!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Alergi Hidung dan Mata 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Kapan Boleh Mencoba Hamil Lagi Setelah Keguguran?

Mungkin Anda bingung harus kapan memulai lagi untuk mencoba hamil lagi setelah keguguran. Namun, itu semua tergantung pada kondisi Anda.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 16 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

minum antidepresan saat hamil

Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
korset perut setelah melahirkan

Perlukah Memakai Korset Perut Setelah Melahirkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit
alergi obat antibiotik

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Alergi Sperma

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit