Sebaiknya Kapan Anak Perlu Melakukan Pemeriksaan Feses?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 21 Juni 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Adanya masalah pada sistem pencernaan anak kadang tidak bisa dideteksi secara kasat mata. Dibutuhkan berbagai pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatan tubuh anak, salah satunya melalui pemeriksaan feses. Sama seperti jenis pemeriksaan kesehatan lainnya, tes feses juga dianjurkan untuk dilakukan di waktu tertentu ketika memang dibutuhkan. Lantas, sebaiknya kapan si kecil perlu menjalani tes feses?

Apa itu pemeriksaan feses?

enkopresis anak BAB di celana

Pemeriksaan feses adalah sebuah tes yang menjadikan feses sebagai sampel utama guna memudahkan diagnosis jika ada masalah pada pencernaan. Meski sering dianggap sebagai kotoran yang perlu dibuang, tapi feses sebenarnya bisa memberikan informasi penting mengenai kondisi kesehatan tubuh.

Entah itu menyerang usus, lambung, dubur, maupun bagian lainnya dari sistem pencernaan. Normalnya, feses yang keluar dari tubuh tidak disertai dengan darah.

Namun jika ini terjadi, tandanya ada yang salah dengan sistem pencernaan anak. Itulah mengapa pemeriksaan feses dibutuhkan pada anak, khususnya untuk mendiagnosis gangguan pada sistem pencernaan.

Pasalnya, serangan virus, bakteri, serta parasit yang masuk ke dalam tubuh bisa berkembang sehingga membahayakan kesehatan anak. Bukan tidak mungkin, anak bisa sampai mengalami diare yang disertai dengan munculnya darah pada feses.

Kapan waktu terbaik anak melakukan pemeriksaan feses?

sindrom Angelman syndrome

Dokter biasanya baru akan menganjurkan anak untuk melakukan pemeriksaan feses ketika kotoran alami tubuh anak ini mengandung darah. Atau ketika anak mengalami diare parah yang telah berlangsung cukup lama dan tidak kunjung selesai.

Akan tetapi, waktu pasti anak dalam melakukan pemeriksaan ini tidak bisa ditentukan begitu saja. Dokterlah yang akan menyarankan waktu pemeriksaan terbaik sesuai dengan kondisi kesehatan yang sedang dialami anak.

Selanjutnya, pemeriksaan feses ini akan membantu menilai apakah jenis bakteri, virus, maupun parasit tersebut dapat menginfeksi saluran pencernaan, khususnya usus.

Sebenarnya ada banyak organisme mikroskopis seperti bakteri baik, yang hidup di dalam usus guna melancarkan proses pencernaan makanan. Akan tetapi, lain lagi ceritanya jika usus ternyata teinfeksi bakteri, virus, atau parasit berbahaya.

Kondisi tersebut tentu bisa mengakibatkan munculnya masalah kesehatan yang tidak sepele. Atas dasar inilah, pemeriksaan feses pada anak penting untuk dilakukan. Berbagai masalah kesehatan yang bisa dideteksi melalui pemeriksaan feses, meliputi:

  • Alergi atau peradangan di dalam tubuh, misalnya ketika anak mengalami alergi susu sapi.
  • Infeksi saluran pencernaan akibat serangan bakteri, virus, maupun parasit.
  • Gangguan pencernaan karena kesulitan dalam mencerna gula, lemak, atau zat gizi tertentu lainnya.
  • Muncul darah pada saluran pencernaan akibat ulkus atau masalah lainnya

Selain menganilisis darah, sampel feses juga memeriksa kandungan di dalamnya, contohnya kandungan lemak. Seharusnya, lemak dicerna sepenuhnya di dalam usus sehingga feses yang keluar dari tubuh tidak akan mengandung lemak.

Namun pada beberapa kondisi tertentu, lemak sulit diserap secara sempurna. Pada akhirnya, feses yang keluar masih memiliki kandungan lemak di dalamnya. Hasil pemeriksaan feses ini yang kemudian dipakai dokter untuk membantu diagnosis mengenai suatu penyakit.

Dalam beberapa kasus, pemeriksaan feses ini juga bisa disertai dengan tes kesehatan lainnya guna memastikan kondisi kesehatan anak.

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan feses anak?

pemeriksaan laboratorium demam berdarah

Tes feses dilakukan dengan memasang bungkus plastik longgar di bagian tepi kloset atau tepatnya di bawah. Jadi saat anak buang air besar, feses bisa langsung tertampung di dalam plastik tersebut. Gunakan sarung tangan untuk mengambil plastik, kemudian segel sampai rapat.

Petugas kesehatan akan meneliti sampel feses tersebut di laboratorium, dan hasilnya akan keluar selama kurang lebih 3-4 hari. Beberapa hal yang dinilai dalam pemeriksaan feses anak seperti:

Memeriksa darah pada feses

Munculnya tinja pada feses biasanya disebabkan oleh diare atau perdarahan pada saluran pencernaan. Namun dalam kasus yang tidak terlalu berbahaya, darah juga bisa dikarenakan tekanan kuat saat mengejan sehingga membuat anus terluka.

Tes untuk menguji darah pada feses ini disebtu fecal occult blood test (FOBT).

Memeriksa jenis bakteri penyebab penyakit

Sampel feses di laboratorium bisa dibuat kultur guna mendeteksi adanya pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Proses ini dilakukan selama kurang lebih 48-72 jam, dengan meletakkan sampel feses tersebut ke dalam inkubator.

Jika hasilnya negatif, tandanya tidak ada bakteri jahat yang tumbuh pada feses. Dengan kata lain, tubuh anak bebas dari penyakit akibat bakteri.

Memeriksa jenis parasit

Jika anak mengalami gejala penyakit usus maupun diare yang tidak kunjung selesai, pemeriksaan feses akan membantu mendeteksi adanya telur maupun parasit yang sudah berkembang.

Ketika hasilnya positif, berarti memang ada infeksi parasit yang mendiami tubuh anak.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

BAB Berdarah pada Anak: Ketahui Penyebab, Cara Mengatasi, dan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter

BAB berdarah pada anak sebagian besar dikarenakan feses terlalu padat sehingga melukai rektum atau anus. Apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi hal ini?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
bab berdarah pada anak
Gangguan Pencernaan pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 14 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Bahaya Makan Kotoran Manusia Terhadap Kesehatan Tubuh

Ada puluhan siswa dipaksa makan kotoran manusia oleh seniornya. Tindakan itu bisa mengganggu kesehatannya. Apa saja bahaya makan kotoran manusia?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan, Informasi Kesehatan 27 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit

Idealnya, Berapa Kali Balita Buang Air Besar dalam Seminggu?

Tidak sedikit orangtua yang khawatir saat balitanya sering atau jarang BAB. Adakah patokan angka normal untuk balita buang air besar dalam sehari?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan Anak, Parenting 11 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Aspirasi Mekonium, Ketika Bayi Keracunan Air Ketuban yang Terkontaminasi Feses

Feses pertama bayi (mekonium) bisa tercampur bersama air ketuban sehingga bayi keracunan. Kondisi ini dinamakan aspirasi mekonium. Apa akibatnya pada bayi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Melahirkan, Kehamilan 16 Agustus 2019 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

medical checkup

Perlukah Melakukan Medical Check Up secara Rutin?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
EEG (electroencephalography) adalah

Info Lengkap Pemeriksaan EEG (Elektroensefalografi) yang Perlu Anda Tahu

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 20 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit
puasa sebelum periksa kesehatan

Kenapa Perlu Melakukan Puasa Sebelum Periksa Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 24 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
toilet training

Apakah Normal Jika BAB Anak Usia 2 Tahun Berwarna Hijau?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 2 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit