Kata Penelitian, Sejak Usia 2-6 Tahun Anak Berisiko Obesitas Bahkan Hingga Dewasa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Banyak yang berpikiran kalau anak gemuk itu lucu. Ya, kebanyakan orangtua menganggap kegemukan itu tidak masalah jika terjadi pada anak-anak, toh nanti akan berubah saat tumbuh dewasa. Padahal pandangan seperti itu salah besar, lho. Kondisi gizi anak saat ini menentukan seperti apa status gizinya ketika dewasa. Bahkan obesitas anak bisa terjadi sejak kecil.

Obesitas pada anak sudah muncul sejak usia dini

Kebanyakan orang biasanya mengira kalau berat badan di usia anak-anak tidak akan berpengaruh pada ukuran tubuhnya saat dewasa kelak. Karena toh, ukuran tubuh masih dapat berubah seiring berjalannya waktu. Entah itu dari gemuk ke kurus, kurus ke gemuk, bahkan gemuk ke obesitas.

Faktanya, sebuah penelitian yang dimuat dalam New England Journal of Medicine, menemukan bahwa mayoritas kelompok status gizi anak-anak di usia 5 tahun, misalnya tergolong kurus, normal, atau gemuk, akan tetap bertahan di kelompok status gizi tersebut hingga usianya menginjak 15-18 tahun.

Artinya, anak dengan berat badan tergolong obesitas akan tetap memiliki tubuh obesitas sampai usia 15-18 tahun. Begitu pula dengan tubuh kurus, normal, dan gemuk. Menariknya, Antje Körner, MD, dari University of Leipzig, Jerman, serta para rekannya yang meneliti mengenai obesitas anak ini mendapatkan “patokan” utamanya.

Rentang usia 2-6 tahun tampaknya menjadi periode penting, di mana sekitar 50 persen anak yang memiliki berat badan lebih ternyata mampu mencapai berat badan normalnya ketika remaja. Sedangkan sekitar 90 persen anak-anak di usia yang sama dengan berat badan obesitas, masih bertahan dengan “cap” tubuh obesitas sampai remaja nantinya.

Kenapa obesitas anak bisa terjadi?

penyebab obesitas pada anak

Menurut para peneliti, obesitas anak yang dialami di masa remaja sebenarnya merupakan “bibit” yang berkembang sejak anak masih berusia 2-6 tahun. Bibit tersebut akan terus mengikuti seiring pertumbuhan anak sampai memasuki usia remaja.

Usut punya usut, berat saat lahir merupakan salah satu faktor risiko obesitas anak yang akan terus berkembang sampai masa remaja, bahkan dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan anak-anak di usia yang sama dengan berat badan rendah atau stabil, yang jarang mengalami obesitas ketika remaja.

Dalam penelitian ini, kurang lebih 44 persen anak yang lahir dengan berat badan besar cenderung mengalami kelebihan berat badan atau obesitas saat remaja.

Di sisi lain, faktor genetik dari berat badan ibu dan ayah serta pola makan anak yang kurang teratur, turut menjadi penyebab obesitas pada anak yang paling umum.

Ayo, terapkan cara ini untuk mencegah obesitas anak!

Antje Körner, sebagai salah seorang peneliti, menyarankan para orangtua untuk melakukan pencegahan yang tepat agar berat badan anak tidak melonjak naik drastis seiring bertambahnya usia.

Dilansir dari laman Healthline, berikut ini beberapa langkah yang bisa dicoba sedini mungkin untuk mencegah obesitas pada anak:

  • Memberikan ASI Eksklusif, dinilai dapat membantu keseimbangan persediaan energi sekaligus penyimpanan lemak dalam tubuh bayi.
  • Kenalkan anak dengan beragam nutrisi penting nan sehat bagi tubuh sejak kecil.
  • Ajarkan anak untuk mengatur porsi camilan dan makanan harian sesuai aturan, supaya tidak terlalu banyak ataupun sedikit.
  • Batasi makan fast food jika anak menyukainya.
  • Perhatikan apa saja makanan yang dimakan anak di luar rumah.
  • Ajak anak dan anggota keluarga lainnya untuk rutin berolahraga, setidaknya sekali dalam seminggu.

Intinya, terapkan pola hidup sehat untuk seluruh anggota keluarga Anda, bukan hanya pada anak saja. Dengan begitu, anak pun akan lebih bersemangat untuk mulai menjalani pola hidup sehatnya.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Congestive Heart Failure (CHF)

Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah kondisi jantung tidak mampu memompa darah. Apa penyebab, gejala, dan cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Diabetes Gestasional, Kondisi Saat Gula Darah Naik di Masa Kehamilan

Diabetes gestasional adalah diabetes yang terjadi pada ibu hamil. Cari tahu gejala, penyebab, pengobatan, serta cara mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 28 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit

Dari Mana Lemak Dagu Berasal? Bisakah Dihilangkan?

Jika Anda berkaca, mungkin Anda melihat dagu Anda yang berlipat. Lipatan itu diakibatkan oleh lemak dagu. Sebenarnya, dari mana lemak dagu berasal?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan, Informasi Kesehatan 22 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Fatty Liver (Perlemakan Hati)

Fatty liver (perlemakan hati) adalah penumpukan lemak yang berlebihan serta infeksi pada hati. Apa saja pilihan pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 22 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menghilangkan hitam di leher

Leher Hitam? Atasi dengan Cara Mudah Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
kaki lemas

Kaki Terasa Lemas Tiba-Tiba? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

5 Gangguan Kesehatan Akibat Duduk Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
klaudikasio adalah

Klaudikasio

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit