Menangani Nyeri Otot pada Anak

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Sebagai orangtua, wajar apabila Anda selalu mencoba untuk melindungi anak dari cedera dan rasa sakit. Namun kenyataannya, seberapa keras pun Anda mencoba, anak masih berisiko jatuh dan terluka. Yang terpenting, ajarkan anak cara untuk bangkit kembali dengan belajar menangani rasa sakitnya. Kemungkinan besar rasa sakit ini disebabkan oleh nyeri otot. Melalui artikel ini, kami akan memaparkan beberapa tips yang dapat Anda lakukan ketika anak cedera dan kesakitan.

Ketika anak datang dan mengeluh sakit, Anda harus memeriksa nyeri tersebut untuk mengetahui pengobatan yang tepat. Beberapa anak-anak mungkin belum bisa mengekspresikan rasa sakit melalui verbal. Anda harus cermat dalam melihat perubahan perilaku mereka, seperti mengerutkan kening atau menggertakkan gigi. Beberapa anak mungkin meringkuk atau menolak untuk makan. Jika Anda menemui tanda-tanda seperti ini, anak mungkin sedang merasa kesakitan.

Anda dapat meminta mereka untuk menilai rasa sakit mereka sendiri dari skala 1 sampai 10. Langkah ini dapat memberi tahu Anda mengenai tingkat rasa sakit anak beserta penanganannya. Hal pertama yang dapat Anda lakukan adalah mengidentifikasi sumber rasa sakit. Hal ini mungkin sulit dilakukan jika anak masih belum lancar berkomunikasi. Carilah tanda-tanda atau gejala lain yang berhubungan dengan nyeri otot, seperti demam, cedera, atau perubahan aktivitas atau perilaku anak. Dengan mengetahui penyebabnya, Anda dapat mengobati nyeri otot dengan menangani penyebabnya terlebih dahulu.

Untuk mengobati rasa sakit pada anak, Anda dapat menggunakan metode tanpa obat seperti berikut:

  • Mengalihkan perhatian anak. Perhatian anak-anak biasanya mudah dialihkan. Putar acara tv atau video favorit mereka untuk membantu mereka melupakan rasa sakit. Anda juga dapat mencoba membacakan buku atau memberi mainan kesukaannya. Langkah ini biasanya berhasil untuk kasus nyeri ringan.
  • Kompresan dingin. Ketika anak mengalami nyeri otot, Anda dapat memberinya kompresan dingin atau balutan handuk yang berisi es batu. Untuk memastikan anak tidak memiliki radang dingin, batasi setiap sesi sekitar 20 menit sehari, sebanyak yang diperlukan.
  • Kompresan hangat. Setelah nyeri dan kejang otot berkurang, Anda dapat menempelkan kompresan hangat untuk melancarkan aliran darah dan mempercepat proses penyembuhan.
  • Peregangan otot. Lakukan latihan peregangan otot ringan untuk mencegah kram datang kembali. Latihan ini juga berguna untuk melatih otot anak yang jarang digunakan.
  • Pijatan. Pijatan dapat melancarkan aliran darah, meringankan rasa sakit, serta melemaskan otot yang tegang.
  • Neck collar atau back brace. Alat-alat ini dapat menyangga dan memungkinkan otot untuk santai.

Ketika metode non-obat tidak berhasil, Anda dapat mencoba beberapa obat untuk meringankan rasa sakit. Dokter atau apoteker dapat merekomendasikan parasetamol (Tylenol ® atau Panadol®) atau ibuprofen (Advil® atau Motrion®).

Tetaplah pantau kondisi anak setelah perawatan. Segera hubungi dokter jika nyeri semakin memburuk sementara obat serta penanganan secara fisik dan psikologis tidak membantu mengurangi rasa sakit.

Konsultasikan dengan dokter mengenai kekhawatiran Anda terhadap kondisi anak. Untuk kasus yang lebih serius, segera bawa anak ke fasilitas medis darurat terdekat. Tim medis dapat memberikan perawatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak Anda.

 

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Nyeri Kronis

    Nyeri kronis adalah jenis penyakit yang menyebabkan kerusakan jaringan yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga menahun. Simak Info Selengkapnya Hanya di Hello Sehat

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 29 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

    Polymyositis

    Polymyositis merupakan penyakit yang membuat penderitanya mengalami kelemahan otot. Gejala awalnya, yaitu merasa lemas ketika naik tangga. Apa penyebabnya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

    Hip Labrar Tear

    Hip labrar tear merupakan kerusakan akibat robekan pada tulang rawan dan jaringan di soket pinggul. Ini gejala dan cara pengobatannya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 8 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

    Kista Ganglion

    Ganglion adalah kista yang umumnya terbentuk pada tendon dan persendian yang umum timbul di tangan. Berikut informasi lengkap tentang ganglion.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    obat nyeri tulang

    Pilihan Obat yang Digunakan untuk Meredakan Nyeri Tulang

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 5 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
    Pseudogout

    Pseudogout

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    babesiosis adalah

    Babesiosis

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    virus rubella penyakit campak jerman

    Rubella (Campak Jerman)

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin
    Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit