Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Terapi Applied Behaviour Analysis (ABA) untuk Bantu Anak Autisme

    Terapi Applied Behaviour Analysis (ABA) untuk Bantu Anak Autisme

    Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, bersosialisasi, berperilaku, dan belajar. Ini merupakan gangguan yang muncul sejak masa kanak-kanak dan berlangsung sepanjang hidupnya. Meski permanen, sudah ada banyak terapi yang dapat digunakan untuk membantu anak dengan autisme. Salah satu terapi untuk autisme adalah ABA (Applied Behaviour Analysis).

    Apa itu terapi ABA?

    permainan imajinasi anak

    Terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) adalah program terapi dengan pendekatan untuk memahami dan mengubah perilaku seseorang.

    Program ini terstruktur serta terdiri dari serangkaian strategi dan teknik yang digunakan untuk mengajarkan keterampilan baru serta mengurangi perilaku yang tidak sesuai.

    Umumnya, metode ABA bermanfaat untuk penderita autisme atau yang memiliki gangguan perkembangan terkait.

    Melalui terapi ini, anak dengan autisme diharapkan dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

    Lebih rinci, berikut adalah beberapa tujuan dari terapi atau metode ABA untuk anak autis atau dengan gangguan perkembangan terkait.

    • Meningkatkan keterampilan perawatan diri.
    • Mengembangkan keterampilan bermain dan sosial.
    • Meningkatkan kemampuan anak untuk mengelola perilaku mereka sendiri.
    • Meningkatkan kemampuan bahasa anak dan komunikasinya.
    • Mengembangkan perhatian, fokus, memori, dan akademik.
    • Mengurangi perilaku bermasalah, seperti kurangnya perhatian, agresi, dan anak yang sering berteriak.


    Pusing setelah jadi orang tua?

    Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


    Prinsip yang diterapkan dalam terapi ABA

    membesarkan anak berkebutuhan khusus

    Terapi ABA itu sendiri berangkat dari teori pembelajaran yang berasal dari bidang psikologi perilaku.

    Terapi ini diterapkan pada anak-anak autis dan gangguan perkembangan terkait sejak tahun 1960-an.

    Gagasan utama dalam terapi ini bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh peristiwa atau rangsangan di lingkungan.

    Selain itu, perilaku yang diikuti oleh konsekuensi positif lebih mungkin untuk dilakukan kembali.

    Raising Children Network menyebutkan bahwa ABA menggunakan gagasan tersebut untuk membantu anak-anak autis dalam mempelajari perilaku yang baru dan tepat.

    Ini dilakukan dengan memberi anak konsekuensi positif untuk perilaku yang sesuai, bukan perilaku bermasalah.

    Misalnya, jika seorang anak menunjuk boneka yang mereka inginkan, orangtua anak tersebut mungkin akan menindaklanjutinya dengan konsekuensi positif, seperti memberikan boneka tersebut kepada anak.

    Pemberian konsekuensi positif seperti ini diyakini dapat membuat anak lebih mungkin mengulang perilaku yang bermanfaat dan mengurangi perilaku yang berbahaya, merugikan, atau memengaruhi pembelajaran di masa depan.

    Selama terapi ABA berjalan, terapis akan mengajarkan anak autisme untuk:

    • memahami dan mengikuti instruksi verbal,
    • merespons perkataan orang lain,
    • mendeskripsikan sebuah benda,
    • meniru ucapan dan gerakan orang lain, hingga
    • mengajarkan anak baca tulis.

    Bagaimana cara kerja terapi ABA?

    kisah terapi anak autisme

    Pada awalnya, terapis pada metode ABA akan mengamati anak untuk melihat sejauh mana kemampuan dan kesulitan yang anak Anda miliki.

    Selanjutnya, ia akan menentukan tujuan spesifik dari terapi ini.

    Misalnya, tujuan spesifik terapi ABA anak Anda adalah agar bisa menatap mata orang yang mengajaknya bicara.

    Saat menentukan tujuan, terapis juga akan menentukan ukuran objektifnya, seperti seberapa banyak jumlah tatapan mata anak dalam 10 menit saat mengobrol.

    Untuk mencapai tujuan ini, terapis akan merancang rencana teknis serinci mungkin terkait aktivitas anak selama terapi.

    Sebagai contoh, untuk membuat anak sukses membangun kontak mata, terapis akan melakukan hal berikut.

    • Duduk berhadapan sejajar dengan anak, bersama dengan asisten terapis yang biasanya ada di belakang anak.
    • Sepanjang terapi, terapis memanggil nama anak sambil memegang benda yang menarik sebagai pancingan. Benda itu akan terapis pegang sejajar dengan matanya, untuk memancing anak agar ia melihat ke arah mata terapis.
    • Terapis akan memanggil nama anak berulang kali sambil mengatakan kalimat perintah sederhana. Contohnya, “Mira, lihat” sambil tangannya mengarahkan ke arah benda yang menjadi pancingan.
    • Setiap respon tidak sesuai yang anak lakukan, terapis akan merespons dengan menjawab “tidak” atau “Mira, tidak”.
    • Jika anak sudah bisa membangun kontak mata, terapis akan memberikan pujian pada anak, seperti “Mira pintar sekali”. Terapis akan mengulang berbagai pujian ketika anak berhasil melakukan apa yang menjadi target.

    Tatapan mata anak yang terapis lihat dalam 10 menit akan menjadi tolak ukur. Hal ini dapat menentukan sejauh mana tujuan spesifik tersebut telah tercapai.

    Berlanjut ke tujuan lain

    Jika anak sudah berhasil membangun kontak mata, terapis akan melanjutkan terapi ABA dengan tujuan lainnya yang anak Anda butuhkan.

    Misalnya, tujuan lain tersebut, yaitu untuk membuat si anak membalas dengan “ya” ketika namanya dipanggil atau melatih kemampuan motorik anak dalam menangkap bola atau minum dengan gelas.

    Dalam metode ABA ini, semakin banyak yang perlu anak pelajari, maka akan semakin kompleks tugas yang terapis berikan untuk anak.

    Adapun dari hal-hal kecil ini nantinya akan terkumpul perilaku yang utuh.

    Nantinya, semakin banyak kemampuan baru yang anak pelajari, maka akan semakin lengkap kemampuannya untuk berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

    Di akhir sesi terapi, biasanya terapis anak Anda akan mengevaluasi kelancaran program tersebut dan membuat perubahan jika dibutuhkan.

    Siapa yang berhak memberikan terapi autisme ABA?

    kisah merawat anak autisme

    Terapi autisme ABA bukanlah program sembarangan.

    Program ini harus dilakukan oleh orang yang memang sudah bersertifikasi sebagai terapis perilaku dan memiliki pengalaman luas bekerja sama dengan anak pengidap autisme.

    Guru, orangtua, dan tenaga profesional kesehatan lainnya juga sebenarnya dapat melakukan pengajaran langsung terhadap anak dengan autisme ini.

    Namun, mereka perlu mendapat pelatihan terlebih dahulu dari orang yang sudah terlatih.

    Adapun untuk mendapat informasi mengenai terapi dengan metode ABA ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter anak Anda.

    Diskusikan pula apakah anak Anda memerlukan terapi ini atau justru terapi untuk anak autis lainnya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Applied Behavior Analysis (ABA) | Autism Speaks. Autism Speaks. (2021). Retrieved 29 September 2021, from https://www.autismspeaks.org/applied-behavior-analysis

    Parent’s Guide to Applied Behavior Analysis for Autism. Autismspeaks.org. (2021). Retrieved 29 September 2021, from https://www.autismspeaks.org/sites/default/files/2018-08/Applied%20Behavior%20Analysis%20Guide.pdf

    Applied Behavior Analysis (ABA). The Australian Parenting. (2021). Retrieved 29 September 2021, from  http://raisingchildren.net.au/articles/applied_behaviour_analysis_th.html

    What Is Autism? | Autism Speaks. Autism Speaks. (2021). Retrieved 29 September 2021, from https://www.autismspeaks.org/what-autism

    Autism spectrum disorder – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2021). Retrieved 29 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autism-spectrum-disorder/symptoms-causes/syc-20352928

    Metode ABA Dasar Seri II. Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Retrieved 29 September 2021, from https://www.youtube.com/watch?v=TqnT5h96-M8.

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui Oct 07, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
    Next article: