home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Tunagrahita pada Anak

Apa itu kondisi tunagrahita pada anak?|Apa ciri-ciri anak dengan kondisi tunagrahita?|Apa saja penyebab tunagrahita pada anak?|Bagaimana mendiagnosis tunagrahita?|Bagaimana menangani tunagrahita pada anak?
Tunagrahita pada Anak

Tunagrahita (disabilitas intelektual) adalah kondisi di mana anak memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Bahkan, bagi kebanyakan anak tidak diketahui apa penyebabnya.

Apa itu kondisi tunagrahita pada anak?

Apabila Anda masih asing dengan istilah ini, tunagrahita berasal dari kata intellectual disability.

Kondisi ini tidak lagi diartikan sebagai keterbelakangan mental. Maka dari itu, kini disebut sebagai disabilitas intelektual.

Menurut American Academy of Pediatrics, ungkapan keterbelakangan mental dinilai kurang pas, menyinggung, dan tidak mewakili maksud tunagrahita.

Dikutip dari Centers for Disease Control & Prevention, tunagrahita adalah istilah yang digunakan ketika anak mengalami keterbatasan intelektual maupun adaptif.

Maka dari itu, hal ini bisa memengaruhi perkembangan anak serta kehidupan sehari-harinya.

Anak yang mengalami tungarahita umumnya punya kesulitan fungsi intelektual. Sebagai contoh, sulit berkomunikasi, belajar, hingga memecahkan masalah.

Sedangkan pada fungsi adaptif, anak mengalami kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari. Baik dalam komunikasi hingga sulit melakukan sesuatu secara mandiri.

Kondisi ini bisa terjadi dalam tingkat yang ringan atau lebih parah.

Seberapa umum kondisi ini pada anak?

Kondisi ini diklaim memengaruhi satu persen dari populasi. Apalagi, disabilitas intelektual atau tunagrahita dapat terjadi kapan saja.

Bisa dimulai saat anak berada dalam kandungan atau sebelum mencapai usia 18 tahun.

Tidak hanya itu saja, kebanyakan anak laki-laki didiagnosis mengalami tunagrahita dibandingkan dengan anak perempuan.

Orangtua juga perlu mengetahui bahwa anak yang mengalami tunagrahita juga memiliki kemungkinan mengalami autisme.

Akan tetapi, presentase autisme masih lebih tinggi dibandingkan disabilitas intelektual.

Apa ciri-ciri anak dengan kondisi tunagrahita?

Kondisi anak berkebutuhan khusus ini mempunyai beberapa ciri-ciri atau tanda yang bisa diamati.

Ciri-ciri umum anak memiliki disabilitas intelektual atau tunagrahita adalah cara belajar dan kemampuan berkembangnya lebih lambat daripada anak-anak lain.

Anak dengan disabilitas intelektual biasanya akan kesulitan belajar dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Semakin parah, maka orangtua diharapkan bisa mengetahui dengan cepat tanda-tandanya.

Beberapa ciri-ciri yang bisa tampak dari anak dengan kondisi tuna grahita antara lain:

  • Duduk, merangkak, atau berjalan lebih lambat dari anak-anak lain seusianya
  • Mengalami kesulitan berbicara
  • Memiliki kesulitan memahami aturan sosial
  • Memiliki kesulitan dalam mengendalikan sikap atau gerakannya
  • Sulit memecahkan masalah
  • Sulit berpikir secara logis

Sebagai contoh, anak usia 10 tahun dengan kondisi tunagrahita biasanya belum dapat berbicara atau menulis.

Padahal, pada usia tersebut seharusnya anak sudah mampu menulis dan berbicara dengan lancar.

Anak dengan kondisi ini umumnya juga lebih lambat untuk belajar keterampilan lainnya.

Seperti sulit untuk berpakaian sendiri atau belum memahami bagaimana sebaiknya bereaksi ketika melakukan interaksi dengan orang lain.

Meskipun sering ditandai dengan kondisi perkembangan belajar yang lambat, bukan berarti anak dengan tunagrahita tidak bisa belajar.

Ciri-ciri anak dengan tunagrahita adalah tetap bisa belajar, akan tetapi dengan kecepatan dan cara yang berbeda.

Beberapa orang dengan autisme, down syndrome, ataupun celebral palsy juga banyak yang berpestasi layaknya anak lain.

Apa saja penyebab tunagrahita pada anak?

Disabilitas intelektual atau tunagrahita ini umumnya disebabkan adanya cedera, penyakit, atau masalah lainnya di otak anak.

Meskipun begitu, kebanyakan anak dengan kondisi ini juga tidak diketahui apa penyebabnya.

Berikut beberapa penyebab yang paling umum terjadinya tunagrahita pada anak, seperti:

1. Cedera kepala

Cedera kepala yang serius pada bayi atau anak dapat menyebabkan disabilitas intelektual. Hal ini menyebabkan otak tidak dapat berkembang secara normal.

Kondisi ini dapat terjadi sejak di dalam kandungan, selama kelahiran, atau bahkan setelah bayi lahir. Beberapa kerusakan bersifat sementara, tetapi bisa juga permanen.

Itulah sebabnya sangat penting untuk memakaikan helm, sabuk pengaman, dan menjaga bagian lain pada anak untuk mengindari cedera kepala.

2. Kondisi genetik

Terkadang, disabilitas intelektual bisa disebabkan oleh gen abnormal yang diturunkan orangtua atau terjadi kesalahan ketika gen bergabung.

Jadi, bayi mungkin menerima gen abnormal atau gen mungkin berubah saat bayi berkembang di dalam kandungan.

Beberapa kondisi genetik yang mungkin dialami adalah:

3. Komplikasi saat kehamilan dan persalinan

Tunagrahita juga bisa terjadi pada bayi karena Ibu mengalami komplikasi saat kehamilan. Maka dari itu, tidak adanya perkembangan pada bayi saat masih di dalam tubuh.

Hal ini bisa diakibatkan ketika Anda mengonsumsi alkohol atau terkena infeksi penyakit seperti rubella selama kehamilan.

Sedangkan saat Anda mengalami komplikasi saat persalinan, anak bisa mengalami tunagrahita karena lahir secara prematur atau tidak mendapatkan cukup oksigen.

4. Penyakit atau paparan racun

Ada beberapa penyakit yang bisa meningkatkan peluang anak mengalami tunagrahita. Sebagai contoh adalah batuk rejan, campak, hingga meningitis.

Termasuk ketika anak mengalami kekurangan gizi yang parah dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Hal lainnya yang perlu diketahui orangtua bahwa tunagrahita atau disabilitas intelektual bukanlah penyakit menular. Maka dari itu, anak tidak bisa tertular dari anak lainnya.

Lalu, kondisi ini juga bukan jenis penyakit mental seperti depresi pada anak.

Jika memang tampak suatu keanehan, dokter dan tenaga medis lainnya dapat memberikan rekomendasi pada keluarga Anda perihal jenis bantuan yang dibutuhkan anak.

Bagaimana mendiagnosis tunagrahita?

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi tunagrahita pada anak.

Dokter nantinya akan mendiagnosis masalah disabilitas intelektual pada anak ini dengan mengukur seberapa jauh kemampuan orang tersebut dalam berpikir dan memecahkan masalah.

1. Tes kecerdasan intelektual (IQ)

Seorang anak dikatakan mengalami tunagrahita apabila ia memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang sangat rendah.

Itu sebabnya tes IQ digunakan sebagai salah satu cara mendiagnosis penyakit ini.

Tes IQ ini nantinya bertujuan untuk mengukur kemampuan belajar dan memecahkan masalah seorang anak. Umumnya, nilai IQ normal adalah sekitar 100.

Anak-anak dengan kondisi disabilitas intelektual umumnya memiliki skor IQ rendah, yaitu di bawah 50 dan memiliki nilai tertingginya di angka 75.

Biasanya, anak-anak tidak dapat menjalankan tes kecerdasan (Intelligence Quotient Test atau tes IQ) sampai mereka berusia 4 hingga 6 tahun.

Oleh karena itu, orangtua mungkin harus menunggu hingga anak mencapai usia tersebut sebelum mengetahui dengan pasti apakah anak mengalami tunagrahita atau tidak.

2. Tes adaptif

Setelah melakukan tes IQ, dokter dan evaluator juga akan melihat bagaimana perkembangan serta apa saja yang sudah bisa dilakukan anak sesuai dengan usianya.

Ada tiga bidang yang akan dinilai dalam fungsi adaptif anak, seperti:

  • Konseptual (Bahasa, membaca, menulis, menghitung, penalaran, pengetahuan, dan memori)
  • Sosial (Empati, komunikasi, kemampuan mengikuti aturan, serta menjalin pertemanan)
  • Praktikal (Tanggung jawab pekerjaan, mengelola uang, mengatur tugas, merawat barang)

Bagaimana menangani tunagrahita pada anak?

Dikutip dari Healthy Children, hingga kini belum ada obat yang bisa menyembuhkan kondisi tunagrahita atau disabilitas intelektual pada anak.

Namun, kebanyakan anak dapat melewatinya dengan terus melatih diri juga belajar. Tentunya, hal ini perlu dukungan dari orangtua agar ia bisa melakukan banyak hal.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua untuk menangani anak dengan tunagrahita:

  • Mempelajari semua hal mengenai disabilitas intelektual
  • Berkomunikasi dengan orangtua lainnya yang juga mengalaminya
  • Bersabar karena anak butuh lebih banyak waktu belajar
  • Mengajari anak mengenai kemandirian dan tanggung jawab

Sekolah khusus untuk anak dengan disabilitas intelektual

Anak dengan kondisi ini, butuh bantuan selama di sekolah khusus. Beberapa anak dengan disabilitas intelektual mungkin akan membutuhkan orang lain untuk menemaninya di sekolah.

Selain itu, ada juga sekolah atau sarana pendidikan anak tunagrahita yang menerapkan proses belajar seperti di asrama.

Orangtua bisa memberikan anak program pendidikan khusus atau mendapatkan layanan lain untuk membantu mereka belajar dan berkembang.

Anak dengan kondisi disabilitas intelektual perlu mempelajari cara untuk hidup mandiri.

Kemandirian dan keterampilan hidup ini mereka butuhkan untuk menjaga diri saat beranjak dewasa, seperti cara memasak atau naik bus umum untuk berangkat kerja.

Beberapa hal yang wajib diajarkan oleh anak tunagrahita atau disabilitas intelektual adalah:

  • Merawat diri, seperti berpakaian, pergi ke kamar mandi, dan makan sendiri
  • Berkomunikasi dan sosialisasi, seperti melakukan percakapan, menggunakan telepon untuk hal-hal darurat
  • Pergi ke sekolah atau keterampilan bekerja sesuai kemampuan
  • Belajar menggunakan uang
  • Mengetahui melindungi diri saat sendiri di rumah

Sebagian besar anak dengan kondisi ini umumnya dapat belajar banyak sebagai langkah mempersiapkan diri untuk hidup bersama masyarakat lain.

Tak jarang juga orang dewasa penyandang disabilitas intelektual kini sudah banyak yang memiliki pekerjaan dan hidup mandiri.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What is Intellectual Disability?. (2018). Retrieved 27 November 2020, from https://www.specialolympics.org/about/intellectual-disabilities/what-is-intellectual-disability

What Is Intellectual Disability?. (2020). Retrieved 27 November 2020, from https://www.psychiatry.org/patients-families/intellectual-disability/what-is-intellectual-disability

Facts About Intellectual Disability. (2019). Retrieved 27 November 2020, from https://www.cdc.gov/ncbddd/developmentaldisabilities/facts-about-intellectual-disability.html

Children with Intellectual Disabilities. (2020). Retrieved 27 November 2020, from https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/developmental-disabilities/Pages/Intellectual-Disability.aspx

Intellectual Disabilities . (2020). Retrieved 27 November 2020, from https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Children-with-an-Intellectual-Disability-023.aspx

Intellectual Disability and ASD | Center for Autism Research. (2020). Retrieved 27 November 2020, from https://www.carautismroadmap.org/intellectual-disability-and-asd/

Intellectual Disability | Center for Parent Information and Resources. (2020). Retrieved 27 November 2020, from https://www.parentcenterhub.org/intellectual/#def

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Atifa Adlina Diperbarui 6 hari lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Sp.A