Apa Saja Ciri-Ciri Anak Tuna Grahita?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Tuna grahita atau yang masyarakat umum sering sebut sebagai orang dengan keterbelakangan mental, merupakan kondisi di mana seseorang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Apa saja ciri-cirinya?

Apa itu anak tuna grahita?

Anak-anak tuna grahita umumnya punya kesulitan fungsi intelektual. Misalnya seperti sulit berkomunikasi dan belajar serta sulit untuk memecahkan masalah. Tuna grahita pada anak bisa terjadi dalam tingkat yang ringan atau lebih parah.

Anak yang kondisinya parah, biasanya lebih butuh banyak dukungan di sekolah ataupun di rumahnya. Sedangkan anak-anak dengan kondisi yang lebih ringan dan masih bisa melakukan keterampilan mandiri, umumnya hanya butuh komunitas dengan pengajaran dan dukungan yang baik. Ada banyak sekolah, kegiatan dan bantuan yang tersedia untuk membantu anak-anak ini saat mereka tumbuh menjadi dewasa.

Sejak tahun 2010, seperti yang dianjurkan oleh American Academy of Pediatrics, penggunaan istilah “keterbelakangan mental” kini tak lagi dipakai. Mereka memilih untuk menyebut anak dengan kondisi ini dengan sebutan “disabilitas intelektual”. Ungkapan keterbelakangan mental dinilai kurang pas, menyinggung, dan tidak mewakili maksud dari kondisi tuna grahita.

Apa ciri-ciri anak tuna grahita?

Anak yang juga sering disebut sebagai anak berkebutuhan khusus ini mempunyai beberapa ciri-ciri yang bisa diamati. Ciri seorang anak memiliki disabilitas intelektual umumnya cara belajar dan kemampuan berkembangnya lebih lambat daripada anak-anak lain. Anak dengan disabilitas intelektual biasanya akan kesulitan belajar dan melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa ciri yang bisa tampak dari anak dengan kondisi tuna grahita ini antara lain:

  • Duduk, merangkak, atau berjalan lebih lambat dari anak-anak lain seusianya
  • Mengalami kesulitan berbicara
  • Memiliki kesulitan memahami aturan sosial
  • Memiliki kesulitan dalam mengendalikan sikap atau gerakannya
  • Sulit memecahkan masalah
  • Sulit berpikir logis

Sebagai contoh, anak usia 10 tahun dengan kondisi tuna grahita biasanya belum dapat berbicara atau menulis. Padahal, pada anak yang normal, menulis dan berbicara seharusnya sudah bisa dilakukan.

Anak dengan kondisi ini umumnya juga lebih lambat untuk belajar keterampilan lain, seperti sulit untuk berpakaian sendiri atau belum memahami cara bereaksi ketika melakukan interaksi dengan orang lain.

Meski sering ditandai dengan kondisi perkembangan belajar yang terlambat, bukan berarti anak dengan kondisi ini tidak bisa belajar, lho, ya. Mereka tetap bisa belajar, namun dengan kecepatan dan cara yang berbeda. Beberapa orang dengan autisme, down syndrome, ataupun celebral palsy juga banyak yang berpestasi layaknya anak lain.

Apa yang menyebabkan kondisi ini?

Kondisi disabilitas intelektual ini umumnya terjadi karena otak mengalami cedera. Cedera ini menyebabkan otak tidak dapat berkembang secara normal. Hal ini dapat terjadi sejak di dalam kandungan, selama kelahiran, atau bahkan setelah bayi lahir.

Berikut beberapa masalah yang dapat menyebabkan cacat intelektual

  • Ada masalah dengan genetik bayi. Umumnya, genetik bayi diwariskan dari kedua orangtua, jadi bayi mungkin menerima gen yang abnormal atau gen mungkin berubah saat bayi berkembang di dalam kandungan
  • Ada masalah selama kehamilan. Terkadang, ibu mungkin terkena penyakit atau infeksi yang dapat membahayakan bayi saat hamil.
  • Mengonsumsi obat tanpa pengawasan dokter. Mengonsumsi obat-obatan tertentu saat hamil dapat menyebabkan masalah bagi bayi. Untuk itu, berkonsultasilah dengan dokter sebelum meminum obat jenis apa pun saat hamil. Meminum alkohol atau mengonsumsi obat-obatan terlarang juga dapat merusak otak bayi yang sedang berkembang.
  • Bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup selama proses persalinan.
  • Bayi lahir prematur 
  • Setelah lahir, bayi mendapatkan infeksi otak yang serius.
  • Cedera kepala yang serius pada bayi dapat menyebabkan disabilitas intelektual. Beberapa kerusakan bersifat sementara, tetapi bisa juga permanen. (Itulah sebabnya sangat penting untuk memakaikan helm sepeda pada anak, sabuk pengaman, dan menjaga bagian lain untuk mengindari cedera kepala.

Dokter nantinya akan mendiagnosis masalah disabilitas intelektual pada anak ini dengan mengukur seberapa jauh kemampuan orang tersebut dalam berpikir dan memecahkan masalah. Jika memang tampak suatu keanehan, dokter dan tenaga medis lainnya dapat memberikan rekomendasi pada keluarga Anda perihal jenis bantuan yang dibutuhkan anak.

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini?

Seorang anak dikatakan menyandang status tuna grahita apabila ia memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang sangat rendah dan memiliki masalah dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari. Itu sebabnya tes IQ digunakan sebagai salah satu cara mendiagnosis penyakit ini.

Tes IQ ini nantinya bertujuan untuk mengukur kemampuan belajar dan memecahkan masalah seorang anak. Umumnya, nilai IQ normal adalah sekitar 100. Anak-anak dengan kondisi disabilitas intelektual umumnya memiliki skor IQ rendah, yaitu di bawah 50 dan memiliki nilai tertingginya di angka 75.

Biasanya, anak-anak tidak dapat menjalankan tes kecerdasan (Intelligence Quotient Test atau tes IQ) sampai mereka berusia 4 hingga 6 tahun. Oleh karena itu, orangtua mungkin harus menunggu hingga seorang anak mencapai usia tersebut sebelum mengetahui dengan pasti apakah anak mereka memiliki disabilitas intelektual atau tidak. Bahkan terkadang, tes baru bisa dilakukan dalam waktu yang lebih lama.  

Membantu tuna grahita dengan cara sekolah khusus kemandirian

Anak dengan kondisi ini, butuh bantuan selama di sekolah khusus. Beberapa anak dengan disabilitas intelektual mungkin akan membutuhkan orang lain untuk membantu menemaninya di sekolah. Selain itu, ada juga sekolah atau sarana pendidikan anak berkebutuhan khusus yang menerapkan proses belajar seperti di asrama. Orangtua bisa memberikan anak program pendidikan khusus atau mendapatkan layanan lain untuk membantu mereka belajar dan berkembang.

Anak dengan kondisi disabilitas intelektual perlu mempelajari cara untuk hidup mandiri. Kemandirian dan keterampilan hidup ini mereka butuhkan untuk menjaga diri mereka sendiri saat mereka semakin beranjak dewasa, seperti cara memasak atau naik bus umum untuk berangkat kerja. Beberapa hal yang wajib diajarkan oleh anak yang memiliki disabilitas intelektual adalah:

  • Keterampilan merawat diri, seperti berpakaian, pergi ke kamar mandi, dan makan sendiri
  • Keterampilan berkomunikasi dan sosialisasi, seperti melakukan percakapan, menggunakan telepon untuk hal-hal darurat
  • Pergi ke sekolah atau keterampilan bekerja sesuai kemampuan
  • Belajar untuk aman di rumah sendiri
  • Belajar menggunakan uang

Sebagian besar anak dengan kondisi ini umumnya dapat belajar banyak sebagai langkah mempersiapkan diri mereka untuk hidup bersama masyarakat lain. Tak jarang juga orang dewasa penyandang disabilitas intelektual kini sudah banyak yang memiliki pekerjaan dan hidup mandiri.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca