Pentingnya Persiapkan Daya Tahan si Kecil Sebelum dan Sesudah Lahir

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 November 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Tubuh memang dirancang untuk tidak mudah terserang penyakit karena masing-masing individu memiliki sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh alias sistem imun merupakan sistem yang bekerja untuk melindungi tubuh dari berbagai hal yang bisa menyebabkan tubuh mengalami sakit. Namun, bagaimana dengan sistem tubuh yang dimiliki anak? Kenapa anak lebih rentan terkena penyakit? Apakah ini berarti mereka memiliki sistem kekebalan yang lemah?

Terdiri dari apa saja komponen sistem kekebalan tubuh manusia?

tips menjadi orangtua

Sistem kekebalan manusia adalah sistem pertahanan yang dibentuk untuk mencegah manusia terkena penyakit. Sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi, sel darah putih, dan berbagai zat yang dapat menghancurkan zat-zat asing seperti bakteri dan virus. Tidak hanya itu, sistem kekebalan juga terdiri atas:

  • Tonsil (amandel) dan timus yang berfungsi untuk membuat antibodi di dalam tubuh.
  • Kelenjar getah bening, yang bertanggung jawab atas sirkulasi cairan limfa yang terdiri dari sel darah putih yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi.
  • Sumsum tulang, merupakan jaringan lunak yang terdapat pada tulang-tulang panjang, seperti lengan, kaki, tulang belakang, dan tulang panggul. Jaringan ini berfungsi untuk memproduksi sel darah merah, trombosit, sumsum kuning, dan beberapa jenis sel darah putih.
  • Limpa, yaitu organ yang ada di dalam tubuh yang bertugas untuk menyaring dan menghancurkan sel-sel darah merah dan trombosit yang sudah tua ataupun rusak, serta membantu sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan berbagai zat asing yang dapat menyebabkan peradangan di dalam tubuh.
  • Sel darah putih, yaitu sel darah yang dibentuk pada jaringan tulang lunak yang memiliki fungsi utama untuk melindungi tubuh dari infeksi.

Antibodi bayi yang baru lahir 

perkembangan kemampuan bahasa bayi

Sebenarnya bayi yang baru lahir tidak bisa langsung menghasilkan sistem kekebalan tubuh sendiri. Sehingga, semua komponen sistem kekebalan tubuh yang ada di bayi yang baru lahir didapatkannya dari sang ibu.

Ketika kehamilan usia tua dan mendekati hari kelahiran, maka sistem kekebalan tubuh ibu akan ditransfer ke janin melalui pembuluh darah dan plasenta. Komponen sistem kekebalan tubuh yang diberikan ibu pada janin melalui plasenta yaitu Immunoglobulin G (IgG).

Imunoglobulin adalah jenis antibodi yang dibentuk oleh tubuh untuk melawan racun, bakteri, virus, dan zat asing lainnya. Di antara berbagai macam immunoglobulin, hanya IgG lah yang dapat melintasi plasenta dan merupakan antibodi yang paling kecil yang dibentuk tubuh, tetapi jumlahnya paling banyak.

Setidaknya terdapat 75 hingga 80 persen IgG dari total antibodi yang dibentuk. Oleh karena itu pada bayi yang lahir prematur sangat rentan terkena berbagai penyakit karena tidak mendapatkan antibodi yang cukup dari sang ibu.  

IgG dianggap sangat penting untuk menjaga janin di dalam kandungan agar tidak terkena infeksi dan berbagai komplikasi yang dapat membahayakan kesehatannya. Kondisi ini disebut dengan imunitas pasif, karena antibodi dihasilkan dari ibu kemudian diberikan kepada anak melalui berbagai proses. 

Setelah lahir, bayi harus mendapatkan ASI eksklusif dari sang ibu, karena ASI mengandung antibodi yang lengkap yaitu, Immunoglobulin A, Immunoglobulin D, Immunoglobulin G, dan Immunoglobulin M.

Oleh karena itu, ASI dianggap sebagai makanan yang paling sempurna untuk bayi. Karena selain sangat mudah dicerna, ASI juga mampu melindungi bayi yang rentan terhadap bermacam-macam penyakit infeksi.

Selain itu, ASI yang pertama kali keluar sesaat setelah ibu melahirkan atau yang sering disebut cairan kolostrum berwarna kuning mengandung antibodi yang sangat banyak yang cukup untuk melindungi bayi saat lahir. Kolostrum banyak mengandung sIgA (Immunoglobulin A sekretorik) yang berguna untuk melapisi saluran cerna bayi terhadap berbagai bakteri patogen dan virus. 

Nutrisi lain untuk meningkatkan daya tahan tubuh bayi

antibodi bayi

Selain dari ASI, si kecil juga dapat meningkatkan sistem imun atau daya tahan tubuhnya dalam mencegah infeksi penyakit melalui asupan nutrisi. Terdapat dua jenis nutrisi yang bisa membantu bangun imunitas bayi, yakni omega-3 dan 6 serta FOS:GOS 1:9.

Tubuh memang memiliki sistem mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan infeksi penyakit. Namun, dengan adanya tambahan asupan asam lemak rantai panjang, yakni omega-3 dan 6, sel imun dapat bekerja lebih kuat dalam melawan penyakit. Keduanya memiliki sifat imunomodulator (meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh) dan antiperadangan dalam memerangi penyakit.

Sifat imunomodulator omega-3 dan 6 juga menstimulasi kerja makrofag, bagian sel darah putih untuk “memakan” kuman penyebab penyakit. Di samping itu, omega-3 dan 6 dapat meningkatkan kerja sel darah putih dalam meredam peradangan akibat infeksi penyakit. Mekanisme kerja ini lah yang memberikan perlindungan ekstra bagi tubuh bayi.

pengaruh daya tahan tubuh si kecil

Kerja sistem imun si kecil juga didukung dengan pencernaan yang sehat. Asupan prebiotik akan menjalankan tugasnya untuk melindungi kesehatan pencernaan si kecil. Berdasarkan penelitian dari jurnal Gut Microbes, komposisi prebiotik FOS:GOS 1:9 dapat melindungi sistem pencernaan dengan menjaga keseimbangan bakteri di dalam usus, sehingga menguatkan kerja sistem imun.

Respons imun juga terkait erat dengan penguatan antibodi di dalam tubuh si kecil. Dalam penelitian yang sama, diulas bahwa FOS:GOS 1:9 dapat menstimulasi respons antibodi dalam mencegah penyakit. Kombinasi kerja prebiotik tersebut menunjang daya tahan tubuhnya.

Manfaat dari omega-3 serta FOS:GOS 1:9 dapat Ibu peroleh melalui susu pertumbuhan atau formula. Selain dua kandungan utama tersebut, susu pertumbuhan sebaiknya diformulasikan khusus dengan tambahan kandungan zat besi, serta 12 vitamin dan 9 mineral tanpa gula tambahan. Maka dari itu, pastikan pilihan susu pertumbuhan si kecil mengandung komposisi yang telah disebutkan di atas untuk dukung tumbuh kembang si kecil secara optimal.

Berapa lama antibodi ibu dapat bertahan di dalam tubuh bayi? Kapan bayi menghasilkan sistem imunnya sendiri?

membacakan dongeng sebelum tidur

Pada bayi yang sehat, seiring dengan bertambahnya umur, bayi akan secara alami membentuk antibodinya sendiri. Antibodi yang berhasil diterima bayi dari ibu melalui ASI lama-lama akan menurun. Ketika bayi berumur 2 hingga 3 bulan, bayi sudah mulai membangun sistem kekebalan tubuh dan memproduksi antibodinya sendiri.

Setelah bayi memasuki usia 6 bulan, sistem kekebalan tubuhnya sudah bisa bekerja dengan normal, layaknya sistem kekebalan tubuh orang dewasa. Pada fase inilah kekebalan tubuh si kecil juga dapat ditunjang melalui konsumsi susu pertumbuhan.

Pemberian imunisasi pada anak balita juga sangat penting untuk dilakukan. Karena dapat meningkatkan dan menguatkan sistem kekebalan tubuh mereka yang baru saja dibentuk.

Imunisasi dasar diperlukan oleh bayi yang baru lahir, yang terdiri dari bacillus calmette guerin (BCG), diphtheria pertusis tetanus-hepatitis b (DPT-HB) atau diphtheria pertusis tetanus-hepatitis b-hemophilus influenza type b (DPT-HB-Hib), hepatitis B pada bayi baru lahir, polio, dan campak. Kemudian terdapat imunisasi lanjutan yang  merupakan imunisasi ulangan untuk memperpanjang perlindungan dari penyakit.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Cara Kerja Sistem Imun Manusia?

Sistem imun adalah salah satu fungsi tubuh manusia yang amat penting. Akan tetapi, tahukah Anda bagaimana cara kerja sistem imun manusia?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Tamara Alessia
Fakta Unik 3 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Si Kecil Demam Setelah Imunisasi? Redakan dengan Cara Ini

Suhu badan yang tinggi merupakan reaksi umum ketika si Kecil menerima imunisasi. Yuk, simak ragam cara meredakan demam setelah imunisasi sekarang.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
meredakan demam setelah imunisasi
Kesehatan Anak, Parenting 1 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bantu Cegah Penyakit, Ini Peran Vitamin C, D, dan Kalsium di Sistem Imun

Demi fungsi sistem imun yang optimal, tubuh butuh asupan nutrisi termasuk vitamin dan mineral. Ketahui peran nutrisi untuk dukung sistem imun dan sumbernya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
fungsi sistem imun
Nutrisi, Hidup Sehat 1 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Ketahui Manfaat dan Cara Melakukan Pijat Bayi di Rumah

Bayi Anda sering menangis di malam hari? Atau Anda ingin membangun ikatan yang lebih kuat dengan si kecil? Pijat bayi bisa menjadi jawaban yang Anda cari.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 30 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bahaya gurita bayi

Bayi Ternyata Tak Boleh Pakai Gurita. Apa Bahayanya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
mencegah diabetes sejak dini

3 Langkah Lindungi Keluarga untuk Mencegah Diabetes Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 5 menit
vitamin untuk anak

Agar Tidak Keliru, Ketahui Aturan Pemberian Vitamin untuk Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 November 2020 . Waktu baca 10 menit
cara meningkatkan leukosit lewat makanan penambah sel darah putih

Daftar Makanan untuk Atasi Kekurangan Sel Darah Putih

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 8 November 2020 . Waktu baca 7 menit