home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

9 Bahan Kimia Berbahaya yang Harus Dihindari pada Produk Perawatan Bayi

9 Bahan Kimia Berbahaya yang Harus Dihindari pada Produk Perawatan Bayi

Sampo, sabun, losion, dan bedak telah menjadi barang kebutuhan si kecil sehari-hari. Namun, tahukah ibu? Ternyata sejumlah bahan berbahaya mungkin terdapat pada produk perawatan bayi tersebut. Agar lebih waspada, yuk simak penjelasan berikut!

Bahan kimia berbahaya yang harus dihindari dalam produk perawatan bayi

Cara menghilangkan bekas gigitan nyamuk pada bayi

Perlu Anda ketahui bahwa bayi lebih rentan terhadap bahan kimia daripada orang dewasa. Oleh karena itu, Anda perlu memerhatikan bahan-bahan yang terkandung di dalam produk yang Anda berikan untuk si bayi.

Melansir Women’s Voice for Earth, berikut ini beberapa bahan kimia berbahaya yang sering kali terdapat pada produk perawatan bayi.

1. Talk

Bahan kimia berbentuk bubuk ini biasanya ditambahkan ke bedak bayi sebagai bahan pengering. Talk sangat umum digunakan untuk mencegah biang keringat dan memberikan aroma yang menyegarkan pada tubuh si kecil.

Namun, sayangnya bahan yang satu ini dikenal dapat mengiritasi paru-paru dan mungkin juga penyebab kanker.

The American Academy of Pediatrics menyarankan untuk tidak menggunakan bedak pada bayi. Ini karena bubuk halus dari bedak yang terhirup dapat mengiritasi paru-paru, baik pada si kecil maupun pada Anda yang menaburkannya.

Jika terpaksa menggunakannya, sebisa mungkin berhati-hati agar debu-debu halus dari bedak tidak terhirup oleh si kecil.

Agar lebih amannya, sebaiknya Anda menghentikan penggunaan bedak untuk si kecil dan melakukan cara lain untuk mencegah biang keringat. Misalnya memakaikan pakaian dari bahan katun serta menjaga suhu ruangan agar tidak panas.

2. Pewangi

Anda mungkin suka aroma yang wangi dari losion si kecil. Sayangnya, kebanyakan pewangi pada produk perawatan bayi itu berbahaya.

Melansir Children Environmental Health Network, kebanyakan produk pewangi mengandung volatile organic compounds (VOCs). Jika terhirup, zat ini dapat menjadi racun bagi berbagai organ dalam tubuh serta memicu asma pada anak.

Selain itu beberapa anak mungkin mengalami reaksi alergi terhadap bahan yang terdapat pada pewangi sehingga menyebabkan iritasi kulit dan eksim.

Selain mengandung VOCs, parfum itu sendiri biasanya merupakan campuran dari 100 hingga 3.000 bahan kimia yang berbeda. Bahkan bisa jadi mengandung bahan kimia berbahaya seperti 1,4-dioksan, titanium dioksida, paraben, hingga metanol dan formalin.

Oleh karena itu, periksalah label produk perawatan bayi dengan teliti sebelum Anda membeli. Hindari produk yang melampirkan pewangi atau parfum dalam label komposisinya.

3. Ftalat dan paraben

Ftalat dan paraben merupakan kelompok bahan kimia berbahaya yang digunakan sebagai pengawet dalam produk perawatan bayi yang berbentuk cair seperti sampo dan lotion.

Ftalat dicurigai mengganggu sistem endokrin sehingga berisiko menyebabkan masalah reproduksi pada pria dan wanita.

Sementara paraben adalah sejenis neurotoksin yang juga dapat menyebabkan gangguan reproduksi, gangguan hormon, imunotoksisitas, dan iritasi kulit bayi.

Meski begitu, Food and Drug Administration (FDA) menyatakan bahwa paraben aman jika digunakan dalam jumlah kecil.

FDA pun mengungkapkan bahwa kandungan bahan-bahan tersebut dalam produk perawatan bayi sangat sedikit. Jadi, ibu tidak perlu khawatir saat menggunakan produk-produk tersebut. Selama memakainya dalam jumlah yang wajar.

4. Formalin

essential oil untuk bayi

Formalin atau dalam istilah kimia disebut dengan formaldehida adalah pengawet yang ditambahkan ke produk perawatan bayi yang berbahan dasar air. Tujuannya untuk mencegah pertumbuhan jamur pada produk tersebut.

Formaldehida merupakan zat karsinogen yang telah dikaitkan dengan kanker sel skuamosa pada rongga hidung.

Selain itu, beberapa orang mungkin mengalami alergi terhadap bahan tersebut. Gejalanya berupa ruam pada kulit, masalah pernapasan, sakit kepala, kelelahan, dan mual.

Untuk menghindari bahan pengawet berbahaya pada produk perawatan bayi, pastikan Anda membaca komposisi pada kemasannya sebelum membeli.

Hindari produk yang menyertakan bahan-bahan seperti quaternium-15, DMDM hydantoin, imidazolidinyl urea, diazolidinyl urea, polioksimetilen urea, natrium hydroxymethylglycinate, 2-bromo-2-Nitropropane-1, 3-diol (bronopol), dan glyoxal.

5. Polietilen glikol (PEG)

Senyawa kimia ini biasanya digunakan pada produk perawatan bayi agar zat-zat pada produk tersebut lebih mudah diserap oleh kulit. Bahan ini sering ditemukan di tisu bayi.

Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal Toxicological Research, PEG bersifat karsinogenik yaitu zat yang dapat menyebabkan kanker.

Meski begitu, terdapat aturan internasional yang menetapkan kadar PEG yang aman dalam produk perawatan tubuh. Pasalnya, setiap industri wajib mematuhi peraturan keamanan tersebut.

Namun, jika ingin lebih berhati-hati, Anda bisa menghindari bahan tersebut sama sekali. Caranya dengan tidak menggunakan produk perawatan bayi yang mencantumkan PPG polietilen glikol (PEG) dan polipropilen glikol (PPG) pada kemasannya.

Selain itu, batasi pula penggunaan tisu basah. Untuk membersihkan tubuh si kecil, lebih baik gunakan waslap bersih dan air sabun.

6. 1,4-dioksan

1,4-dioksan merupakan bahan berbahaya yang biasa ditemukan dalam produk perawatan bayi yang menghasilkan busa, seperti busa mandi, shampoo, dan sabun.

Senyawa ini dicurigai dapat menyebabkan kanker, keracunan organ, alergi kulit, dan cacat lahir.

Sayangnya, 1,4-dioksan adalah zat yang terbentuk dari reaksi beberapa kimia yang dicampur bersamaan, sehingga Anda tidak akan melihat senyawa kimia ini tercantum pada label produk.

Tanpa pelabelan, akan sulit mengetahui dengan pasti apakah produk pilihan Anda mengandung 1,4-dioksan atau tidak.

Untuk berjaga-jaga, hindari produk perawatan bayi yang mencantumkan sodium laureth sulfate, dan polietilen glikol (PEG) serta bahan kimia lainnya yang berakhiran “eth” dan “-xynol”.

7. Minyak mineral

Baby oil pada dasarnya terbuat dari minyak mineral yang dicampur dengan parfum. Kedua bahan ini merupakan kombinasi yang buruk untuk kesehatan.

Melansir Chemical Safety Facts, minyak mineral dapat mengganggu kekebalan alami kulit dan menghambat kemampuan kulit untuk melepaskan racun. Selain itu, minyak mineral juga dapat menyebabkan kulit kering dan kasar.

Daripada menggunakan baby oil, lebih baik gunakan minyak yang terbuat dari bahan alami seperti minyak zaitun atau minyak kelapa saat memijat bayi Anda.

8. Triklosan

Menurut sejumlah penelitian pada hewan, kadar triklosan yang berlebihan dapat menurunkan hormon tiroid. Meski begitu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai dampaknya terhadap manusia.

Produk apapun yang dicap sebagai ‘antibakteri’ kemungkinan besar mengandung triklosan. Sejumlah sabun menyertakan zat ini agar lebih ampuh membunuh bakteri dan kuman.

Meski begitu, Early Learning Leaders menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa sabun yang mengandung triklosan lebih efektif untuk membunuh kuman dan bakteri dibanding sabun biasa.

Selain itu, dengan membesarkan bayi dalam lingkungan terlalu steril juga tidak baik. Hal ini justru dapat menghambat kemampuan tubuh untuk menciptakan sistem ketahanan dan kekebalan alami.

Untuk menghindari bahan berbahaya pada produk perawatan bayi, sebaiknya Anda tidak memakai sabun yang berlabel anti bakteri. Tidak perlu khawatir terhadap kuman, karena sebenarnya, air dan sabun biasa bekerja lebih baik untuk membersihkan tubuh si kecil.

9. Benzofenon

Turunan dari benzofenon, seperti oxybenzone, sulisobenzone, sulisobenzone natrium, benzophenone-2 (BP2), dan oxybenzone (benzofenon-3 atau BP3) adalah bahan umum dalam tabir surya.

Bahaya zat ini antara lain adalah dapat menyebabkan kanker, gangguan endokrin, keracunan organ, iritasi kulit, dan masalah tumbuh kembang anak.

Menurut jurnal Environment International, benzofenon dan turunannya biasa ditemukan pada produk tabir surya bayi.

Oleh karena itu, untuk mencegah kulit terbakar matahari saat menjemur bayi, sebaiknya gunakan tabir surya yang mengandung bahan non-nanoized zinc oxide atau titanium.

Agar tidak terkena bahaya benzofenon, pilihlah produk perawatan bayi yang terbuat dari bahan-bahan organik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Toxic Chemicals Commonly Found in Baby Products. Retrieved 16 June 2021, from https://www.womensvoices.org/avoid-toxic-chemicals/pregnancy/non-toxic-baby-tips/toxic-chemicals-in-baby-products/

Mofenson, H., Greensher, J., DiTomasso, A., & Okun, S. Baby Powder—A Hazard!. Retrieved 16 June 2021, from https://pediatrics.aappublications.org/content/68/2/265

Phthalates and DEHP. Retrieved 16 June 2021, from https://noharm-uscanada.org/issues/us-canada/phthalates-and-dehp

Talcum Powder and Cancer. Retrieved 16 June 2021, from https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/talcum-powder-and-cancer.html

Fragrances – Children’s Environmental Health Network. Retrieved 16 June 2021, from https://cehn.org/our-work/eco-healthy-child-care/ehcc-faqs/fragrances/

Research, N. Phthalates and Children’s Products | National Center for Health Research. Retrieved 16 June 2021, from https://www.center4research.org/phthalates-childrens-products/

ChemicalCallout: Polyethylene Glycol Compounds (PEGs). Retrieved 16 June 2021, from https://www.madesafe.org/chemicalcallout-polyethylene-glycol-compounds-pegs/

Petry, T., Bury, D., Fautz, R., Hauser, M., Huber, B., & Markowetz, A. et al. Review of data on the dermal penetration of mineral oils and waxes used in cosmetic applications. Toxicology Letters, 280, 70-78. doi: 10.1016/j.toxlet.2017.07.899

Leaders, A. Triclosan in Children | Association for Early Learning Leaders. Retrieved 16 June 2021, from https://www.earlylearningleaders.org/triclosan-in-children/

Kim, S., & Choi, K. (2014). Occurrences, toxicities, and ecological risks of benzophenone-3, a common component of organic sunscreen products: A mini-review. Environment International, 70, 143-157. doi: 10.1016/j.envint.2014.05.015

Foto Penulis
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani pada 14/11/2016
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
x