home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

4 Kondisi yang Menjadi Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi

4 Kondisi yang Menjadi Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi

Bintik merah di kulit bayi cukup umum terjadi, dan biasanya disebabkan oleh gigitan nyamuk. Namun, bagaimana dengan bercak putih pada kulit bayi? Sebenarnya, apa penyebab munculnya kondisi tersebut dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasan lengkapnya.

Penyebab munculnya bercak putih pada kulit bayi

Bayi memiliki kulit yang sensitif dan lebih tipis dibanding orang dewasa. Kulitnya yang sensitif ini membuat si kecil mudah mengalami ruam atau lecet akibat iritasi maupun gesekan.

Selain berupa ruam kemerahan, masalah kulit pada bayi juga bisa menimbulkan bercak keputihan. Berikut ini beberapa penyebab munculnya bintik atau ruam berwarna putih pada kulit dan wajah bayi:

1. Milia

menghilangkan milia pada bayi

Tampilan milia sekilas mirip dengan jerawat. Bedanya, milia tampak seperti bintik-bintik putih pada kulit bayi.

Bercak putih milia biasanya muncul pada sekitar kulit hidung, dagu, dan pipi bayi, meski juga bisa muncul di sekitar kelopak mata dan alat kelamin.

Masalah kulit ini sangat umum terjadi pada bayi, bahkan yang baru lahir sekalipun. Mayo Clinic menyebutkan, milia terbentuk ketika serpihan-serpihan kulit mati terperangkap di pori-pori.

Milia dapat juga terbentuk dari kulit yang sembuh sehabis kerusakan, seperti akibat lepuhan, ruam, atau sengatan matahari yang berlebihan.

Bila Anda mendapati bercak putih milia pada kulit bayi, Anda tidak perlu cemas. Kondisi ini tidak menimbulkan rasa sakit, panas, perih, maupun gatal.

Cara mengatasinya:

Tidak pengobatan khusus untuk milia karena kondisi ini akan sembuh sendiri, biasanya dalam hitungan beberapa minggu atau bulan.

Bila milia tidak kunjung menghilang dan menimbulkan kekhawatiran, jangan ragu konsultasi ke dokter.

Sebagai perawatannya, Anda cukup membersihkan badan bayi setiap hari dengan sabun dan air hangat. Kemudian keringkan dengan menepuk pelan tubuhnya menggunakan handuk.

Hindari produk perawatan bayi yang mengandung pewangi, pewarna, atau pun zat iritan yang bisa mengiritasi kulit.

2. Erythema toxicum neonatorum (ETN)

Sumber: Baby Center

Bercak putih pada kulit dan wajah bayi dapat disebabkan oleh erythema toxicum neonatorum (ETN).

Kondisi ini menyebabkan munculnya benjolan kecil yang berwarna kuning yang lama-lama memutih atau agak kemerahan di kulit.

Ketika disentuh, benjolan tersebut akan terasa keras dan bisa pecah mengeluarkan cairan.

ETN biasanya menyerang kulit wajah dan tubuh bagian tengah, seperti dada. Namun, bisa juga muncul di lengan tangan dan kaki.

Bayi dapat memiliki kondisi ini saat dilahirkan, atau satu hingga dua hari setelah bayi dilahirkan.

Munculnya ETN diyakini sebagai respons tubuh bayi terhadap mikroba yang menyusup ke pori-pori kulit. Setelah sistem imun mengembang dan lebih kuat, kulit bayi akan berkurang kesensitifannya.

Cara mengatasinya:

American Osteopathic College of Dermatology menyebutkan, bercak putih pada kulit bayi akibat ETN tidak membutuhkan pengobatan khusus. Bercak umumnya akan menghilang sendiri dalam waktu 5 atau 14 hari.

Meski begitu, lenting dapat pecah kapan saja. Oleh karena itu, Anda sebaiknya berhati-hati ketika membersihkan badan bayi atau memakaikan baju untuknya karena bisa memecahkan lenting.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan badan dan pakaian bayi agar kulitnya lebih cepat pulih dari kondisi ini.

3. Vitiligo

vitiligo
Sumber: Health Xchange

Vitiligo adalah penyakit kulit turunan (genetik) yang menyebabkan berubahnya warna kulit dengan munculnya bercak putih pada kulit bayi.

Ukuran bercak bervariasi, bisa kecil maupun besar dan muncul di sekitar wajah, tangan, kaki, dan bibir. Tidak hanya kulit, penyakit ini juga menyebabkan warna rambut, bulu mata, dan alis jadi memutih.

Vitiligo terjadi ketika sel-sel penghasil pigmen (melanosit) mati atau berhenti memproduksi melanin.

Melanin adalah zat pemberi warna pada kulit, rambut, dan mata. Berhentinya produksi melanin diduga akibat suatu proses autoimun.

Namun, banyak faktor lain yang juga berperan dalam munculnya bercak putih ini, seperti paparan sinar matahari dan bahan kimia industri.

Penyakit ini tidak menimbulkan rasa nyeri pada kulit. Namun, bisa menyebabkan hilangnya warna retina (lapisan dalam bola mata) serta gangguan pendengaran.

Cara mengatasinya:

Bercak putih pada kulit bayi ini tidak bisa disembuhkan dengan perawatan rumah. Namun, orangtua bisa melakukan perawatan kulit bayi yang tepat agar menghambat penyebaran perubahan warna kulit.

Anda harus menghindarkan si kecil dari paparan sinar matahari langsung dan menggunakan krim yang diresepkan dokter untuk melindungi kulit.

Selain itu, dokter akan mempertimbangkan pengobatan sesuai kondisi kulit bayi meliputi pemberian obat, terapi, pembedahan, atau kombinasi.

4. Panu

panu pada kulit bayi
Sumber: WebMD

Panu atau tinea versicolor adalah infeksi jamur yang menyebabkan timbulnya bercak putih pada kulit bayi.

Panu tidak hanya berwarna putih, tapi juga bisa kecokelatan, merah, atau merah muda. Bercak ini berbentuk oval yang kering, bersisik, dan menimbulkan gatal.

Mengutip dari Kids Health, tinea versicolor disebabkan oleh jenis jamur yang hidup di permukaan kulit.

Lingkungan kulit yang lembap memang merupakan tempat yang cocok bagi jamur untuk berkembang biak.

Maka, bila kulit bayi karena keringat, ia rentan mengalami kondisi ini.

Bayi yang kekurangan gizi atau memiliki sistem kekebalan tubuh juga lebih rentan mengalami masalah kulit ini.

Cara mengatasinya:

Bercak putih pada kulit wajah bayi ini hanya bisa disembuhkan dengan obat krim antijamur.

Namun, Anda tidak boleh menggunakan obat ini sembarangan karena kulit bayi masih sensitif. Jadi, akan lebih baik jika obatnya sesuai dengan resep dokter.

Supaya tidak kambuh, jaga kebersihan kulit si kecil dengan rutin memandikan bayi.

Hindari membiarkan bayi memakai baju yang basah dengan keringat dalam waktu lama. Kemudian, jangan lupa mengganti popok bayi bila sudah kotor dan basah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Rashes in babies and children . (2017). Retrieved 12 October 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/rashes-babies-and-children/

Pityriasis Versicolor (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 12 October 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/pityriasis-versicolor.html

Vitiligo – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 12 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/vitiligo/symptoms-causes/syc-20355912

Milia – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 12 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/milia/symptoms-causes/syc-20375073

Milia Management and Treatment | Cleveland Clinic. (2020). Retrieved 12 October 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17868-milia/management-and-treatment

Tinea versicolor – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 12 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tinea-versicolor/diagnosis-treatment/drc-20378390

Gianfaldoni, S., Tchernev, G., Wollina, U., Lotti, J., Satolli, F., & França, K. et al. (2018). Vitiligo in Children: A Better Understanding of the Disease. Open Access Macedonian Journal Of Medical Sciences6(1), 181-184. doi: 10.3889/oamjms.2018.040

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 10/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x