Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Ubun-ubun Bayi Masih Lunak dan Berdenyut, Normal Apa Tidak?

Ubun-ubun Bayi Masih Lunak dan Berdenyut, Normal Apa Tidak?

Di ubun-ubun bayi terdapat bagian lunak yang kadang membuat orangtua khawatir ketika tidak sengaja tersentuh. “Jangan-jangan itu bagian otaknya yang tertekan? Bagaimana ini?” Tenang dulu, bagian lunak di ubun-ubun bayi itu adalah hal yang normal. Justru, bagian lunak itulah yang sangat penting untuk perkembangan dan pertumbuhan otaknya.

Kenapa ada bagian yang masih lunak di ubun-ubun bayi?

Tulang tengkorak bayi belum menutup secara sempurna. Masih ada bagian yang belum terlapisi dengan tekstur keras di kepalanya.

Tulang kepala atau tengkorak tidak terbentuk langsung utuh berbentuk bulat. Terdapat beberapa gabungan tulang yang menyusunnya. Tulang-tulang yang menyusun tengkorak yaitu dua tulang frontal, dua tulang parietal, dan satu tulang occipital. Pada bayi, tulang-tulang tersebut belum bertemu secara sempurna. Hal ini menyisakan bagian lunak di titik pertemuan tulang-tulang tersebut. Titik lunak ini disebut dengan fontanel.

Terdapat dua fontanel di kepala bayi, dengan rincian sebagai berikut.

  • Fontanel depan (anterior fontanel): adalah ruang antara tulang frontal dan tulang parietal bayi. Titik ini berada di ubun-ubun.
  • Fontanel belakang (posterior fontanel): adalah ruang antara tulang parietal dan tulang occipital. Titik ini berada pada bagian kepala belakang bayi.

Lebih jelasnya, simak ilustrasi tengkorak bayi di bawah ini.

Sumber: American Academy of Family Physicians

Semakin dewasa, fontanel akan menutup dengan sendirinya, sehingga akhirnya membentuk bagian keras seperti tulang tengkorak pada umumnya.

Apa fungsi fontanel pada bayi?

Fontanel ini adalah formasi alami yang terbentuk agar tengkorak bayi bertekstur fleksibel. Kepala bayi dibentuk fleksibel untuk mempermudah ketika Ia keluar dari saluran lahir. Titik ini juga akan tetap terbuka untuk memberi ruang perkembangan otak bayi. Otak bayi akan tumbuh dan berkembang pesat hingga usia 18 bulan, sehingga masih dibutuhkan struktur kepala yang fleksibel utnuk menyesuaikan ukuran ini.

Apakah boleh fontanel disentuh?

Secara tidak sadar biasanya Anda akan memegang titik tersebut setiap kali mencuci rambut bayi atau memegang kepala bayi. Menyentuh titik ini tentunya tidak membahayakan bayi.

Fontanel memang terlihat lunak dan seakan-akan rapuh, tetapi sebenarnya tidak. Fontanel ditutupi oleh sebuah lapisan kuat agar bisa melindungi jaringan otak bayi di dalamnya. Jadi jika Anda menyentuhnya, sebenarnya aman-aman saja, selama Anda tidak menekanya keras-keras.

Terkadang Anda juga dapat melihat bagian ini berdenyut. Berdenyutnya fontanel ini menandakan adanya aliran darah yang melalui titik tersebut. Sekali lagi, hal ini normal dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Nantinya hal ini akan berkurang sendiri seiring dengan pertumbuhan si kecil.

Kapan bagian-bagian lunak di kepala bayi ini akan mengeras dan jadi utuh?

Fontanel pasti lama-lama akan tertutup sempurna, dan kepala bayi akan mengeras seutuhnya. Fontanel bagian belakang biasanya lebih cepat tertutup. Biasanya fontanel bagian belakang ini sudah hilang ketika usia 6 minggu. Sedangkan fontanel bagian depan biasanya masih dapat dirasakan sampai sekitar usia 18 bulan.

Bagaimana jika menutupnya terlalu cepat?

Jika bagian lunak di ubun-ubun bayi ini tertutup sebelum waktunya, ada banyak kondisi tertentu yang bisa terjadi. Penutupan fontanel terlalu awal dikenal sebagai craniosynostosis. Kondisi ini bisa menghentikan pertumbuhan otak, menyebabkan keterbelakangan mental, kebutaan, kejang, dan kepala berbentuk tidak normal.

Dokter biasanya akan memeriksa bagian-bagian lunak ini setiap Anda periksa ke dokter anak atau Posyandu. Jika ditemukan kondisi ini, biasanya bayi diberikan resep khusus atau prosedur bedah khusus untuk membuka kembali area ini.

Fontanel bisa menggambarkan kondisi kesehatan bayi

Normalnya, ketika bagian ubun-ubun yang lunak ini ditekan, teksturnya kencang dan akan kembali lagi seperti semula. Namun, jika titik tersebut terlalu lembek dan saat ditekan tidak kembali ke bentuk semula (jadi cekung) ini bisa menjadi tanda bayi mengalami dehidrasi yang parah.

Biasanya selain dari kondisi fontanel, bayi yang dehidrasi parah akan bersifat tidak responsif, dan popoknya jarang basah. Segera temui dokter Anda jika bayi Anda menunjukkan tanda-tanda ini.

Selain itu, fontanel juga bisa menjadi tanda pembengkakan di otak. Fontanel terkadang terlihat menonjol atau terlihat seperti terangkat saat bayi menangis. Ini masih wajar selama bentuknya akan kembali rata saat sudah berhenti menangis.

Namun, jika bagian lunak di ubun-ubun si kecil ini tetap menonjol dan bayi demam, ini bisa menandakan terjadinya pembengkakan di otak. Segera temui dokter Anda jika terjadi kondisi ini.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Children’s Hospital of Wisconsin. Tanpa tahun. Anatomy of the Newborn Skull. [Online] Tersedia pada: https://www.chw.org/medical-care/craniofacial-disorders/craniofacial-disorder-conditions/craniofacial-anomalies/anatomy-of-the-newborn-skull (Diakses 17/1/20118)

New Kids-Center. Tanpa Tahun. Know the Soft Spots in Your Baby. [Online] Tersedia pada: http://www.newkidscenter.com/Baby-Soft-Spot.html (Diakses 17/1/2018)

Schipani Denise. Tanpa Tahun. 10 Newborn Worries (Not to Fret About). [Online] Tersedia pada: .https://www.parents.com/baby/care/newborn/newborn-worries-not-to-worry-about1/ (Diakses 17/1/2018)

American Family Physician. 2003. The Abnormal Fontanel. [Online] Tersedia pada: https://www.aafp.org/afp/2003/0615/p2547.html (Diakses 17/1/2018)

Health Direct Australia. 2017. About the Fontanelle. [Online] Tersedia pada: https://www.pregnancybirthbaby.org.au/about-the-fontanelle (Diakses 17/1/2018)

Foto Penulis
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji Diperbarui 24/05/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus