Bayi Ternyata Tak Boleh Pakai Gurita. Apa Bahayanya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Tak sedikit kebiasaan turun-temurun dalam merawat bayi yang nyatanya bertentangan dengan dunia medis. Salah satunya adalah membedong perut bayi dengan gurita. Gurita bayi diyakini bermanfaat untuk mencegah masuk angin, mengecilkan perut, dan juga mencegah pusar anak jadi bodong. Padahal, penggunaan gurita bayi justru dapat membahayakan kesehatan anak Anda.

Benarkah gurita bayi efektif untuk mengecilkan perut dan mengempiskan pusar bodong?

Bayi sering dipakaikan gurita mungkin karena orangtuanya cemas melihat perutnya yang besar. Besar kecilnya perut bayi ditentukan oleh ketebalan kulit, lemak di bawah kulit, dan otot perut yang berfungsi menahan daya dorong isi perut. Kulit bayi maupun lemak dan ototnya masih tipis karena belum tumbuh sempurna, sehingga belum mampu menahan gerak usus yang mendorong keluar. Ini yang menyebabkan perut bayi besar, kelihatan seperti kembung.

Ukuran perut bayi akan mengecil dengan sendirinya seiring tumbuh kembangnya ketika kulit dan lemak serta ototnya sudah menebal, karena perutnya sudah lebih sanggup untuk menahan daya dorong usus. Jadi, penampakan perutnya tak akan besar lagi — kecuali kalau makannya memang banyak.

Perut bayi juga bisa terlihat kembung karena ia menelan terlalu banyak udara, dan ini bukanlah hal yang harus dikhawatirkan berlebihan. Perut kembung bayi bisa disebabkan karena bayi menangis terlalu lama atau cara minum susu yang kurang betul. Kolik juga bisa menyebabkan perut bayi kembung. Namun demikian, tidak ada satupun penelitian medis sampai saat ini yang mampu membuktikan bahwa penggunaan gurita bayi bisa mengecilkan perut untuk berbagai alasan di atas.

Begitu pula dengan pusar yang bodong. Banyak orangtua yang khawatir dengan kondisi pusar bayinya. Yang perlu dipahami, pusar bodong tidak akan mengakibatkan kondisi kesehatan serius. Pusar bodong lebih disebabkan oleh otot cincin perut yang tidak tidak menutup dengan sempurna atau karena panjang puntung tali pusat bayi yang memang besar dan panjang, dan bukan akibat tidak dipakaikan gurita. Pusar bodong akan sembuh atau menghilang seiring tumbuh kembang anak — biasanya ketika anak sudah berusia antara 3-5 tahun.

Pemakaian gurita bayi untuk mengatasi tali pusar yang belum puput bukanlah cara perawatan yang tepat. Hanya dengan membiarkannya terlepas sendiri sebenarnya sudah cukup membantu. Usahakan agar tali pusat tidak basah dan tidak terkena urin maupun tinja bayi. Jika tali pusat kotor, segera cuci bersih dengan aliran air dan sabun lalu keringkan dengan kain bersih. Alih-alih bermanfaat bagi bayi, pemakaian gurita bayi sebenarnya justru merugikan kesehatannya.

Gurita bayi yang terlalu ketat bisa menyebabkan bayi sesak napas

Pemakaian gurita bayi yang terlalu kencang bisa membuat bayi merasa kepanasan dan banyak berkeringat. Ini kemudian dapat menyebabkan berbagai keluhan kulit seperti gatal biang keringat atau ruam kulit layaknya ruam popok karena keringat yang menempel di kulit tidak dapat menguap dengan baik akibat terhalang oleh kain gurita. Selain itu, pemakaian gurita yang telalu kencang juga dapat menyebabkan makanan yang telah masuk ke dalam lambung mengalir balik ke kerongkongan, yang pada akhirnya bisa menyebabkan bayi muntah berulang.

Risiko lainnya dari gurita bayi adalah anak Anda bisa kesulitan bernapas, terutama apabila lilitannya terlalu kencang. Cara membebat gurita yang terlalu ketat di bagian perut akan mengganggu gerak pernapasan bayi, sebab bayi yang baru lahir belum bisa langsung bernapas dengan paru-paru. Bayi pada umumnya bernapas masih lewat perut.

Bayi bernapas lebih cepat daripada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa. Tingkat pernapasan normal pada bayi baru lahir umumnya sekitar 40 kali napas per menit. Ini bisa melambat sampai 20 sampai 30 kali per menit saat bayi tidur.

Pola bernapas pada bayi mungkin juga berbeda. Bayi mungkin bernapas dengan cepat untuk beberapa kali, kemudian beristirahat sejenak kurang dari 10 detik, lalu bernapas lagi. Ini sering disebut pernapasan periodik dan merupakan hal normal, yang akan membaik seiring waktu. Nah, penggunaan gurita bayi yang terlalu ketat bisa mengganggu sistem pernapasan bayi yang belum “matang” ini, dan akibatnya bisa fatal.

Sesak napas pada bayi bisa berakibat fatal — dari kerusakan otak hingga kematian

Perubahan pada kecepatan atau pola pernapasan bayi, batuk atau tersedak yang tak kunjung henti, suara mendengkur keras, atau perubahan warna kulit yang membiru bisa berarti bayi mengalami gangguan pernapasan dan memerlukan pertolongan medis segera. Saat bayi yang baru lahir kekurangan oksigen, napasnya akan menjadi cepat dan dangkal. Jika situasinya terus berlanjut, ia akan berhenti bernapas sepenuhnya, detak jantungnya akan jatuh, dan ia akan kehilangan kekuatan otot.

Jika hal ini terjadi, sebetulnya masih sangat mungkin untuk mengembalikan kondisi bayi dengan memberi bantuan napas dan paparan oksigen berlanjut. Namun, jika bayi yang baru lahir terus kekurangan oksigen, ia akan mulai terengah-engah, dan kemudian ia akan berhenti bernapas lagi. Detak jantung, tekanan darah, dan kekuatan ototnya akan terus turun, sehingga ia akan kehilangan kesadaran. Ada juga risiko kerusakan otak jika tidak ada cukup oksigen yang mencapai otak. Pada kasus yang fatal, bayi bisa mati kehabisan napas akibat tercekik kekurangan oksigen.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Kulit Bayi Mengelupas di Minggu Pertamanya, Apakah Berbahaya?

Ketika bayi mengalami gejala tertentu, pasti orangtua akan cemas. Apalagi jika bayi baru lahir. Bagaimana jika kulit bayi mengelupas di minggu pertamanya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

2 Jenis Hepatitis Berdasarkan Penyebabnya, Apa Saja?

Hepatitis mengacu pada peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Namun, ada juga jenis hepatitis yang tidak disebabkan infeksi virus.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 6 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Penyakit Hepatitis

Penyakit hepatitis adalah salah satu ancaman kesehatan utama di dunia. Ketahuai apa saja penyebab, gejala, dan pengobatannya pada artikel berikut.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 6 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit

Panduan Menjalani 30 Hari Diet Bebas Gula

Konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, hingga kanker. Untuk memerangi risiko mengerikan ini, satu solusinya: diet bebas gula.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Tips Makan Sehat, Nutrisi 4 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menghilangkan rasa cemas

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
bagaimana cara menghilangkan stres

9 Makanan yang Membantu Menghilangkan Stres

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit