Benarkah Pemakaian Bedak Bayi Bisa Membahayakan Si Kecil?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/04/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Bedak bayi menjadi salah satu produk perawatan kulit bayi yang sering digunakan dan sudah menjadi kebiasaan turun temurun. Aromanya yang harum membuat tubuh si kecil sangat nyaman untuk dicium. Namun, sempat muncul kekhawatiran soal bahaya bedak bayi. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Berikut jawabannya untuk Anda.

Bedak bayi terbuat dari apa?

Bahan baku utama yang terdapat dalam bedak bayi adalah talkum, atau talc. Talc adalah sejenis mineral yang terdiri atas magnesium, silikon, dan oksigen.

Dalam bedak tabur, mineral ini sangat berguna untuk menyerap kelembapan dan mengurangi gesekan antar kulit. Inilah yang menjadi alasan mengapa bedak talc mampu menjaga kulit tetap kering dan terhindar dari ruam.

Selain talc, bedak bayi juga dapat mengandung bahan lain, seperti pati jagung, trikalsium fosfat, pengharum khusus, dan vitamin E.

Pada beberapa produk bedak tabur, Anda juga dapat menemukan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat produk pembersih, sampo, dan parfum.

Penggunaan bedak bayi banyak menimbulkan pro dan kontra. Hal ini karena kandungan talc dalam bedak tabur yang pada dasarnya mengandung asbestos dianggap bahaya untuk bayi.

Jadi sebenarnya, asbestos adalah sejenis mineral berbentuk serat mikroskopis yang dapat melukai paru-paru bila terhirup. Itu sebabnya paparan talc dalam jangka panjang disinyalir dapat menimbulkan masalah pada sistem pernapasan.

Apakah bayi membutuhkan bedak?

Umumnya bedak bayi banyak digunakan oleh orangtua untuk menjaga agar area bokong bayi tetap kering dan harum. Hal ini dilakukan guna mencegah ruam popok.

Namun ternyata, bayi Anda tidak membutuhkan bedak. Kulit si kecil yang masih sangat rentan justru sebaiknya dibiarkan dalam kondisi alamiahnya, tanpa diberi tambahan bahan-bahan kimia yang berisiko bagi kesehatannya. 

Dokter Spesialis Anak, Atilla Dewanti, menjelaskan bahwa penggunaan bedak bayi dan produk perawatan kulit lain tidak wajib untuk si kecil. 

Produk perawatan bayi dapat digunakan apabila anak memiliki kondisi khusus, seperti kulit kering atau sensitif yang perlu perawatan ekstra.

Bayi dengan kulit yang sensitif umumnya memang membutuhkan produk perawatan, seperti losion agar kulitnya tetap lembap.

“Inilah sebabnya setiap ibu harus memahami kondisi anaknya terlebih dahulu sebelum memberikan produk apa pun. Kenali apakah anak Anda memiliki kulit yang sensitif, atau terdapat alergi terhadap bahan tertentu,” tambahnya.

Bagi Anda yang sudah menggunakan bedak tabur dalam waktu yang lama, awasi perkembangan buah hati Anda dengan cermat. Waspadai ciri-ciri gangguan pernapasan seperti bersin dan batuk yang berkepanjangan.

Jika anak Anda mengalami gejala tersebut, jangan menunda untuk memeriksakan kondisinya dengan segera.

Apa bahaya pemakaian bedak pada bayi?

Beberapa tahun belakangan, penggunaan bedak bayi menimbulkan pro dan kontra karena dianggap berbahaya. Padahal, produk perawatan kulit bayi yang satu ini sangat rutin digunakan oleh orangtua untuk melindungi kulit bayi yang lembut.

Kalau Anda sering menggunakan bedak bayi untuk si buah hati, berikut beberapa risikonya yang perlu menjadi bahan pertimbangan:

Masalah pernapasan

Bedak bayi terdiri dari partikel-partikel sangat halus yang mudah menyebar dan terbawa udara. Partikel tersebut bisa terhirup oleh bayi Anda.

Paru-paru dan sistem pernapasan bayi belum sekuat orang dewasa, partikel yang terhirup lebih berisiko menimbulkan masalah pernapasan.

Sebuah penelitian tahun 2011 yang berjudul An uncommon hazard: Pulmonary talcosis as a result of recurrent aspiration of baby powder menemukan fakta mengejutkan.

Dalam penelitian disebutkan bahwa bedak tabur bayi dapat menimbulkan gangguan pernapasan yang disebut pulmonary talcosis.

Pulmonary talcosis terjadi akibat paparan talkum dalam waktu lama. Kondisi ini ditandai dengan kesulitan bernapas serta batuk berkepanjangan. Tidak hanya bayi, orang dewasa pun dapat mengalaminya.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kasus pulmonary talcosis terjadi pada seorang ibu yang rutin menggunakan bedak bayi setidaknya sebanyak dua kali sehari selama bertahun-tahun.

Hal ini terjadi terutama jika sudah terlalu banyak partikel yang mengendap dalam sistem pernapasan buah hati Anda.  

Kulit kering dan iritasi

Meski banyak orangtua menggunakan bedak bayi untuk melindungi kulit dari iritasi, ruam popok, dan keringat berlebih, bedak justru bisa memicu masalah-masalah tersebut.

Kulit bayi masih sangat sensitif sehingga bahan-bahan kimia dalam bedak seperti talc dan pewangi berisiko menyebabkan iritasi pada kulit bayi.

Selain itu, bedak bayi akan menyerap kelembapan alami kulit bayi sehingga kulit si kecil bisa terasa kering dan gatal. Hati-hati juga saat menggunakan bedak bayi untuk mengobati ruam popok.

Benarkah bedak bayi bahaya dan bisa menyebabkan kanker?

Mungkin Anda pernah dengar soal bahaya bedak bayi yang dibuat dari talc. Bedak talc atau talkum mengandung bahan-bahan kimia seperti silikon dan asbestos yang bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). 

Namun, hal itu ternyata tidak dibenarkan berdasarkan penelitian dalam jurnal berjudul Ovarian Cancer and “Tainted Talc”: What Treating Physicians Need to Know.

Penelitian ini mencoba membuktikan hubungan antara penggunakan bedak talc dengan kanker ovarium.

Dari penelitian yang dilakukan American Cancer Society, ada 22.240 kasus baru yang didiagnosis kanker ovarium. Bahkan 14.070 kematian akibat kanker ovarium di Amerika Serikat.

Namun, dari berbagai faktor yang menyebabkan kematian dan sudah diidentifikasi, talc tidak ada di dalam daftar tersebut.

Ini yang membuat Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat tidak mencantumkan bedak bayi sebagai penyebab kanker ovarium.

Namun, tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk membuktikannya secara pasti.

Hal yang harus diperhatikan saat menggunakan bedak bayi

Sebagian bayi mungkin lebih rentan terhadap bahaya dari pemakaian bedak bayi. Anda perlu berhati-hati jika si kecil lahir prematur, punya penyakit jantung bawaan, atau mewarisi masalah pernapasan seperti asma pada anak atau pernah terjangkit virus sinsisial pernapasan (RSV). 

Namun, kalau si kecil tidak rentan terhadap bahaya bedak bayi, Anda bisa menggunakannya dengan bijak. Perhatikan beberapa hal berikut untuk mengurangi risiko bedak bayi pada si buah hati:  

Pilih bedak dari tepung jagung

Bahaya bedak bayi untuk pernapasan bisa dikurangi dengan beralih ke bedak yang dibuat dari tepung jagung (cornstarch).

Bedak bayi jenis ini partikelnya lebih besar sehingga kemungkinannya terhirup oleh bayi lebih kecil sehingga dapat mengurangi risiko bahaya. 

Rutin mengganti popok 

Untuk menghindari area popok yang lembap, Anda sebaiknya sering mengganti popok si kecil.

Setelah membersihkan area popok, biarkan dulu sampai kering dengan alami daripada memberikan terlalu banyak bedak bayi.

Setelah itu, kenakan popok yang baru dengan menaburkan sedikit saja bedak bayi. 

Bersihkan sisa-sisa bedak pada kulit bayi

Jika bedak bayi mengendap dan tersisa di kulit, bayi Anda berisiko mengalami iritasi atau alergi.

Maka, pastikan Anda selalu membersihkan sisa-sisa bedak yang menempel di kulit bayi setiap mengganti popok atau memandikan bayi. 

Tuang di tangan terlebih dahulu

Jangan langsung menuangkan bedak di kulit bayi, terutama di dekat wajahnya. Partikel-partikel bedak akan jadi lebih mudah dihirup bayi.

Sebaiknya tuang dulu bedak di tangan Anda, jauh dari si buah hati. Setelah itu ratakan di telapak tangan, baru tepuk-tepuk dengan sangat pelan pada kulit bayi Anda.

Jika bayi Anda batuk-batuk atau sulit bernapas, segera hubungi layanan gawat darurat dan periksakan bayi Anda ke pusat kesehatan terdekat. 

Memakai bedak cair

Saat ini ada pilihan untuk mengganti bedak tabur dengan bedak cair. Keduanya sama-sama mengandung talc, tapi teksturnya yang berbeda. Bedak cair tidak mudah terhirup oleh si kecil.

Pemakaiannya sama seperti losion atau pelembap bayi pada umumnya. Bahkan pemakaian bedak cair bisa digunakan setelah atau sebelum losion. Tekstur keduanya yang mirip tidak membuatnya menggumpal di kulit bayi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pijat Prostat, Benarkah Bisa Atasi Masalah Prostat dan Seksual?

Dewasa ini, pijat prostat mulai banyak dicari. Banyak yang yakin pijat ini bisa jadi solusi berbagai keluhan di area prostat. Apa memang benar?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Urologi, Prostat 05/08/2020 . Waktu baca 6 menit

Nafsu Seks Siapa yang Lebih Besar? Pria atau Wanita?

Semua orang punya nafsu seks yang berbeda. Namun apakah benar nafsu seks pria lebih besar dari wanita? Simak apa kata hasil penelitian.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

5 Ramuan Alami Terbaik untuk Mengatasi Rambut Kering

Rambut kering memang bikin penampilan terlihat kusam. Mari simak cara mengatasi rambut kering menggunakan 5 bahan alami pada penjelasan di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Rambut Rontok, Hidup Sehat 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Lemak Paha Anda Sulit Dihilangkan? Ini Penyebabnya

Tahukah Anda bahwa lemak paha adalah lemak yang sulit dihilangkan dibandingkan dengan lemak yang ada di bagian tubuh lain? Lalu apa penyebabnya?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 30/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengobati infeksi saluran kencing obat cefixime antibiotik

7 Pengobatan Alami Mengobati Infeksi Saluran Kencing

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 8 menit
penyebab infeksi saluran kencing

Berbagai Penyebab Penyakit Infeksi Saluran Kencing yang Perlu Anda Ketahui

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
kesehatan kandung kemih

Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Kandung Kemih bagi Pria dan Wanita?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
manfaat ginseng buat pria

Ginseng Korea: Benarkah Ampuh Atasi Berbagai Masalah Seksual Pria?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 4 menit