Pertimbangkan 5 Hal Ini Sebelum Memutuskan Homeschooling untuk Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Banyak orangtua yang kini melirik metode pembelajaran homeschooling untuk melatih perkembangan kognitif anak. Apalagi, orangtua dapat mengajar atau pun menyeleksi sendiri pengajar yang dianggap sesuai untuk anak. Namun, apakah homeschooling benar cocok untuk anak Anda daripada sekolah biasa? Simak penjelasannya sebagai berikut.

Perbedaan homeschooling dan sekolah formal

anak homeschooling

Mengutip dari laman Kids Health, homeschooling adalah menyekolahkan anak di rumah. Jadi, ini merupakan kondisi saat anak belajar pendidikan formal dengan orangtua atau pengajar di rumah.

Umumnya, pada perkembangan anak usia sekolah, ia akan pergi ke sekolah formal untuk mendapatkan pendidikan.

Saat memutuskan untuk memberikan pendidikan anak melalui homeschooling, tentu Anda harus memikirkan beberapa pertimbangan secara matang.

Pasalnya, terdapat beberapa perbedaan antara homeschooling dan sekolah formal, di antaranya:

1. Materi pembelajaran

Sekolah formal

Materi pembelajaran di sekolah formal biasanya telah ditentukan oleh pihak sekolah berdasarkan kurikulum pemerintah.

Jadi, ketika Anda kurang menyetujui sebagian kurikulum, Anda tidak bisa menentang kurikulum tersebut.

Di sekolah formal, guru berusaha untuk memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing anak. Namun, akan ada tekanan yang mungkin dirasakan guru agar murid bisa menyelesaikan tes.

Artinya, pelajaran di sekolah formal umumnya diajarkan pada anak semata agar ia bisa menyelesaikan tes di sekolah dengan baik.

Homeschooling

Hal ini cukup berbeda dengan metode pengajaran homeschooling. Orangtua dapat membuat atau memilih kurikulum berdasarkan pengetahuan yang sesuai dengan usia anak.

Selain itu, ada pula kelebihan homeschooling seperti fleksibilitas dalam belajar. Jadi, orangtua bisa meningkatkan materi belajar pada mata pelajaran yang paling dikuasai anak.

Tujuan fleksibilitas belajar adalah agar kemampuan anak dalam mata pelajaran tersebut semakin meningkat.

Sementara itu, pada mata pelajaran yang terasa sulit orangtua atau tutor bisa memberikan bantuan agar anak lebih mudah mengerti materi tersebut.

Di samping itu, metode pembelajaran juga tidak melulu fokus pada buku teks karena juga melibatkan banyak praktik.

Sebagai contoh, menjadi sukarelawan, berjualan, dan kegiatan ekstrakulikuler lainnya. Hal ini membuat anak dapat pengalaman serta pelajaran yang lebih bermakna.

2. Lingkungan tempat belajar

Sekolah formal

Saat belajar di sekolah formal, anak akan melalui proses belajar mengajar di lingkungan atau suasana yang cukup kondusif.

Belum lagi saat sekolah sudah menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan. Sebagai contoh, telah tersedia papan tulis beserta alat untuk menulis, layar LCD, komputer, laboratorium, dan lain-lain.

Setiap orangtua mungkin memiliki standar yang berbeda mengenai lingkungan tempat belajar anak.

Artinya, bisa saja orangtua A merasa bahwa lingkungan sekolah sudah cukup ideal bagi anak untuk belajar. Sementara, orangtua B justru merasakan sebaliknya.

Di sekolah formal, anak akan bertemu dengan banyak orang, termasuk guru dan teman-teman sebaya.

Selama berada di sekolah, anak akan mengikuti aturan yang berlaku. Hal ini, sedikit banyak bisa memengaruhi pembentukan karakter anak.

Homeschooling

Jika orangtua merasa peraturan di sekolah tidak sejalan dengan pendidikan moral yang di rumah, tentu hal ini bisa menyebabkan kekhawatiran.

Oleh sebab itu, orangtua bisa memilih homeschooling untuk memiliki kontrol penuh terhadap lingkungan belajar anak.

Apalagi, orangtua dapat meminimalisasi atau memperkecil gangguan belajar dan menyediakan waktu agar anak bersosialisasi setelah pelajaran usai.

3. Perhatian terhadap anak

Sekolah formal

Saat anak belajar di sekolah formal, perhatian guru pada setiap mata pelajaran terbagi dengan seluruh anak di satu kelas.

Artinya, satu orang guru harus menyampaikan materi pelajaran dengan tepat agar anak dengan karakteristik dan kemampuan berbeda bisa memahaminya.

Tentu hal ini bukan pekerjaan yang mudah. Namun, bisa mengakibatkan sebagian anak terpaksa mengikuti apa yang disampaikan guru meski ia belum sepenuhnya mengerti mengenai materi.

Jika dibiarkan berlarut-larut, siswa atau siswi tersebut mungkin saja tertinggal dari teman-teman satu kelasnya.

Homeschooling

Berbeda dengan homeschooling karena pasalnya hanya akan ada satu tutor untuk satu murid. Artinya, perhatian tutor atau pengajar hanya akan tertuju pada anak Anda.

Saat tidak memahami mengenai suatu materi, ia bisa segera memberi tahu pengajar sehingga anak akan diberikan pemahaman sampai benar-benar mengerti.

Anak di sekolah formal cukup sulit mendapatkan hal ini karena mungkin waktu guru tidak akan mencukupi untuk menangani murid satu persatu.

Maka, dapat dikatakan bahwa perhatian yang didapatkan anak dalam proses belajar adalah salah satu kelebihan dalam homeschooling.

Anda bisa mempertimbangkan hal ini jika ingin mendidik anak dengan metode pembelajaran di rumah.

4. Kesehatan dan keamanan anak

Sekolah formal

Melepaskan anak untuk pergi ke sekolah setiap hari membuat Anda sebagai orangtua harus siap dengan berbagai risiko.

Sebagai contoh, Anda tidak bisa menjamin bahwa setiap sudut lingkungan sekolah bebas dari kuman dan bakteri.

Meski begitu, bukan berarti gedung dan bangunan sekolah sudah pasti kotor. Pasalnya, sekolah juga tentu sudah menjamin kebersihan kelas dan fasilitas lainnya seperti kantin.

Sayangnya, Anda tidak tahu apakah anak memiliki kesadaran penuh untuk selalu mencuci tangan dan menjaga kebersihan diri selama berada di luar rumah.

Belum lagi dengan bertemunya banyak orang di sekolah, ia mungkin saja mengalami penyakit infeksi pada anak yang rentan seperti cacar, flu, dan lain-lainnya.

Homeschooling

Sementara itu, jika anak belajar dari rumah atau homeschooling, Anda bisa menjaga kebersihan anak dengan maksimal.

Anda juga bisa selalu mengingatkan anak untuk menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan sebelum makan.

Maka dari itu, homeschooling tentu lebih efektif bagi Anda yang merasa khawatir dalam menjaga kesehatan dan kebersihan anak.

5. Perkembangan sosial anak

Sekolah formal

Seiring dengan bertambahnya usia, anak juga terus mengalami berbagai perkembangan. Salah satunya adalah perkembangan sosial anak.

Belajar di sekolah formal dapat membantu anak meningkatkan perkembangan sosialnya. Hal ini terjadi karena anak bertemu dengan banyak orang, termasuk guru dan teman sebaya.

Saat bertemu dengan orang yang banyak, anak akan mengalami berbagai perubahan dalam kemampuan bersosialisasi. Sebagai contoh, anak menjadi lebih mandiri dan belajar menghargai orang lain.

Homeschooling

Sementara itu, anak mungin sulit mendapatkan hal ini saat homeschooling. Bahkan, teman belajarnya kemungkinan besar hanyalah saudara yang juga menjalani program sekolah di rumah.

Maka dari itu, Anda juga harus membantu agar anak tetap meningkatkan kemampuan sosialnya.

Sebagai contoh, membiarkannya ikut berbagai kegiatan seperti bergabung di dalam komunitas, les yang sesuai dengan hobinya, atau ekstrakulikuler lainnya.

Jadi, apakah homeschooling pilihan yang baik untuk anak Anda?

anak belajar di sekolah formal atau homeschooling

Sebagian orangtua mungkin masih ragu untuk menerapkan metode homeschooling pada anak.

Namun, Anda tidak perlu khawatir karena melansir Kids Health, ini merupakan metode belajar yang sah atau legal dan tidak sedikit anak yang telah menjalaninya.

Anda perlu mempertimbangkan karena setiap anak akan merasakan pengaruh yang berbeda.

Hal ini penting dilakukan untuk memastikan apakah metode homeschooling dapat membantu anak belajar lebih baik.

Namun, ada beberapa faktor yang patut menjadi pertimbangan utama Anda untuk memilih homeschooling, seperti:

1. Disabilitas pada anak

Anak yang memiliki disabilitas, khususnya fisik mungkin akan kesulitan belajar sesuai dengan kebutuhannya di sekolah formal karena waktu dan sumber belajar yang terbatas.

Homeschooling mungkin adalah pilihan yang tepat bagi anak disabilitas agar orangtua dapat memenuhi kebutuhannya dalam proses belajar.

Anak juga bisa belajar sesuai dengan kapasitasnya sekaligus mencari tahu apa yang ia minati. Ini juga memberikan kesempatan agar Anda bisa mengawasi anak tanpa rasa khawatir.

2. Orangtua kerap pindah lokasi kerja

Memiliki orangtua yang sering pindah kerja ke berbagai daerah atau negara mungkin bukan hal yang mudah bagi anak usia sekolah.

Pasalnya, saat mengikuti orangtua pindah, anak juga harus ikut pindah sekolah. Sementara itu, anak juga perlu adaptasi berulang kali.

Apalagi, kalau orangtua pindah ke daerah terpencil dengan fasilitas yang kurang memadai.

Dalam kondisi seperti ini, homeschooling mungkin menjadi pilihan tepat sehingga Anda bisa menyesuaikan dalam memberikan pelajaran.

Dengan begitu, anak Anda juga memahami bahwa apa pun kondisinya, pendidikan adalah hal yang penting dan harus diusahakan yang terbaik.

3. Kegiatan anak yang padat

Dari sekian banyaknya pelajar, beberapa di antaranya telah mencetak prestasi sejak kecil. Ada yang sudah memulai karir menjadi pemain film, atlet, penyanyi, dan lain sebagainya.

Pendidikan memang penting, tapi bukan berarti Anda melewatkan kesempatan berkarya dan mencetak prestasi anak di luar bidang pendidikan begitu saja.

Apabila Anda mendukung prestasinya, mungkin perlu mempertimbangkan homeschooling agar anak tidak melupakan kewajibannya untuk belajar.

Jadi, ia tetap bisa mendapatkan pendidikan sekaligus mencetak prestasi di luar sekolah.

Pada akhirnya, keputusan untuk menyekolahkan anak di sekolah formal atau di rumah ada di tangan Anda sebagai orangtua. Jangan lupa untuk menanyakan pendapat anak apa yang ia inginkan.

Jika anak sangat menginginkan untuk menempuh pendidikan di sekolah formal, kemungkinan hal tersebut memang terbaik untuk anak Anda.

Kunci utamanya adalah bagaimana Anda sebagai orangtua mampu mengkomunikasikan kebutuhan dan kemampuan anak pada pengajar, baik di sekolah maupun homeschooling.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

10 Cara Seru Mengajarkan Anak Belajar Membaca

Hobi membaca buku wajib ditanamkan sejak kecil agar terus berlanjut sampai dewasa. Bagaimana cara mengajarkan anak mulai belajar membaca?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 16 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit

TBC Pada Anak: Ketahui Gejala, Perbedaan dengan Orang Dewasa, dan Pengobatannya

Banyak kasus TBC atau TB pada anak terlambat ditangani karena gejalanya sering kali bukan batuk-batuk. Apa saja gejala yang biasanya muncul pada anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Gangguan Pernapasan pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 14 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

Ciri Depresi Pada Remaja dan Hal yang Perlu Orangtua Lakukan

Depresi bisa terjadi pada siapapun, termasuk remaja. Apa saja yang sering jadi penyebab depresi pada remaja, dan bagaimana cara mengenalinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 5 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

5 Manfaat Baca Buku untuk Tumbuh Kembang Anak

Membaca merupakan kegiatan posistif bagi siapa pun, termasuk anak-anak. Apa saja manfaat baca buku untuk anak?Yuk cari tahu jawabannya!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 5 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gaya pengasuhan

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
kasur tempat tidur bayi

4 Tips Mudah Memilih Kasur Bayi yang Aman dan Nyaman

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 27 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
anak cengeng

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Serba-Serbi Mengahadapi Anak Introvert

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit