Orangtua Perlu Tahu, Ini Persiapan Menjelang Sekolah Tatap Muka

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

November lalu, telah beredar Surat Keputusan Bersama (SKB) dari beberapa kementerian: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang membahas penyelenggaraan sekolah tatap muka pada bulan Januari 2021 mendatang.

Keputusan ini tentu membuat beberapa orangtua merasa khawatir. Pasalnya, penularan Covid-19 setiap hari semakin meningkat, sehingga orangtua merasa cemas bila anak diharuskan belajar langsung di sekolah.

Namun, Anda tak perlu cemas lagi, berikut rangkuman mengenai penerapan sekolah tatap muka dan beberapa tips mempersiapkan anak Anda untuk belajar di sekolah pada masa New Normal.

Kebijakan penerapan sekolah tatap muka

anak sehat saat sekolah

Perlu diketahui, bahwa tidak semua sekolah diizinkan untuk menerapkan kegiatan belajar secara langsung. Hal ini dikarenakan sekolah harus memenuhi enam persyaratan dalam daftar pemeriksaan berikut:

  1. Ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan yang layak, seperti toilet bersih, sarana cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau hand sanitizer, dan disinfektan
  2. Kemampuan mengakses fasilitas pelayanan kesehatan
  3. Kesiapan sekolah untuk menerapkan wajib masker
  4. Sekolah memiliki alat pengukur suhu badan (thermogun)
  5. Sekolah memiliki pemetaan warga satuan pendidikan sebagai berikut:
    • Data komorbiditas guru, murid dan pengurus sekolah lainnya tidak terkontrol
    • Tidak memiliki akses transportasi yang aman
    • Memiliki riwayat perjalanan dari daerah zona merah Covid-19 atau riwayat kontak dengan pasien positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri
  6. Persetujuan komite sekolah atau perwakilan orangtua/wali

Bila sekolah anak Anda memenuhi keenam daftar pemeriksaan di atas, sekolah anak Anda mungkin akan dibuka untuk kegiatan belajar tatap muka.

Namun, bila ada salah satu poin, misalnya persetujuan dari komite sekolah atau perwakilan orangtua/wali yang tidak terpenuhi, maka kemungkinan besar anak Anda akan tetap melanjutkan kegiatan belajar dari rumah.

Mempersiapkan anak untuk sekolah tatap muka

memilih sekolah untuk anak

Jika pada akhirnya anak Anda diharuskan untuk belajar di sekolah secara langsung, segera lakukan persiapan untuk mengurangi risiko penularan Covid-19. Berikut beberapa cara mempersiapkan anak sebelum kegiatan belajar di sekolah berlangsung.

  • Pastikan anak Anda tidur malam yang cukup sebelum bersekolah
  • Beritahu anak bahwa ada perubahan tentang kegiatan sekolah tatap muka di tengah pandemi, dan bahwa perubahan tersebut dilakukan demi menjaga anak dan semua orang di sekitarnya tetap sehat
  • Beri pengertian dan diskusikan dengan anak mengenai informasi yang beredar tentang Covid-19, dan dorong anak untuk bercerita dengan Anda atau gurunya perihal perasaan mereka selama menghadapi pandemi
  • Ajarkan anak tentang kebiasaan baik di masa pandemi seperti cara mencuci tangan dengan benar, menutup mulut saat batuk dan bersin, tinggal di rumah bila sedang tidak enak badan, dan menggunakan masker di tempat umum
  • Imbau anak untuk memperhatikan kebersihan makanan dan minuman yang mereka konsumsi, dan ajari anak untuk tidak berbagi alat makan yang sama dengan orang lain
  • Ajarkan anak untuk tidak merendahkan orang lain yang sakit di masa pandemi Covid-19

Persiapan sekolah tatap muka pada anak usia PAUD atau TK

Bagi anak usia PAUD atau TK, Anda dapat mengajarkan kebiasaan baik di tengah pandemi dengan pendekatan yang berbeda, seperti:

  • Menyediakan masker dengan motif yang disukai anak agar mereka merasa nyaman saat memakainya.
  • Saat mengajarkan cara cuci tangan dengan benar, gunakan analogi glitter sebagai bakteri yang menempel pada tangan anak. Taruhlah glitter di tangan anak dan cuci tangan anak hanya dengan air. Lalu, jelaskan bahwa masih ada glitter yang menempel. Untuk itu, mereka harus mencucinya dengan air mengalir dan sabun agar glitter atau bakterinya hilang.
  • Ajarkan anak untuk bernyanyi saat mencuci tangan, seperti dengan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ yang diulang dua kali selama 20 detik.
  • Saat mengajarkan cara batuk dan bersin yang benar, gunakan botol semprot dan tunjukkan seberapa jauh kuman dan virus dapat menyebar jika kita tidak menutupi batuk/bersin.

Secara umum, selalu imbau anak untuk mengikuti protokol kesehatan di luar rumah, khususnya di sekolah. Mulai dari memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama 20 detik atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol 60%, serta menjaga jarak minimal 1,5 meter dari orang lain.

Yang terpenting, pastikan Anda selalu memantau kesehatan anak di rumah. Jika anak menunjukkan gejala penyakit tertentu, biarkan anak tinggal di rumah dan tidak pergi ke sekolah. Bila perlu, bawalah anak ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Mengatasi anak yang sakit di masa pandemi

gejala dbd pada anak

Selain mempersiapkan dan mengajarkan anak untuk mengikuti protokol kesehatan saat sekolah tatap muka, orangtua juga perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan lain yang bisa saja terjadi, seperti anak yang jatuh sakit.

Salah satu penyakit yang rentan menyerang anak di masa pandemi adalah demam. Tak perlu khawatir, demam pada anak dapat diatasi dengan memberikan obat yang mengandung ibuprofen.

Selain demam, ibuprofen juga dapat meredakan nyeri dan radang, yang mana radang tidak dapat diredakan oleh obat demam lain seperti parasetamol.

Anda dapat memberikan anak obat demam ibuprofen dalam bentuk sirup dengan rasa jeruk atau strawberry yang disukai anak-anak.

Obat demam ibuprofen dalam bentuk sirup tersebut dapat bekerja cepat dalam waktu 30 menit untuk menurunkan demam. Obat jenis ini juga memiliki efek obat yang tahan lama (pemberian cukup 6-8 jam sekali), sehingga anak dan orangtua dapat beristirahat lebih tenang.

Namun, bila demam pada anak tak kunjung sembuh dalam waktu dua hari dan disertai gejala lain, khususnya gejala Covid-19, Anda direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Jika diperlukan, Anda dapat segera melakukan tes swab untuk mengetahui kondisi keluarga Anda di masa pandemi ini.

Profil keamanan penggunaan ibuprofen di masa pandemi

Sebelumnya, terdapat penelitian yang dipublikasikan Lancet Respiratory Medicine Journal mengenai penggunaan ibuprofen yang dilarang karena dapat memperparah gejala Covid-19, salah satunya adalah demam.

Namun, penelitian ini dianggap tidak valid, karena terdapat beberapa penelitian lain yang menyatakan hal sebaliknya. Misalnya, penelitian dari Public Health Emergency COVID-19 Initiative dan Chest Journal.

Secara singkat, kedua penelitian ini menyatakan bahwa ibuprofen tidak terbukti memperparah gejala Covid-19. Penelitian yang dipaparkan oleh penelitian dari Lancet dinilai tidak relevan.

National Health Service juga mengonfirmasi bahwa tidak ada bukti valid mengenai penggunaan ibuprofen untuk mengobati gejala seperti suhu tinggi dapat memperparah Covid-19.

Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir lagi bila ingin memberikan ibuprofen untuk mengobati anak yang terserang demam di masa pandemi. Jangan lupa untuk selalu ikuti petunjuk penggunaan sebelum mengonsumsi obat jenis apapun seperti ibuprofen.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berapa Banyak Dosis Aman Minum Obat Pereda Nyeri?

Obat pereda nyeri memang efektif, tapi juga memiliki sederet efek samping. Lalu, berapa banyak dosis aman minum obat pereda nyeri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Meski belum terbukti ampuh mencegah COVID-19, jamu dan obat tradisional dapat membantu meningkatkan imun tubuh di masa pandemi. Apa saja contohnya?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Pengobatan Herbal dan Alternatif 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
obat pilek bayi

Pilihan Obat Pilek yang Bisa Diberikan pada Anak dan Bayi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit