home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pilihan Menu dan Aturan Diet Aman untuk Anak yang Kelebihan Berat Badan

Pilihan Menu dan Aturan Diet Aman untuk Anak yang Kelebihan Berat Badan

Anak sekolah yang kelebihan berat badan atau tergolong obesitas butuh menu diet untuk menjaga asupan makanan hariannya. Namun, sebaiknya anak tidak asal menjalani diet. Anda sebagai orangtua perlu memberikan menu diet dan menerapkan aturan makan yang tepat agar usaha anak usia sekolah dalam menurunkan berat badan tidak terasa menyiksa. Cari tahu tipsnya di sini, yuk!

Bolehkah anak diet untuk menurunkan berat badan?

obesitas anak

Diet secara harfiah sebenarnya diartikan sebagai pengaturan pola makan sesuai kondisi kesehatan, misalnya diet untuk penyakit jantung, diabetes, dan lainnya.

Jadi, diet tidak selalu mengarah pada penurunan berat badan. Diet yang terkait penyakit bisa ditujukan untuk mengatur pola makan dan memilah-milah mana makanan yang boleh serta tidak boleh dimakan.

Diet pada anak obesitas ini tentu bertujuan untuk menurunkan berat badan anak sekaligus membantu mengatur asupan makanannya.

Meski bertujuan untuk menurunkan berat badan, diet untuk anak berbeda dengan diet yang dilakukan orang dewasa.

Anak-anak, termasuk di masa perkembangan usia 6-9 tahun, masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga sangat butuh berbagai macam gizi anak.

Jika anak melakukan diet yang diharuskan membatasi asupan makannya, tentu nutrisi tersebut tidak bisa dicukupi oleh anak.

Akibatnya, diet justru dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jadi, diet untuk obesitas pada anak bisa dilakukan secara perlahan dengan tetap memerhatikan asupan makanan guna mendukung perkembangan fisik anak.

Sebaliknya, diet untuk anak tidak dalam waktu singkat dan jumlah yang besar. Cara diet untuk mencapai berat dan tinggi badan ideal anak juga bukan dengan membatasi asupan makan.

Anak usia sekolah tetap harus menerapkan pola makan sehat dengan menu makanan diet yang tepat dan olahraga secara teratur.

Pilihan menu diet untuk anak sekolah

sumber protein untuk anak

Supaya usaha diet anak sekolah yang obesitas dalam menurunkan berat badan lebih mudah, Anda perlu membuat daftar menu makan harian.

Menu diet untuk anak sekolah pun masih memungkinkannya makan makanan favoritnya. Hanya saja, Anda perlu memilah-milah sumber makanan dan membatasi kalori yang si kecil makan.

Berikut pilihan menu diet untuk anak sekolah yang mengalami obesitas:

1. Sereal gandum dan susu skim dengan buah-buahan

Semangkuk seral gandum dengan tambahan susu anak jenis skim yang cair dan beberapa potongan buah bisa menjadi ide bagus sebagai menu sarapan anak.

Melansir dari laman Mayo Clinic, sereal gandum memiliki kandungan serat yang cukup tinggi sehingga membantu anak merasa kenyang.

Jika anak kenyang, tentu akan menurunkan keinginannya untuk makan camilan maupun makanan berat di luar jam makan seharusnya. Alhasil, berat badan anak bisa turun dan lebih terjaga.

2. Ayam atau daging tumis kecap

Anak tetap boleh makan daging ayam dan daging sapi, kok. Hanya saja, pastikan Anda memberikan bagian daging yang tidak banyak mengandung lemak.

Ambil contohnya berikan menu diet anak sekolah berupa ayam bagian dada dan daging sapi tanpa lemak.

Jangan khawatir anak akan kekurangan asupan lemak karena daging ayam dan daging sapi sendiri sebenarnya sudah mengandung lemak.

Bahkan, daging ayam dan daging sapi juga kaya kandungan protein. Anda bisa mengolah daging ayam dan daging sapi dengan ditumis lalu diberi tambahan kecap manis.

Pilihan sumber protein dan lemak hewani sehat lainnya bisa dengan membuat olahan ikan dan telur.

3. Spageti bolognese dengan sayuran

Menu diet untuk anak sekolah selanjutnya bisa dengan membuat spageti bolognese.

Menu diet anak usia sekolah guna menurunkan berat badan ini bisa Anda sajikan saat waktu makan utama maupun sebagai selingan di sore hari, tentunya dengan porsi yang berbeda.

Anda bisa menambahkan sayuran seperti brokoli dan kembang kol untuk menambah asupan serat dan vitamin anak.

4. Sup tahu dan sayuran

Sup tahu ditambah dengan sayuran bisa menjadi pilihan menu diet lainnya untuk anak usia sekolah yang sedang ingin menurunkan berat badan.

Pilihan sayurannya bisa berupa daun bawang, sawi, brokoli, wortel, kol, jagung dan lainnya. Anda juga bisa menambah potongan sosis ke dalam sup.

Aturan diet yang aman untuk anak sekolah

Menerapkan aturan diet yang tepat bukan hanya mampu mengatur sumber makanan anak, tapi juga membuat anak lebih terbiasa dalam mengatur asupan makan.

Dengan cara ini, diharapkan berat badan anak dapat turun dengan sehat dan kesehatan anak pun terjaga.

Selain dengan mengatur menu makanan, coba terapkan aturan diet berikut untuk anak usia sekolah:

1. Berikan beragam sumber makanan

Tetap berikan anak berbagai makanan sehat untuk anak, seperti:

  • Sayuran dan buah-buahan
  • Susu dan produk susu seperti keju serta yoghurt
  • Daging, ikan, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sumber protein tinggi lainnya
  • Sumber karbohidrat seperti nasi merah, gandum atau makanan dari gandum utuh (seperti roti gandum dan sereal)

Selain mencukupi kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak sehat, penuhi juga kebutuhan vitamin, mineral, hingga serat agar terhindar dari konstipasi.

Potongan buah segar bisa dijadikan camilan sehat untuk anak di sore hari.

2. Batasi asupan gula tambahan

Membatasi asupan gula tambahan anak sekolah dalam menu diet dengan cara menukar minuman manis (seperti jus dan minuman bersoda) dengan air putih atau susu rendah lemak.

Kurangi juga jumlah permen dan makanan manis bila si kecil suka sekali makan makanan tersebut. Bahkan, tak ada salahnya untuk lebih membatasi anak makan makanan instan dan cepat saji (fast food).

3. Sarapan setiap hari

Pastikan anak tidak melewatkan waktu makannya, terutama sarapan.

Sarapan sehat dengan sumber karbohidrat dan protein (seperti sepotong roti gandum dengan selai kacang) dapat membuat anak merasa kenyang.

Ini mencegah anak makan berlebihan di lain waktu. Bahkan menurut Help Guide, anak-anak yang sarapan pagi berisiko kecil mengalami obesitas dibandingkan dengan anak-anak yang tidak sarapan.

Jika waktu makan siang anak masih berada di sekolah, sebaiknya bawakan bekal sekolah anak untuk dimakan saat istirahat.

4. Perhatikan porsi makan anak

Bukan bermaksud melarang, tapi sebaiknya ingatkan anak bila porsi makannya sudah berlebihan. Coba berikan piring yang berukuran kecil guna membantu membatasi porsi anak makan.

Sebaliknya, piring yang berukuran besar dapat mendorong anak untuk makan lebih banyak.

5. Jangan hilangkan sumber lemak, tapi ganti dengan sumber lemak sehat

Anak usia sekolah yang sedang diet tetap membutuhkan lemak dalam menu makanan hariannya.

Namun, ketimbang memberikan makanan sumber lemak jenuh seperti lemak dalam daging, susu tinggi lemak, junk food, gorengan, dan lainnya sebaiknya ganti dengan lemak tak jenuh.

Contoh makanan sumber lemak tak jenuh yang bisa Anda berikan meliputi buah alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, hingga ikan.

6. Pastikan anak aktif bergerak

Sebenarnya, anak-anak bisa dengan mudah membakar kalori dengan berbagai macam kegiatan. Anak-anak biasanya suka dengan berbagai aktivitas dan permainan.

Aktivitas tersebut secara tidak langsung dapat membuat anak aktif sekaligus berkeringat dengan cara yang menyenangkan.

Pilihlah berbagai macam kegiatan yang anak suka, contohnya bermain sepeda, sepak bola, basket, menari, dan sebagainya.

Selain itu, Anda juga dapat mengajak anak berolahraga secara rutin, misalnya seminggu sekali. Biasakan anak untuk aktif bergerak ketimbang hanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk di depan TV dan komputer.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal diperbarui 22/03/2017
x