Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini 1-5 Tahun

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 Agustus 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Perkembangan emosional dan sosial anak usia dini tidak hanya tentang mengatur emosi yang ada di dalam dirinya, tapi lebih dari itu. Perkembangan emosional pada si kecil sangat berpengaruh pada perkembangan balita dan perilaku anak sampai ia dewasa. Berikut penjelasan lengkap seputar perkembangan emosional dan sosial anak yang perlu diketahui orangtua.

Apa itu perkembangan sosial emosional anak di usia dini? perkembangan emosional anak

Children’s Therapy and Family Resource Centre menjelaskan bahwa perkembangan emosional anak adalah salah satu tahap tumbuh kembang anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan emosi sendiri.

Dalam perkembangan emosional, anak mulai belajar menjalin hubungan dengan teman dan lingkungannya.

Menjalin hubungan sosial dengan teman dan lingkungan juga sebuah proses untuk belajar berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi.

Sementara itu, mengutip dari Scan of North Virginia, perkembangan sosial anak adalah proses belajar dalam berinteraksi dengan orang lain. Selain mengembangkan rasa kemandiriannya, ia juga belajar bersosialisasi dengan anak seusianya.

Perkembangan sosial pada anak berhubungan dengan pertemanan, cara berinteraksi, dan menangani konflik dengan teman.

Mengapa perkembangan sosial penting? Alasannya, ketika ia berinteraksi dengan orang lain, perkembangan yang lain juga ikut terbentuk.

Sebagai contoh, ketika bersosialisasi, anak akan belajar berinteraksi sekaligus mengasah kemampuan motoriknya.

 Kemampuan sosial dan emosional balita yang baik, berpengaruh pada kecerdasannya ketika dewasa nanti. 

Perkembangan sosial dan emosional anak usia dini

perkembangan emosional sosial anak

Semakin bertambahnya usia anak, kemampuan emosional si kecil semakin bertambah dan setiap anak memiliki tahapan perkembangan emosional yang berbeda.

Berikut perkembangan sosial dan emosional anak usia  1-5 tahun yang bisa menjadi acuan.

Anak usia 1-2 tahun

Meski usia si kecil masih terbilang dini, perkembangan emosional dan sosial anak sudah terlihat semakin baik dan kemampuannya bertambah.

Mengutip dari Kids Health, salah satu kemampuan emosional anak usia 1-2 tahun yaitu menangis saat melihat Anda meninggalkannya.

Tidak hanya itu, buah hati Anda juga sudah memiliki kepercayaan diri menunjukkan kemampuan barunya. Sebagai contoh, saat ia belajar berjalan, berdiri, atau berbicara.

Usia 2-3 tahun

Di rentang umur 2-3 tahun, perkembangan emosional dan sosial anak usia dini cukup dinamis dan belum stabil, karena tantrum masih menjadi kebiasaan si kecil.

Grafik perkembangan anak Denver II menunjukkan, perkembangan emosional dan sosial anak usia 2 tahun misal mau dibantu oleh orang lain saat melakukan sesuatu dan senang saat digendong oleh orang yang disukainya.

Ketika usia balita 2 tahun 5 bulan atau 30 bulan, ia sudah bisa menyebut nama teman sepermainannya. Selain itu, usia 2 tahun adalah masa anak belajar untuk mandiri, melakukan banyak hal sendiri yang berhubungan dengan perkembangan emosional.

Rasa penasaran anak meningkat cukup tajam di usia 2 tahun. Mengutip dari Healthy Children, sebagian besar anak menghabiskan waktunya untuk mencoba memahami sejauh mana kemampuan sosial, lingkungan, dan perkembangan kognitif anak.

Pendampingan Anda sangat penting dalam fase ini. Meski ia sedang ingin mencoba banyak hal sendiri, tetap temani si kecil untuk memberinya bantuan agak perkembangan emosional dan sosial anak usia dini tetap terpantau.

Ini penting dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan emosional pada anak.

Usia 3-4 tahun

Bagaimana perkembangan emosional dan sosial anak usia dini rentang 3-4 tahun? Di usia ini, anak perlahan mengenali emosinya. Usia 3 tahun adalah umur yang cukup muda untuk anak mengerti dan mengendalikan emosi yang ada di dalam dirinya.

Sebagai contoh, ketika ia menemukan sesuatu yang lucu, ia sangat histeris akan hal itu. Begitu juga ketika anak menemukan hal yang membuatnya marah, teriakan dan tangisan menjadi pelampiasan emosi si kecil.

Usia 4-5 tahun

Rentang usia 4-5 tahun, anak sudah mengenal dan mengendalikan emosinya sendiri. Ia mampu menenangkan teman sedang bersedih dan bisa merasakan yang dirasakan temannya.

Namun, si kecil tidak selalu bisa kooperatif, sisi egois anak juga bisa hadir ketika suasana hatinya kurang baik. 

Di usia ini, selera humor pada anak mulai muncul dan ia mulai berusaha melucu dalam beberapa kesempatan. Anda akan melihat anak usia 4 tahun berusaha melucu dengan melakukan hal konyol untuk membuat orang lain tertawa.

Di usia 4-5 tahun, anak sedang gemar menghibur dengan cara bicara yang berbeda-beda dan unik. Sebagai contoh, membuat wajah unik atau bertingkah lucu yang bisa menarik perhatian orang lain.

Cara mengasah perkembangan emosional dan sosial anak usia dini

perkembangan emosional sosial anak

Usia anak memengaruhi cara mengasah perkembangan emosional dan sosial anak usia 1-5 tahun. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengasah dan melatih emosi anak agar ia mengenal dan bisa mengendalikan emosinya.

Usia 1-2 tahun

Di usia 1-2 tahun anak Anda sedang merasakan separate anxiety atau merasa tidak nyaman ketika berpisah dengan seseorang. Untuk melatih agar ia lebih mandiri, Anda bisa terpisah sebentar dengan si kecil.

Mengutip dari Healthy Children, berpisah sejenak bisa membantu anak lebih mandiri. Waktu berpisah tidak perlu terlalu lama, sekitar 10-15 menit cukup dan bisa ditingkatkan bila si kecil tenang.

Saat akan pergi, hindari untuk pergi secara tiba-tiba dan biasakan untuk berpamitan. Katakan padanya kalau Anda akan pergi sebentar dan akan kembali.

Ketika Anda pulang, sambut si kecil dengan antusias dan beri perhatian penuh padanya. Ini membuat anak merasa nyaman dan aman.  Selain itu, perkembangan sosial dan emosional anak usia dini juga menjadi lebih baik.

Usia 2-3 tahun

Di fase perkembangan sosial dan emosional anak usia dini 2-3 tahun, si kecil cenderung lebih meledak-ledak.

Beritahu si kecil emosi yang sedang ia rasakan. Saat emosi anak meledak-ledak, lebih baik minta ia menceritakan apa yang sedang dirasakan daripada memarahinya.

Ini bisa membantu anak untuk mengenali perasaan apa yang sedang ia rasakan. Jika balita sedang menangis, tanya anak apa yang membuatnya menangis. Di sini ia belajar untuk menyebutkan emosinya sendiri. 

Tidak hanya emosi negatif, kenalkan juga emosi positif, seperti sedang senang. Tanyakan apa yang membuatnya senang, tertawa, dan tersenyum.

Berikan tanggapan positif pada perasaannya agar ia merasa dihargai dan perkembangan emosional anak berjalan baik.

Usia 3-4 tahun

Tunjukkan empati pada perasaan anak. Saat anak Anda terlihat emosional, hindari untuk memarahi atau membentak anak karena ia bisa merasa diabaikan dan tidak dipedulikan.

Ubah sudut pandang Anda dan mulai berempati pada perasaan si kecil, bagaimana bila menjadi dia. Ini penting untuk membantu perkembangan emosional anak.

Sebagai contoh, ketika anak sedang menangis karena mainannya diambil teman, Anda bisa mengatakan “mainan diambil teman memang menyebalkan, tapi nanti kita coba untuk meminta mainan itu kembali ya.”

Ketika Anda ada di pihak anak, ia akan merasa lebih nyaman untuk mengatakan emosinya dibanding menyalurkannya dengan teriakan atau amarah.

Di usia ini, jadilah teman yang mengerti posisi si kecil agar anak merasa nyaman dan aman di dekat Anda.

Usia 4-5 tahun

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengasah perkembangan emosional dan sosial anak usia dini, yaitu:

Mengajarkan cara memecahkan masalah

Salah satu bagian penting dalam membangun perkembangan emosional dan sosial anak usia dini adalah mengajari anak cara menyelesaikan masalah atau problem solving.

Anak usia 4-5 tahun sudah bisa diajari tentang mengatasi persoalan sederhana yang dihadapinya. 

Jika anak Anda tidak sengaja membuat temannya menangis, ajaklah ia berbicara dan berdiskusi. Posisikan sebagai pendamping yang bisa menerima masukan, agar anak nyaman saat diskusi dengan Anda.

Tanyakan apa yang sedang terjadi dan alasannya membuat anak lain menangis. Selain itu, arahkan ia untuk berani bertanggung jawab dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Di sini, anak Anda belajar untuk menyelesaikan masalah sendiri dengan baik.

Beri anak ruang untuk mengekspresikan diri

Hal yang juga dapat Anda lakukan untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak usia dini adalah memberi contoh cara mengeskpresikan emosi.

Alasannya, anak adalah peniru perilaku orangtua dan orang di sekitarnya. Dia dengan mudah menirukan perilaku, perkataan, sampai kebiasaan orang lain.

Cara yang dapat dilakukan berbagi cerita dengan si kecil tentang apa yang terjadi di keseharian, misalnya ketika Anda baru pulang kerja atau sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, luangkan waktu untuk curhat padanya.

Ceritakan betapa senangnya Anda hari itu, kesal, kecewa, dan perasaan lain. Ketika anak sedang mendengarkan cerita, secara tidak langsung dia akan meniru di kemudian hari.

Anak akan ikut bercerita tentang apa yang ia alami seharian. Ini waktu yang tepat untuk berdiskusi dan berbagi cerita dengan si kecil agar hubungan Anda dengan anak lebih dekat.

Ini akan membantu meningkatkan perkembangan emosional dan sosial anak di usia dini, dan mencegah gangguan tumbuh kembang anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ini Dia Alasan Karakter Fiksi Terasa Nyata bagi Para Penikmatnya

Karakter dalam sebuah kisah fiksi seringkali mempengaruhi psikologis dengan membuat penonton ikut menangis, marah, dan sedih. Bagaimana ini terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Psikologi 7 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

5 Dampak Memiliki Kecerdasan Emosional yang Terlalu Tinggi

Orang yang cerdas secara emosional jago soal berempati dan menghadapi konflik, tapi kecerdasan emosional yang terlalu tinggi ternyata juga punya kekurangan.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 6 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

5 Alasan Pentingnya Punya Tim Support System untuk Kesehatan Mental

Masalah bisa datang kapan saja dan belum tentu bisa terlewati dengan baik. Maka dari itu, Anda perlu tahu pentingnya support system atau dukungan!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Hidup Sehat, Psikologi 7 Mei 2020 . Waktu baca 3 menit

Pentingnya Kecerdasan Emosional di Tempat Kerja

Pentingnya kecerdasan emosional saat bekeja dapat mempengaruhi kemapuan Anda dalam menjaga hubungan sesama teman kerja hingga kesuksesan dalam berkarir.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Psikologi 26 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perkembangan emosi anak

Mengulik Tahapan Perkembangan Emosi Anak Usia 6-9 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 9 menit
kepala bayi terbentur

Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Bayi Terbentur

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
hipnoterapi

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
sifat sensitif genetik

Anda Sering Dibilang Sensitif? Bisa Jadi Ini Bawaan Genetik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit