Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

4 Tanda Toxic Parents dan Dampaknya Terhadap Anak

4 Tanda Toxic Parents dan Dampaknya Terhadap Anak

Gaya pengasuhan setiap orangtua berbeda-beda. Ada yang santai tetapi tetap tegas pada beberapa hal dan ada juga yang terlalu menuntut anak. Terkadang tanpa disadari orangtua, ada sikap atau kebiasaan yang membuat anak stres dan menjadikan Anda toxic parents. Apa tanda dan dampaknya? Lalu, bagaimana cara orangtua mengubah sikap toxic parents? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa itu toxic parents?

Sebenarnya, tidak ada pengertian yang saklek dari toxic parents. Namun, secara umum, toxic parents adalah tipe orangtua dengan pengasuhan yang tidak mendengarkan anak dan fokus pada diri sendiri.

Tidak sedikit orangtua yang toxic melakukan kekerasan secara verbal dan fisik kepada anaknya. Mereka melakukan itu agar anaknya melakukan apa yang orangtua inginkan.

Sikap tersebutlah yang kemudian membuat anak tertekan, merasa bersalah, ketakutan, dan membentuk karakter buruk pada kehidupan di masa depan.

Tanda toxic parents

Terkadang orangtua tidak menyadari sudah melakukan sikap toxic parents pada anak. Ada kemungkinan, orangtua yang melakukan hal ini pada anaknya mendapat didikan yang sama dari orangtuanya dahulu.

Agar tidak kebablasan, di bawah ini tanda toxic parents yang perlu Anda ketahui.

1. Melakukan kekerasan fisik

Bila Anda, pasangan, atau keduanya melakukan kekerasan fisik pada anak, itu salah satu tanda toxic parents.

Baik untuk alasan sederhana, seperti menumpahkan air, sampai alasan berat seperti memecahkan kaca.

Kekerasan fisik yang dilakukan seperti mencubit, memukul, menjambak, sampai menendang.

Saat orangtua melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya, itu tanda orangtua sulit mengendalikan emosi ketika anak melakukan kesalahan.

2. Mengeksploitasi anak

Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan berbeda. Sebagai orangtua, Anda sebaiknya mendukung dan bantu mengasahnya, baik dengan mengikutsertakan anak les atau kursus.

Namun, bila Anda mengambil keuntungan dari bakat dan kemampuan anak untuk dijadikan keuntungan pribadi, itu menjadi tanda toxic parents.

Tidak hanya itu, sikap orangtua toxic juga termasuk menguras fisik dan emosional anak dengan memaksanya untuk bekerja atau menghasilkan uang.

Ambil contohnya begini, anak memiliki bakat menyanyi, lalu dengan tujuan komersil, Anda mengikutsertakannya ke dalam kontes tertentu.

Sekali dua kali mungkin masih bisa dimaklumi, itu pun kalau anak Anda mau.

Namun, kalau Anda jadi memforsirnya padahal anak tidak mau dengan tujuan memenangkan uang perlombaan, hal ini sudah termasuk eksploitasi.

3. Mengancam anak

Bila Anda memberikan ancaman yang membahayakan anak, itu termasuk ciri orangtua toxic. Sebagai contoh, anak tidak mau dimintai tolong lalu Anda mengancam tidak akan memberikannya makan selama satu hari.

Meski terkesan bercanda, kata-kata tersebut bisa mengganggu perkembangan emosional anak. Ia akan merasa tidak berharga dan tertekan.

Bukan tidak mungkin perkataan tersebut terekam sampai ia dewasa nanti. Parahnya, anak bisa saja meniru hal ini ketika ia sudah jadi orangtua kelak.

4. Otoriter pada anak

Beberapa orangtua memberi aturan yang strict (ketat) pada anak dengan alasan disiplin dan teratur. Namun, bila terlalu berlebihan, anak akan merasa dikekang dan tidak memiliki kebebasan.

Sebagai contoh, Anda mengatur semua kegiatannya setiap hari tanpa negosiasi bahkan hingga menyeleksi dengan siapa dia boleh berteman tanpa alasan yang jelas.

Rasa sayang dan peduli sering dijadikan senjata untuk menghalalkan sikap otoriter pada anak. Padahal, itu termasuk ke dalam toxic parents yang bisa berpengaruh pada sikap anak ketika dewasa.

Dampak toxic parents pada anak

Orangtua yang toxic secara tidak sadar akan membentuk karakter anak.

Dikutip dari situs resmi Counseling Center Illinois University, ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari toxic parents, berikut rinciannya.

  • Anak merasa diabaikan dan diremehkan.
  • Tidak memiliki kedekatan dengan orangtua.
  • Menjadi pribadi yang banyak menuntut (pada teman, keluarga, atau pasangan).
  • Mencoba obat-obatan terlarang.
  • Anak tidak percaya diri.
  • Sering menyalahkan diri sendiri.
  • Memiliki risiko melakukan hal yang sama pada orang lain, misalnya melakukan kekerasan fisik.

Orangtua yang toxic kadang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengatur anak tanpa menghargai perasaan dan pendapat anak.

Padahal sikap tersebut bisa memberi dampak buruk pada perkembangan anak yang akan terbawa hingga ia dewasa.

Cara orangtua mengubah sikap toxic parents

Bila Anda sudah telanjur memperlakukan anak dengan tidak menyenangkan, saatnya mengubah sikap sebelum lebih kacau.

Tentu tidak mudah, tetapi menghentikan sikap toxic parents sangat layak karena berhubungan dengan tumbuh kembang anak ke depannya.

Berikut cara mengubah sikap toxic parents mengutip dari situs resmi Brown University:

1. Mengurangi ekspektasi

Sebagai orangtua, Anda dan pasangan tentu memiliki ekspektasi tertentu terhadap anak. Ada yang ingin anaknya menjadi pintar, mapan, berpenampilan menarik, dan sikapnya ramah.

Namun, saat Anda ingin membentuk anak sesuai dengan ekspektasi, prosesnya bisa melukai si kecil.

Oleh karenanya, penting untuk orangtua berhenti membentuk anak menjadi sosok sempurna dengan berbagai standar penilaian yang menurut Anda pantas.

Hindari membentuk anak dan karakter keluarga sesuai dengan standar yang prosesnya bisa memberi dampak buruk pada anak.

Anda tentu perlu mengajarkan nilai-nilai baik, tetapi tentu dengan cara yang baik pula.

2. Diskusi dengan pasangan atau teman

Ketika Anda melakukan sikap yang menggambarkan toxic parents, penting untuk merenungkan apa yang sudah dilakukan pada anak.

Bagaimana Anda bersikap akan membentuk karakter, perasaan, dan pengalaman masa kanak-kanaknya.

Anda bisa berdiskusi dengan pasangan atau teman terdekat tentang sikap buruk dan perasaan yang ada di dalam diri.

Ini akan membuat Anda lebih mudah untuk merefleksikan diri dan menentukan pola pengasuhan yang tepat untuk anak.

3. Buat daftar sikap yang ingin diubah

Dari beberapa sikap toxic parents yang sering dilakukan, buat daftar perilaku yang ingin diubah dari yang dirasa mudah, sampai paling sulit.

Anda bisa minta bantuan pasangan, teman dekat, orangtua, atau psikolog untuk mengingatkan bila ada sikap buruk yang diulang.

4. Duduk bersama anak

Ketika Anda sudah menyadari kesalahan dari pola asuh yang selama ini dilakukan, saatnya duduk bersama anak untuk meminta maaf.

Meski anak baru berusia balita, ia sudah mengerti konsep maaf, terima kasih, dan tolong. Jadi, tidak usah sungkan untuk meminta maaf pada anak atas apa yang Anda lakukan.

Jelaskan secara perlahan bahwa Anda masih belajar tentang mengasuh anak, sehingga sering melakukan kesalahan.

Anda juga bisa memberitahu anak bahwa akan berusaha mengubah sikap buruk yang sebelumnya sering dilakukan.

Tentu tidak mudah mengubah sikap yang sudah terbentuk sejak lama. Ingat, semua itu butuh proses. Anda mungkin akan kesulitan awalnya, tetapi dengan niat yang kuat, semuanya akan menjadi lebih mudah.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

How to Handle a Toxic Relationship. (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://greatergood.berkeley.edu/article/item/how_to_handle_a_toxic_relationship

Dysfunctional Family Relationships | Counseling and Psychological Services (CAPS). (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://www.brown.edu/campus-life/support/counseling-and-psychological-services/dysfunctional-family-relationships

Understanding Unhealthy Relationship Patterns in Your Family | University of Illinois Counseling Center. (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://counselingcenter.illinois.edu/brochures/understanding-unhealthy-relationship-patterns-your-family

(2021). Retrieved 1 February 2021, from https://www.texasattorneygeneral.gov/sites/default/files/files/child-support/Parenting%20Together/coparenting.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 09/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita