Tips Mengajarkan Anak Makan Sendiri Secara Bertahap

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Belajar makan sendiri merupakan perkembangan penting bagi Anda. Bagi orang dewasa, tentu makan sendiri merupakan hal yang mudah dilakukan, tapi anak-anak perlu belajar untuk makan dengan baik. Mengajari anak makan sendiri mungkin bukan merupakan hal yang mudah. Tapi, menyuapi anak terus-terusan sampai ia besar juga tidak baik. Ini hanya akan menghambat perkembangannya.

Kenapa penting mengajarkan anak makan sendiri?

Makan merupakan kebutuhan dasar anak untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya guna mendukung perkembangan dan pertumbuhannya. Keterampilan anak makan sendiri merupakan tahapan perkembangan anak yang sangat penting.

Kegiatan makan melibatkan banyak kemampuan yang harus dikuasai anak. Banyak tahapan yang harus dilalui anak untuk bisa mengantarkan makanan sampai ke dalam mulutnya. Pertama, anak harus melihat makanannya, mengambil makanannya dengan tangan, kemudian membawanya sampai ke mulut, menyesuaikan dengan letak mulutnya, membuka mulutnya, mengunyah sampai menelan makanan.

Setelah anak bisa makan dengan tangan, anak kemudian mengembangkan kemampuannya makan dengan sendok dan garpu. Anak mungkin sering menjatuhkan makanannya sehingga berantakan. Namun, belajar memegang sendok merupakan salah satu cara mengembangkan keterampilan motorik halus anak.

Selain mengembangkan banyak kemampuan anak, makan sendiri juga melibatkan banyak perasaan dan kemampuan inderanya. Serta, mengembangkan kemampuan anak untuk bisa mandiri, yang diperlukan untuk kehidupan anak selanjutnya.

Tahapan mengajari anak makan sendiri

Saat Anda mulai memperkenalkan anak dengan makanan padat, anak mungkin sudah mulai menunjukkan keinginannya untuk makan sendiri. Saat Anda menyuapinya dengan sendok, ia mungkin ingin memegang sendok juga. Saat anak Anda melihat makanan, anak mungkin ingin mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ini merupakan awal yang baik, Anda hanya perlu mendukungnya lebih lagi.

1. Memberi anak makanan yang bisa dipegang oleh tangan (finger food)

Tahap pertama, Anda bisa mulai dengan memberi anak makanan yang bisa dipegangnya. Hal ini dapat melatih bagaimana anak menggenggam makanan lalu membawa makanan sampai ke mulut dan memakannya. Makanan yang bisa digunakan sebagai finger food adalah makanan yang mudah digenggam oleh anak dan bertekstur lunak. Contohnya, seperti buah apel yang telah dipotong, pepaya dipotong kecil, brokoli kukus, wortel kukus, kentang rebus, dan sebagainya.

Anda bisa memulai tahapan ini saat usia anak menginjak 8 bulan. Atau, beberapa anak mungkin bisa memulainya lebih cepat, sekitar usia 6 bulan saat ia sudah diperkenalkan dengan makanan padat, sudah mampu mengambil benda yang ada di sekelilingnya, sudah mampu duduk sendiri, serta sudah mampu mengunyah dan mengeluarkan makanan. Ingat, perkembangan bisa berbeda-beda antar anak.

2. Mengenalkan anak dengan sendok sebagai alat untuk makan

Setelah anak sudah bisa makan sendiri dengan finger food, Anda bisa mengajak anak untuk makan menggunakan sendok. Tahapan memperkenalkan anak dengan sendok untuk makan dapat dimulai sekitar usia 13-15 bulan. Ini mungkin akan berbeda-beda tiap anak.

Walaupun anak makan sendiri dengan sendok pasti membuat kotor karena makanan terjatuh, namun membiarkan anak makan dengan sendok pada usia lebih dini dapat mendorongnya untuk belajar mengembangkan kemampuan makan sendiri. Anda mungkin akan merasa kesal saat anak selalu menjatuhkan makanannya saat makan sendiri dengan sendok, namun ini merupakan bagian dari perkembangan anak.

Pada usia 18 bulan, anak mungkin akan lebih lihai menggunakan sendok untuk memberi makan dirinya sendiri. Dan, pada usia 2 tahun atau 3 tahun, anak mungkin sudah mampu menggunakan sendok untuk makan tanpa terjatuh. Anda mungkin hanya perlu membantu memotong kecil-kecil makanan anak agar anak dapat mengambilnya dengan mudah.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

    Memberikan hadiah ke anak merupakan cara baik untuk meningkatkan motivasi anak. Namun, hati-hati dalam memberikannya karena ini juga bisa berdampak buruk.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

    Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    Bebaskan Si Kecil Berjalan “Nyeker” untuk Memperkuat Tulang Kakinya

    Melihat si kecil yang sibuk kesana kemari berjalan tanpa alas kaki sering membuat orangtua khawatir. Padahal, jalan nyeker bagus untuk kesehatan anak, lho!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 11 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

    Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

    Video game dapat memberi manfaat. Namun tanpa batasan waktu, bermain video game bisa berakibat buruk pada anak. Berapa lama waktu ideal bermain video game?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

    7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    menonton tv terlalu dekat

    Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    Konten Bersponsor
    perkembangan otak anak usia dini

    Menilik Pentingnya Nutrisi bagi Perkembangan Otak Anak Usia Dini

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Dipublikasikan tanggal: 30 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
    bayi pakai empeng isap jempol

    Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit