Tak Perlu Marah, Begini Cara Hadapi Anak yang Makan Berantakan

    Tak Perlu Marah, Begini Cara Hadapi Anak yang Makan Berantakan

    Waktu makan sering kali menjadi momen pertarungan sengit antara ibu dan anak. Setiap kali si Kecil merasa kenyang dan mulai bosan, anak biasanya akan memainkan makanannya hingga jatuh berserakan. Kalau Anda perhatikan, si Kecil malah tampak senang melakukannya, padahal Anda justru kesal dan mulai pusing tujuh keliling. Anda pun jadi bertanya-tanya, adakah cara menghadapi anak makan berantakan tanpa perlu tarik urat? Tenang, intip trik jitunya berikut ini!

    Kenapa anak suka makan berantakan?

    anak makan malam

    Wajar saja kalau Anda merasa jengkel ketika melihat makanan berceceran di mana-mana saat anak sedang makan.

    Bagaimana tidak, makanan yang sudah Anda buat susah payah terbuang sia-sia dan malah jadi berantakan.

    Namun, perlu diketahui bahwa hal ini wajar terjadi pada masa kanak-kanak.

    Setiap anak akan melewati beberapa tahap tumbuh kembang dengan masing-masing kemampuan yang dimiliki.

    Pertama-tama, anak belajar makan makanan padat dengan mengambil makanan langsung dengan tangan.

    Setelahnya, kemampuan makan anak akan naik ke tahap selanjutnya, yaitu makan menggunakan alat makan, seperti sendok, garpu, dan gelas.

    Pada fase ini, anak biasanya masih belum mampu mengendalikan gerakan tangannya sendiri untuk mengambil, menyendok, atau menjaga makanannya tetap di dalam mangkuk.

    Akibatnya, buah hati Anda dapat melakukan apa pun sesuka hatinya, termasuk melempar makanan.

    Meskipun pada akhirnya anak makan berantakan, sebetulnya Anda tak perlu khawatir dulu. Ingatlah bahwa setiap ibu pasti akan mengalami fase ini, bukan hanya Anda.

    Justru, semakin sering anak makan berantakan, perkembangan motorik anak dapat semakin terlatih, lho!

    Seiring berjalannya waktu, anak Anda akan belajar mengendalikan tangannya sendiri dan berusaha makan dengan tertib.

    Tips menghadapi anak yang makan berantakan

    anak makan pakai sendok

    Jangan buru-buru tarik urat atau marah kepada si buah hati, ya! Ingat, ini merupakan salah satu tahap penting saat anak belajar makan sendiri.

    Berikut cara yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi anak makan berantakan.

    1. Bersikap tenang

    Meski tidak mudah, tetaplah bersikap tenang di depan anak yang sedang makan.

    Lagi-lagi, ingatlah meski terlihat main-main dan makan berantakan, si Kecil sebenarnya sedang melatih perkembangan motoriknya dengan belajar makan sendiri.

    Hal ini termasuk manfaat anak makan berantakan.

    Jadi, biarkan si kecil belajar mengenal tekstur makanan dengan memegang, meremas, mengunyah, atau bahkan melemparnya ke lantai. Berikan beberapa jenis makanan dengan tekstur yang berbeda.

    Sebagai contohnya, sup wortel dengan tekstur cair, perkedel yang teksturnya lembek, hingga potongan buah-buahan yang teksturnya lebih keras.

    2. Berikan porsi makan yang lebih sedikit

    Terkadang, anak menyisakan makanannya karena merasa sudah kenyang. Nah, alih-alih menghabiskan makanan itu, ia justru tertarik untuk memainkannya hingga berceceran di mana-mana.

    Kalau sudah begitu, coba kurangi porsi makan anak menjadi lebih sedikit. Ketika si Kecil mulai melempar-lempar makanannya, jangan buru-buru membersihkannya.

    Biarkan anak bereksplorasi terlebih dahulu sampai merasa puas, lalu bersihkan tubuh anak dan lantai yang kotor setelahnya.

    3. Batasi waktu makan

    Buatlah jadwal khusus mengenai kapan anak harus makan dan harus seberapa lama. Bukan hanya bermanfaat untuk mendisiplinkan anak saat makan, hal ini juga dapat membantu mencegah anak makan berantakan.

    Siapkan makanan untuk si kecil ketika ia benar-benar lapar. Setelah itu, dudukkan buah hati Anda di kursi makan (high chair) dan temani ia makan sampai selesai.

    Meskipun Anda membatasi waktu makan, ini bukan berarti Anda boleh memaksakan anak mengunyah makanannya cepat-cepat.

    Perhitungkan waktu yang tepat supaya anak bisa makan tanpa terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lama.

    Umumnya, waktu ideal anak untuk makan yakni 30 menit. Anda bisa berpatokan pada waktu ini untuk menyudahi sesi makan si Kecil.

    Anda juga dapat membuat jadwal makan anak agar si Kecil lebih tertib dan paham waktu makannya.

    4. Gunakan alat makan khusus

    Alat makan yang digunakan si kecil juga bisa memengaruhi kebiasaan makan anak.

    Biasanya, makanan yang ada di atas sendok atau mangkuk yang cukup datar akan lebih mudah jatuh dan meningkatkan kemungkinan anak makan berantakan.

    Ada baiknya, gunakan sendok atau mangkuk yang lengkungannya cukup dalam supaya makanan tidak mudah tercecer.

    Selain itu, pastikan anak sudah memakai celemek khusus yang terdapat kantong penampung di bawahnya.

    Ketika anak makan sendiri, makanan yang jatuh akan tertampung di dalam kantong celemek yang digunakan oleh si kecil.

    Jadi, Anda tak perlu cemas lagi bahwa lantai akan kotor setelah anak selesai makan.

    5. Kenali tanda anak kenyang

    Setelah merasa kenyang dan menyisakan makanan di piring, anak biasanya akan merasa bosan dan mulai mencari hal-hal lain yang menarik perhatian.

    Mereka akan memainkan apa saja yang ada di hadapannya, termasuk sisa makanan tadi.

    Karena itulah, Anda perlu memperhatikan tanda-tanda anak kenyang. Biasanya, anak akan mulai menurunkan kecepatan saat mengunyah makanan atau menutup bibirnya rapat-rapat saat merasa kenyang.

    Apabila sudah begitu, segera ambil sisa makanan anak, lalu bersihkan tubuh si Kecil.

    Jika anak mulai tertarik untuk melempar makanannya, segera alihkan perhatian si kecil dengan mainan favoritnya.

    Dengan menerapkan cara-cara di atas, Anda tak perlu cemas harus menghadapi lagi anak yang makan berantakan. Namun, perlu diingat bahwa merupakan hal yang wajar bagi anak-anak untuk makan berantakan.

    Kesimpulan

    Sebaiknya jangan terlalu keras terhadap anak dan terlalu menekan anak saat anak masih makan berantakan. Anda hanya perlu mendampingi anak saat ia sedang mencoba maka sendiri meski banyak makanan yang akhirnya berantakan dan terbuang.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Damar Upahita

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 06/01/2023

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan