backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Masih Menyuapi Anak Usia Sekolah? 5 Kemungkinan Efek Buruk Ini Bisa Terjadi

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Riska Herliafifah · Tanggal diperbarui 17/11/2021

Masih Menyuapi Anak Usia Sekolah? 5 Kemungkinan Efek Buruk Ini Bisa Terjadi

Menyuapi anak tidak selalu buruk, tetapi berbeda bila si kecil sudah usia sekolah sekitar 7 tahun. Kebiasaan menyuapi anak yang seharusnya sudah bisa mandiri dapat menimbulkan dampak buruk pada perkembangan anak usia sekolah. Untuk lebih jelasnya, berikut efek buruk kebiasaan menyuapi si kecil.

Efek buruk menyuapi anak usia sekolah

Meski anak usia sekolah sudah bisa makan sendiri, terkadang mereka mogok makan sehingga orangtua perlu turun tangan untuk menyuapinya.

Padahal, kalau keseringan menyuapi si kecil yang sudah bisa mandiri bisa menimbulkan efek samping untuk perkembangan anak.

Berikut penjelasan seputar dampak buruk menyuapi anak yang sudah usia sekolah.

1.Menghambat perkembangan motorik

Kebiasaan menyuapi si kecil bisa menghambat perkembangan motorik halus dan kasar.

Mengutip dari Raising Children, saat anak makan sendiri, ia akan merasakan tekstur makanan yang ia ambil di meja makan.

Anak juga belajar untuk menggenggam sendok garpu dengan benar sehingga kemampuan motoriknya terasah.

Tidak hanya bayi dan balita, anak usia sekolah juga tetap harus mengasah kemampuan motorik kasar dan halus dan perkembangan fisik anak.

Motorik akan melatih koordinasi dan kekuatan otot-otot tubuh anak sebagai bekal untuk beraktivitas sehari-hari. 

2. Tidak terlatih untuk makan karena kebutuhan sendiri

Saat merasa lapar, secara spontan anak langsung makan atau setidaknya mencari camilan anak untuk mengisi kekosongan perut.

Kalau orangtua terbiasa menyuapi anak, refleks untuk makan karena kebutuhan sendiri tidak terasah.

Mengutip dari NPR, saat anak tidak mengasah refleks lapar, kemungkinan besar untuk pemberian makan berlebih (overfeeding) semakin besar.

Pasalnya, anak tidak mendapat kesempatan untuk memilih porsi dan menu makanan sesuai kesukaannya. 

Bila pada anak bayi dan balita, masih wajar untuk makan sendiri. Akan tetapi, berbeda dengan anak usia sekolah yang sudah bisa mandiri dan memiliki pilihan sendiri.

3. Menghambat kemandirian anak

Mengutip dari Healthy Children, mulai usia 4 tahun kemandirian anak sudah mulai terlihat.

Ambil contoh, kemandirian dalam memilih pakaian, teman, sampai makanan kesukaan.

Ketika orangtua terbiasa menyuapi anak, kemampuannya untuk mandiri tentu tidak terasah.

Akan lebih baik bila orangtua membiarkan anak makan sendiri, meski ia minta Anda suapi.

Beri ketegasan kepada anak, misalnya tidak boleh bermain sebelum selesai makan. 

Selain membentuk kemandirian, cara tersebut juga membuat anak lebih disiplin terhadap peraturan yang orangtua buat.

4. Berisiko obesitas

Kelebihan berat badan dan obesitas adalah termasuk malnutrisi yang bisa terjadi pada anak ketika terbiasa disuapi. 

Mengutip dari NPR, kebiasaan menyuapi anak berisiko anak makan berlebih karena ia makan bukan karena keinginan sendiri.

Pada sebagian kasus, anak sudah kenyang tetapi masih makan karena kondisinya orangtua menyuapi. 

Respons kenyang dan lapar anak yang tidak terasah bisa berisiko overweight pada anak usia sekolah.

5. Tidak bisa merasakan makanan secara utuh

Keinginan anak untuk makan bisa terhambat bila terbiasa orangtua suapi. 

Pasalnya, saat tidak makan sendiri, anak akan kekurangan kemampuan untuk merasakan tekstur, aroma, dan temperatur suhu makanan.

Anak juga tidak bisa memutuskan memilih makanan sesuai kondisi dan kesukaannya.

Ambil contoh, anak belajar memilih makanan yang simpel saat sedang dalam perjalanan seperti buah potong daripada semangkuk mie.

Ini juga berhubungan dengan kemampuan anak untuk mandiri dalam memilih makanan yang sesuai dengan situasi.

Menyuapi anak memang membuat proses makan lebih cepat. Namun, kalau jadi kebiasaan, hal ini bisa mengganggu perkembangan si kecil.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Riska Herliafifah · Tanggal diperbarui 17/11/2021

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan