home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Arsenik Ada dalam Makanan Sehari-hari, Tapi Apakah Beracun?

Arsenik Ada dalam Makanan Sehari-hari, Tapi Apakah Beracun?

Pernahkah terbayang dalam benak Anda bahwa bahan makanan yang Anda konsumsi sehari-hari mungkin saja mengandung bahan beracun? Arsenik merupakan salah satu racun yang secara alamiah ditemukan dalam bahan makanan hewani maupun nabati.

Kendati bersifat racun, ternyata arsenik dalam makanan belum tentu berbahaya bagi kesehatan. Mengapa demikian? Lalu, adakah cara mengurangi kadar arsenik dalam makanan? Simak jawabannya dalam ulasan berikut.

Apa itu arsenik?

Arsenik adalah unsur alami yang dapat ditemukan di dalam bebatuan, tanah, air, udara, tumbuhan, dan hewan. Bahan ini umumnya digunakan oleh petani sebagai pestisida, pupuk, dan pengawet untuk jenis kayu tertentu.

Manusia dapat terpapar arsenik dalam jumlah kecil dari udara, air minum, dan makanan sehari-hari. Paparan arsenik yang lebih besar biasanya berasal dari lingkungan industri atau pertanian.

Meskipun dikenal sebagai racun, arsenik tidak selalu menimbulkan dampak yang sama pada manusia. Zat ini terbagi menjadi dua jenis dengan perbedaan berikut.

1. Senyawa anorganik

Arsenik yang berikatan dengan unsur lain selain karbon akan membentuk senyawa anorganik. Sifatnya lebih beracun dan sering kali dikaitkan dengan kanker. Senyawa ini ditemukan di lingkungan industri, produk bangunan, dan air yang terkontaminasi.

2. Senyawa organik

Arsenik yang berikatan dengan karbon akan membentuk senyawa organik. Senyawa ini tidak terlalu beracun dan tidak pula berkaitan dengan kanker. Anda bisa menemukan arsenik organik dalam makanan, seperti nasi, ikan, dan kerang.

Bagaimana arsenik berpindah ke makanan?

Arsenik ditemukan dalam produk gandum, sayur dan buah-buahan, makanan laut, dan khususnya beras. Ini karena arsenik adalah elemen besi yang dihasilkan secara alami dalam kerak bumi, yang turut hadir di dalam air, udara, dan tanah.

Unsur ini bisa diserap oleh tanaman saat mereka tumbuh, terlepas dari apakah mereka tumbuh di pertanian tradisional atau organik. Arsenik bukanlah racun yang sengaja ditambahkan ke dalam sumber pangan, dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

Beras merupakan salah satu sumber pangan kaya akan kandungan arsenik anorganik, jenis arsenik yang paling beracun. Beras mengandung sekitar 10 hingga 20 kali dosis arsenik lebih tinggi daripada tanaman gandum dan biji-bijian lainnya.

Bulir biji ini dapat menyerap arsenik dengan lebih mudah daripada produk pertanian lainnya karena ditanam dalam kondisi lahan yang digenangi air. Di banyak daerah, air irigasi pertanian sangat terkontaminasi oleh arsenik.

Hal ini membuat kandungan arsenik dalam tanah menjadi lebih terkonsentrasi sehingga lebih mudah terserap ke dalam bulir padi. Penggunaan air yang terkontaminasi arsenik untuk mencuci dan memasak beras dapat meningkatkan kadarnya di dalam nasi.

Apa dampak arsenik pada tubuh?

Arsenik dalam bentuk anorganik merupakan karsinogen (meningkatkan risiko kanker). Paparan kronis arsenik dalam dosis tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kandung kemih, paru-paru, dan kulit, serta diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Efek racun arsenik biasanya muncul bila tubuh terpapar racun ini dalam dosis tinggi. Dalam jangka pendek maupun panjang, paparan arsenik bisa menyebabkan gangguan kesehatan sebagai berikut.

  • Menelan arsenik dapat menyebabkan mual, muntah, diare, lemah otot, ruam, kram, dan gejala lainnya.
  • Menghirup arsenik dapat menyebabkan sakit tenggorokan dan iritasi paru-paru.
  • Paparan dosis rendah dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan pada kulit, kerusakan hati dan ginjal, serta penurunan jumlah sel darah merah dan putih.

Selain itu, arsenik merupakan racun bagi saraf dan dapat memengaruhi fungsi otak. Pada anak-anak dan remaja, paparan arsenik berkaitan dengan gangguan konsentrasi, pembelajaran dan memori; juga mengurangi kecerdasan dan kompetensi sosial.

Akan tetapi, hal yang berbeda berlaku pada arsenik organik. International Agency for Research Cancer (IARC) menggolongkan arsenik organik sebagai zat yang “mungkin bersifat karsinogenik”, tapi belum tentu menyebabkan kanker pada manusia.

Batas kadar arsenik pada makanan dan minuman

Beberapa badan pemerintahan AS telah mengatur batas kadar arsenik pada makanan, air minum, dan lingkungan. Hal ini bertujuan agar arsenik tidak menimbulkan efek racun yang berbahaya bagi kesehatan.

The Environmental Protection Agency (EPA) AS menetapkan batas maksimum arsenik dalam air minum sebesar 10 mikrogram per liter atau 10 ppb (part per billion/bagian per semiliar). Batasan ini juga berlaku untuk air minum botolan.

Sementara itu, tidak ada batas maksimum yang ditetapkan untuk sebagian besar jenis makanan. Namun, Food and Drugs Administration (FDA) AS telah mengusulkan batas maksimum untuk bahan makanan yang berpotensi mengandung banyak arsenik.

Contohnya, FDA menganjurkan batas maksimum arsenik anorganik dalam sereal beras sebesar 100 ppb. Mereka juga mengajukan batas maksimum arsenik anorganik pada jus apel sebesar 10 ppb.

Cara mengurangi kadar arsenik dalam beras

FDA menganjurkan masyarakat untuk makan makanan seimbang yang mengandung variasi dari biji-bijian lain. Gandum dan oats, misalnya, diketahui memiliki kadar arsenik yang lebih rendah daripada beras padi.

Usut punya usut, cara kita menanak beras juga menentukan kadar arsenik dalam nasi. Andy Meharg, profesor ilmu biologi di Queen’s University di Belfast, menguji tiga cara memasak nasi untuk melihat pengaruhnya pada tingkat arsenik dalam nasi.

Pertama, Meharg menggunakan metode menanak nasi konvensional dengan takaran air dan beras sebesar 2:1. Ia menemukan cara inilah yang meninggalkan paling banyak jejak racun arsenik dalam nasi.

Metode kedua melibatkan mencuci dan membilas beras, kemudian airnya ditiriskan benar hingga kering. Meharg kemudian menggunakan perbandingan air dan beras 5:1 untuk menanak nasi. Cara ini memangkas tingkat arsenik hingga hampir setengahnya.

Cara terakhir dinilai paling aman karena dapat mengurangi kadar arsenik dalam beras hingga 80 persen. Triknya dengan merendam beras semalaman, lalu cuci bersih pada keesokan harinya. Gunakan rasio air dan beras 5:1 untuk menanak beras.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Arsenic and Cancer Risk – ACS. (2021). Retrieved 9 July 2021, from https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/arsenic.html

Arsenic in Food and Dietary Supplements – FDA. (2021). Retrieved 9 July 2021, from https://www.fda.gov/food/metals-and-your-food/arsenic-food-and-dietary-supplements

Arsenic – WHO. (2018). Retrieved 9 July 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/arsenic

Pediatric Environmental Health Center | Arsenic in Food | Boston Children’s Hospital. (2021). Retrieved 9 July 2021, from https://www.childrenshospital.org/centers-and-services/programs/o-_-z/pediatric-environmental-health-center-program/helpful-links/arsenic-in-food

Arsenic in Fruits, Juices, and Vegetables | Arsenic and You. (2021). Retrieved 9 July 2021, from https://sites.dartmouth.edu/arsenicandyou/arsenic-in-fruits-juices-and-vegetables/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ajeng Quamila Diperbarui 09/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x