Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Pilihan Obat Obesitas, Mulai dari Resep Dokter hingga Herbal

Pilihan Obat Obesitas, Mulai dari Resep Dokter hingga Herbal

Obesitas bisa meningkatkan berbagai risiko penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Oleh karena itu, orang dengan obesitas perlu mencapai berat badan yang sehat dengan perubahan gaya hidup dan minum obat. Lantas, apa saja obat yang digunakan?

Pilihan obat untuk mengatasi obesitas

Penumpukan lemak berlebihan atau obesitas perlu diatasi. Hal ini bertujuan untuk mencapai berat badan yang sehat, meningkatkan kesehatan secara menyeluruh, dan menurunkan risikon komplikasi obesitas.

Program penurunan berat badan melalui perbaikan pola maka n lebih sehat, peningkatan aktivitas, dan minum obat menjadi perawatan utama untuk orang dengan berat badan berlebihan ini.

Penggunaan obat membantu orang dengan obesitas untuk menurunkan berat badan sekaligus mempertahankan hasilnya.

Bagi banyak pasien, konsumsi obat juga bisa menambah efektivitas diet sehat dan olahraga.

Berikut ini adalah beberapa obat obesitas yang diresepkan dokter dan bisa didapatkan di apotek.

1. Fentermin

obat syntocinon

Fentermin adalah obat yang paling banyak digunakan untuk mengatasi berat badan berlebih dan obesitas.

Awalnya, obat ini digunakan sebagai terapi jangka pendek. Akan tetapi, sekarang diperbolehkah untuk menggunakannya sebagai terapi jangka panjang.

Cara kerja dari Fentermin adalah mengurangi rasa lapar dengan mempengaruhi otak. Dengan begitu, pasien obesitas tidak makan berlebihan.

Penggunaan obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti mulut kering, gelisah, insomnia, dan sembelit. Sisi positifnya, kondisi mulut yang kering bisa meningkatkan asupan cairan.

Namun, tidak semua pasien yang kelebihan berat badan bisa menggunakan obat. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang tidak disarankan menggunakan obat ini.

  • Hipertiroidisme.
  • Glaukoma.
  • Penyakit jantung.
  • Pernah mengalami stroke.

Jika pasien memiliki masalah kesehatan di atas, dokter akan meresepkan obat lain yang lebih cocok.

2. Kombinasi fentermin dan topiramate

Obat obesitas selanjutnya tetap sama tapi dikombinasikan dengan topiramate. Cara kerja dari obat ini adalah mengurangi rasa lapar dengan meningkatkan rasa kenyang.

Kombinasi keduanya membuat efek obat jadi lebih optimal. Namun dari segi biaya, harganya jauh lebih mahal karena tidak masuk dalam obat generik.

Efek samping obat ini tidak berbeda dengan fentermin, yakni menimbulkan mulut kering, sembelit atau diare, insomnia, pusing, dan perubahan rasa di lidah.

Topiramate tidak disarankan untuk ibu hamil. Sementara untuk pengidap obesitas dengan masalah kesehatan, dokter akan mempertimbangkan kondisi berikut sebelum menggunaka topiramate.

  • Penyakit ginjal atau riwayat batu ginjal.
  • Glaukoma.
  • Depresi.
  • Penyakit liver.

3. Bupropion atau naltrexone

obat menyebabkan penyakit ginjal

Selain topiramate, obat pendamping lain yang juga diresepkan dokter untuk pasien obesitas adalah bupropion atau naltrexone.

Sama seperti obat sebelumnya, bupropion dapat membantu perut jadi lebih kenyang dan mengurangi rasa ngidam makanan manis. Efeknya ini mencegah pasien kebanyakan makan makanan manis.

Dokter mungkin merekomendasikan obat ini jika orang yang ingin menurunkan berat badannya punya kebiasaan ngemil makanan manis.

Efek sampingnya sama seperti obat Fentermin, seperti mulut kering dan insomnia. Orang dengan beberapa masalah kesehatan berikut tidak disarankan menjalani kombinasi pengobatan ini.

  • Kejang.
  • Mengonsumsi opioid untuk mengatasi nyeri kronis.
  • Gangguan makan.

4. Liraglutid dan semiglutid

Semiglutide dan liraglutid adalah obat obesitas yang diberikan lewat suntikan. Obat liraglutid diberikan harian dan semiglutid diberikan mingguan.

Keduannya memberikan efek kenyang pada perut sehingga mencegah orang dengan obesitas makan lebih banyak. Penggunaan semiglutid memberi efek penurunan berat badan sebanyak 15% pada 50% pasien obesitas.

Berikut ini adalah beberapa efek samping yang mungkin dialami selama menggunakan kedua obat tersebut.

  • Mual dan muntah.
  • Diare atau sembelit.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Kadar gula darah rendah (hipoglikemia) pada pasien diabetes.

Deretan obat obesitas di atas akan diresepkan dokter disesuaikan dengan kebutuhan, preferensi, dan kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Penting Anda Ketahui

Obat obesitas perlu diresepkan bersamaan dengan diet dan peningkatan aktivitas, bukan sebagai solusi jika perubahan gaya hidup tidak ampuh menurunkan berat badan.

Obat alami untuk obesitas

anak minum jamu

Selain mengandalkan obat yang dibeli di apotek atas resep dokter, beberapa penelitian menunjukkan potensi tanaman herbal sebagai pengobatan obesitas.

Namun, sebelum Anda menjadikan obat herbal ini sebagai perawatan, baiknya konsultasi lebih lanjut dengan dokter. Tujuannya, pengobatan alami berjalan aman tanpa menimbulkan interaksi obat yang merugikan.

1. Jahe

Jahe menjadi salah satu rempah yang bisa dijadikan obat herbal untuk menurunkan berat badan.

Berdasarkan sebuah pengamatan pada Critical reviews in food science and nutrition, jahe diketahui dapat menurunkan berat badan.

Efek penurunan berat badan dari jahe terjadi karena bahan aktif dari rempah yang dapat meningkatkan metabolisme dan pembakaran lemak serta menekan nafsu makan.

Memasukkan obat alami ini dalam menu makan harian, bisa dengan dicampurkan ke dalam makanan, dibuat teh atau wedang, dan dikonsumsi ekstraknya.

2. Ginseng

Tanaman ginseng juga bisa digunakan sebagai obat alami untuk obesitas. Ini karena mengonsumsi ginseng dapat mengubah pembentukan lemak dan menunda penyerapan lemak usus.

Efek tersebut berpengaruh pada penurunan berat badan. Hal ini bisa membantu pasien obesitas mencapai berat badan yang sehat.

Sama seperti jahe, ginseng bisa ditambahkan ke dalam menu masakan. Bisa juga dibuat menjadi teh hangat ditambah dengan perasan lemon yang bisa dinikmati kapan saja.

3. Kunyit

Terakhir, ada kunyit yang bisa dijadikan obat alami untuk membantu menurunkan berat badan.

Manfaatnya ini diketahui dalam penelitian berasal dari kandungan kurkumin yang bisa meningkatkan pengurangan lemak perut, sehingga berat badan dapat menurun hingga 5 persen.

Efeknya ini hadir jika kurkumin dikonsumsi sebanyak 2 kali sehari selama satu bulan secara rutin.

Namun, perlu diingat bahwa temuan ini menggunakan jumlah kurkumin yang terkonsentrasi, jauh lebih besar daripada jumlah yang ada dalam dosis kunyit biasa.

Konsumsi kunyit biasanya ditambahkan pada menu masakan atau minuman jamu kunyit asam. Anda tinggal pilih sajian mana yang paling enak untuk dinikmati.

Ada banyak sekali pilihan obat untuk obesitas, baik itu alami maupun obat yang dibeli di apotek.

Baik itu diresepkan maupun tidak, baiknya penggunaan semua obat di atas dikonsultasikan lebih dahulu dengan dokter agar pengobatan jadi lebih efektif dan aman.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Top weight loss medications – obesity medicine association. Main. (2021, December 10). Retrieved May 30, 2022, from https://obesitymedicine.org/weight-loss-medications/

5 common weight loss medications & their side effects: Obesity Medicine Association. Main. (2021, December 10). Retrieved May 30, 2022, from https://obesitymedicine.org/5-common-weight-loss-medications-their-side-effects-obesity-medicine-association/

Mayo Foundation for Medical Education and Research. (2021, September 2). Obesity. Mayo Clinic. Retrieved May 30, 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obesity/diagnosis-treatment/drc-20375749

Team, C. by M. I. M. S. O. (n.d.). Topiramate – oral. Topiramate – Oral Patient Medicine Information | MIMS Indonesia. Retrieved May 30, 2022, from https://www.mims.com/indonesia/drug/info/topiramate/patientmedicine/topiramate%2B-%2Boral

Lee, Y. S., Cha, B. Y., Yamaguchi, K., Choi, S. S., Yonezawa, T., Teruya, T., Nagai, K., & Woo, J. T. (2010). Effects of Korean white ginseng extracts on obesity in high-fat diet-induced obese miceCytotechnology62(4), 367–376. https://doi.org/10.1007/s10616-010-9288-7

Maharlouei, N., Tabrizi, R., Lankarani, K. B., Rezaianzadeh, A., Akbari, M., Kolahdooz, F., Rahimi, M., Keneshlou, F., & Asemi, Z. (2019). The effects of ginger intake on weight loss and metabolic profiles among overweight and obese subjects: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trialsCritical reviews in food science and nutrition59(11), 1753–1766. https://doi.org/10.1080/10408398.2018.1427044

Alappat, L., & Awad, A. B. (2010). Curcumin and obesity: evidence and mechanisms. Nutrition reviews68(12), 729–738. https://doi.org/10.1111/j.1753-4887.2010.00341.x

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 2 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan