home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Kopi Luwak Lebih Sehat dari Jenis Kopi Lain?

Apakah Kopi Luwak Lebih Sehat dari Jenis Kopi Lain?

Kopi luwak didaulat sebagai kopi dengan harga paling mahal sedunia karena langka dan rasanya begitu khas. Saking khasnya, kopi ini sering menjadi buah tangan asli Indonesia. Harganya memang mahal, tapi apakah sebanding dengan khasiatnya?

Apa itu kopi luwak?

Kopi luwak diproduksi di daerah Sumatra dengan metode yang sama sekali tidak umum. Bijinya didapatkan dari kotoran binatang bernama luwak atau sejenis musang liar yang hidup di hutan atau area perkebunan kopi.

Luwak yang berkeliaran sering makan buah ceri yang tumbuh dari tanaman di sekitarnya. Buah ceri akan dicerna oleh luwak, kemudian biji buah ceri yang tidak hancur dalam sistem pencernaan luwak akan keluar bersama dengan kotorannya.

Biji ceri yang keluar bersama kotoran luwaklah yang akan diproses. Jenis bijinya tergantung buah ceri apa yang dimakan luwak yakni robusta atau arabika. Sumatra memang dikenal sebagai daerah penghasil kopi jenis robusta dan arabika.

Namun, kebanyakan kopi yang tersedia di pasaran saat ini berasal dari tanaman berjenis arabika. Biji tersebut akan dibersihkan dan disterilkan, lalu disangrai sehingga kopi siap dijual dan didistribusikan.

Karena prosesnya berbeda, rasa dan tekstur kopi mahal ini juga berbeda dari jenis kopi lainnya. Kopi luwak terasa lebih ringan, tidak tajam seperti jenis lainnya. Selain itu, seduhannya juga lebih beraroma.

Beberapa orang meyakini rasa dan aroma kopi luwak lebih menggugah selera. Sebab, luwak sangat pandai memilih buah ceri yang terbaik dan sudah matang.

Manfaat kopi luwak untuk kesehatan

Di bawah ini merupakan berbagai manfaat kopi luwak untuk kesehatan.

1. Bisa menjadi pilihan yang lebih aman untuk lambung

Bagi orang-orang yang perutnya lebih sensitif, biasanya kopi bisa menimbulkan berbagai efek yang tidak menyenangkan pada perut seperti nyeri atau sensasi melilit. Karena efek tersebut, banyak orang memilih menghindari kopi.

Berbeda dari kopi biasanya, tingkat keasaman pada kopi mahal ini lebih rendah. Maka dari itu, kemungkinan Anda akan mengalami sakit perut setelah meminumnya lebih kecil daripada jika minum kopi biasa.

2. Bantu cegah kanker

Ternyata, kopi luwak dapat membantu melindungi Anda dari risiko terhadap jenis kanker tertentu, seperti kanker usus besar. Kopi sendiri dapat merangsang produksi cairan empedu yang mempercepat pencernaan melalui usus besar.

Kelancaran pencernaan ini dapat menurunkan jumlah karsinogen yang bisa menyebabkan kanker. Selain itu, kopi juga dikaitkan dengan menurunnya kadar estrogen, hormon yang juga bisa menjadi pemicu tumbuhnya beberapa jenis kanker.

3. Bantu memperbaiki suasana hati

Jenis kopi berkafein atau tidak berkafein dapat bertindak sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas yang dapat merusak dan menimbulkan pembengkakan sel. Hal ini karena kandungan polifenol, salah satu jenis antioksidan.

Pada beberapa orang, efek ini bermanfaat untuk sistem saraf dan dapat bertindak sebagai antidepresan. Kafein juga dapat memengaruhi kondisi mental seperti meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecemasan, dan memperbaiki suasana hati.

4. Mengatasi migrain

Tak seperti jenis lainnya yang bisa menjadi pemicu migrain, kopi luwak justru bisa menjadi alternatif yang ideal bagi Anda yang sedang mengalami sakit kepala.

Lagi-lagi manfaat ini bisa didapat karena kandungan asam dan kafein yang lebih sedikit dari kopi satu ini. Sehingga, kemungkinan efek sakit kepala yang bisa terjadi pun akan lebih rendah.

Apakah benar kopi luwak lebih sehat?

Menurut sebuah tes laboratorium di Kanada, kopi luwak dari Indonesia mengandung protein lebih sedikit dari jenis lainnya. Ini karena protein kopi sudah dicerna oleh luwak. Karena proteinnya berkurang, rasa pahit khas kopi pun ikut berkurang.

Kopi ini menjadi pilihan yang lebih aman untuk perut sensitif, sebab proses pencernaan luwak membuat kopi ini memiliki kandungan kafein dan asam yang lebih sedikit. Namun, bukan berarti semua kopi luwak rendah kafein dan aman bagi lambung.

Pasalnya, setiap biji yang dikonsumsi luwak memiliki kandungan kafein yang berbeda-beda. Jika dibandingkan dengan jenis kopi lain seperti kopi Aceh, kopi Toraja, kopi Etiopia, atau kopi Kenya, perbedaan kandungannya tak begitu jauh.

Apa pun jenisnya, kopi harus dikonsumsi dengan bijak. Hindari meminum lebih dari 3 cangkir kopi per hari. Alih-alih merasakan manfaat, Anda malah akan merasakan efek samping berupa gelisah, cemas, insomnia, mual, diare, sakit kepala, hingga jantung berdebar.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Marcone, Massimo F. (2004) Composition and properties of Indonesian palm civet coffee (Kopi Luwak) and Ethiopian civet coffee. https://nature.berkeley.edu/garbelottoat/wp-content/uploads/marcone-2004.pdf Diakses pada 27 Januari 2017.

Coffee. (n.d.). Harvard T. H. Chan School of Public Health. Retrieved 6 April 2021, from https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/food-features/coffee/

Je Y, Giovannucci E. Coffee consumption and risk of endometrial cancer: findings from a large up-to-date meta-analysis.  International Journal of Cancer. Retrieved 6 April 2021.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 25/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x