home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Alasan Harus Mengganti Mi Instan dengan Mi Shirataki

Alasan Harus Mengganti Mi Instan dengan Mi Shirataki

Mie shirataki menjadi pilihan yang baik sebagai pengganti mie instan. Mie tersebut masih digandrungi para pegiat gaya hidup sehat karena rendah karbohidrat dan bebas gluten.

Bertanya-tanya, mengapa Anda perlu beralih dari mie instan ke mie shirataki? Ketahui jawabannya di bawah ini.

Mie shirataki mengandung serat

Saat perut kosong, mungkin kebanyakan orang memilih makan mie instan. Selain mudah didapat, rasanya juga lezat. Rata-rata mie instan mengandung tepung, garam, dan minyak sawit. Belum lagi mie instan mengandung tinggi sodium.

Namun, hadirnya mie shirataki memberikan alternatif sehat kepada para pecinta mie.

Mie shirataki terbuat dari Amorphophallus konjac atau dikenal dengan umbi konnyaku. Umbi ini dikeringkan lalu digiling untuk diproses menjadi tepung.

Di Asia, hasil dari tepung konnyaku ini digunakan untuk membuat mie, tofu, snack, hingga obat-obatan tradisional China.

Mie shirataki hampir tidak mengandung kalori, karbohidrat, lemak, gula, dan protein. Justru di dalamnya terkandung 97% air dan 3% serat solubel yang disebut glukomanan.

Menurut penelitian Journal Of The American College Of Nutrition, serat glukomanan dapat membantu melancarkan sistem pencernaan dan menyehatkan usus pada orang dengan sembelit.

Karena itu, konsumsi makanan sehat ini membuat Anda tidak lagi cepat lapar.

Rendah kolesterol dan mendukung penurunan berat badan

Tak lagi cemas mengonsumsi mie dengan ancaman kolesterol naik. Pasalnya, glukomanan dalam mie shirataki punya dampak baik untuk kolesterol Anda.

Diungkapkan oleh penelitian dari The American Journal Of Clinical Nutrition, glukomanan dapat menurunkan kolesterol total dan trigliserida. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa glukomanan mendukung penurunan berat badan.

Bisa dikatakan bahwa mie shirataki dapat dimasukkan ke dalam menu diet sehat karena selaras dengan manfaat tersebut.

Lebih lanjut, mie sehat ini juga berkontribusi dalam pembentukan asam lemak rantai pendek dalam tubuh. Komponen ini menstimulasi pelepasan hormon leptin yang mengatur rasa kenyang Anda.

Asupan glukomanan juga membantu menekan hormon ghrelin. Hormon ini mengatur rasa lapar. Sehingga saat mengonsumsi mie shirataki ini Anda akan merasa kenyang lebih lama sebab reaksi pelepasan hormon leptin dan pengurangan ghrelin.

Rasa kenyang tersebut timbul karena glukomanan memiliki sifat serat solubel. Ketika serat itu masuk ke dalam tubuh, dia akan mengubah bentuknya menjadi gel. Bentuk gel glukomanan membuat Anda kenyang lebih lama setelah makan.

Alasan beralih dari mie instan

Meskipun rasanya menggugah selera, mie instan mengandung rendah serat dan protein, dibandingkan mie shirataki.

Karbohidrat dalam mie instan cenderung tinggi. Misalnya saja, dalam produk ramen terkandung 27 gram karbohidrat, 7 gram lemak total, 3 gram lemak jenuh, dan kandungan lainnya.

Ditambah, bumbu yang mengandung tinggi sodium dalam MSG. Dalam satu sajian mi instan mengandung 861mg sodium. Belum lagi jika mie instan dikonsumsi berlebih, kandungannya pun akan berlipat ganda.

Adapun sebuah penelitian mengungkapkan bahwa konsumsi mie instan dua kali dalam seminggu dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan. Hal ini juga terkait bahwa konsumsi mie instan berlebih dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit jantung.

Sementara itu tinggi sodium dalam mie instan juga berkontribusi pada peningkatan risiko tekanan darah tinggi. Sebagai antisipasi dari kedua risiko tersebut, tidak ada salahnya beralih ke mie shirataki.

Mie shirataki dapat mengubah gaya hidup Anda menjadi lebih sehat. Tidak sekadar mengenyangkan, makanan ini bermanfaat untuk kesehatan Anda.

Telah disebutkan pada bagian awal, terdapat kandungan glukomanan sebagai serat utamanya. Berbeda dengan mie instan, mie shirataki mendukung penurunan berat badan dan kelancaran sistem pencernaan.

Menilik perbandingan tersebut, manfaat, dan penjelasan di atas, Anda masih bisa menikmati mie dengan cara yang sehat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Are Instant Noodles Bad for You? https://www.healthline.com/nutrition/instant-noodles#section2. Diakses 16 Oktober 2019.

Shirataki Noodles Are Low-Carb and Gluten-Free. https://www.verywellfit.com/what-are-shirataki-noodles-and-where-to-get-them-2242296. Diakses 16 Oktober 2019.

Shirataki Noodles: The Zero-Calorie “Miracle” Noodles. https://dlife.com/shirataki-noodles-recipe-benefits/. Diakses 16 Oktober 2019.

Are Instant Noodles Bad for You? https://www.healthline.com/nutrition/instant-noodles. Diakses 16 Oktober 2019.

Chen, H., Cheng, H., Wu, W., Liu, Y., & Liu, S. (2008). Supplementation of Konjac Glucomannan into a Low-Fiber Chinese Diet Promoted Bowel Movement and Improved Colonic Ecology in Constipated Adults: A Placebo-Controlled, Diet-Controlled Trial. Journal Of The American College Of Nutrition27(1), 102-108. doi: 10.1080/07315724.2008.10719681

Sood, N., Baker, W., & Coleman, C. (2008). Effect of glucomannan on plasma lipid and glucose concentrations, body weight, and blood pressure: systematic review and meta-analysis. The American Journal Of Clinical Nutrition, 88(4), 1167-1175. doi: 10.1093/ajcn/88.4.1167

Shin, H., Cho, E., Lee, H., Fung, T., Rimm, E., & Rosner, B. et al. (2014). Instant Noodle Intake and Dietary Patterns Are Associated with Distinct Cardiometabolic Risk Factors in Korea. The Journal Of Nutrition, 144(8), 1247-1255. doi: 10.3945/jn.113.188441

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Maria Amanda
Tanggal diperbarui 30/10/2019
x