Apakah Anda tipe orang yang sering bolak-balik mengecek handphone untuk sekadar melihat notifikasi pesan singkat atau email? Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko Anda untuk mengalami stres. Ketahui penyebab dan cara mengatasinya di bawah ini.
Apakah Anda tipe orang yang sering bolak-balik mengecek handphone untuk sekadar melihat notifikasi pesan singkat atau email? Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko Anda untuk mengalami stres. Ketahui penyebab dan cara mengatasinya di bawah ini.

Menurut American Psychological Association (APA), orang yang terus-menerus mengecek HP atau handphone cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi.
Mengecek handphone sebenarnya merupakan kebiasaan umum bagi banyak orang. Ada yang menggunakannya untuk media sosial, email, mengirim pesan singkat, atau sekadar melihat unggahan foto seseorang.
Meski begitu, kebiasaan mengecek HP atau gadget dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik bila dilakukan terlalu sering atau berlebihan.
Berikut sejumlah ciri yang bisa menandakan bahwa Anda atau orang terdekat terlalu sering mengecek gadget.

Mengecek HP secara berulang dapat terjadi karena berbagai alasan. Hal ini dapat dipicu oleh rasa ingin tahu dan kecemasan terhadap hal tertentu.
Di samping itu, kebiasaan yang melibatkan pemakaian media sosial secara berlebihan mungkin juga disebabkan oleh rasa takut akan ketinggalan informasi terbaru.
Untuk lebih lengkapnya, berikut ini adalah beberapa kondisi yang menyebabkan kebiasaan cek HP terlalu sering.
Kebiasaan mengecek HP secara berlebihan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko stres dan kecemasan hingga mengganggu kualitas tidur.
Sering bermain HP untuk menonton konten berkualitas yang rendah, atau brain rot, juga berisiko menurunkan fokus dan kemampuan berpikir Anda.
Untuk menghindari bahaya sering mengecek handphone di atas, berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan.

Tentukan waktu-waktu tertentu untuk membuka handphone, misal hanya setiap satu jam sekali.
Dengan menerapkan cara ini, Anda dapat melatih otak agar tidak terus terpancing membuka gawai tanpa alasan yang jelas.
Kebiasaan sering mengecek handphone kerap kali dipicu oleh notifikasi dari aplikasi yang tidak begitu penting, seperti media sosial, e-commerce, atau game online.
Sebaiknya, nonaktifkan pemberitahuan yang tidak mendesak agar Anda tidak gampang tergoda untuk membuka handphone setiap kali layar menyala atau perangkat bergetar.
Letakkan gadget jauh dari luar jangkauan tangan. Jika Anda terbiasa meletakkan handphone di atas meja, cobalah untuk meletakkannya di dalam laci selama bekerja.
Cara ini diharapkan membuat Anda lebih fokus dan mengurangi keinginan untuk mengecek HP.
Guna mengatasi kecanduan gadget, Anda bisa mengalihkan waktu yang biasa digunakan untuk bermain HP dengan aktivitas lain yang lebih positif.
Membaca buku, olahraga, atau mengobrol dengan orang di sekitar akan membantu mengurangi ketergantungan Anda terhadap penggunaan perangkat elektronik.
Ketika Anda telah merasa sangat bergantung dan sulit mengontrol kebiasaan sering mengecek handphone, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan konselor atau psikolog.
Mereka dapat membantu menemukan akar permasalahan dan memberikan strategi yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut.
Pada dasarnya, mengecek HP bukanlah suatu hal yang salah. Meski begitu, bila Anda lakukan terlalu sering, hal ini bisa membawa dampak negatif yang serius.
Nah, dengan menerapkan berbagai langkah di atas, Anda dapat menjaga keseimbangan hidup di tengah perkembangan teknologi yang serbacepat.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Stress in America. (2017). American Psychological Association. Retrieved April 27, 2025, from https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2017/state-nation.pdf
Media advisory: As a third of Americans spend four or more hours a day on social media, APA offers new polling, resources on technology use. (2024). American Psychiatric Association. Retrieved April 27, 2025, from https://www.psychiatry.org/news-room/news-releases/media-advisory-resources-on-technology-use
Social media fact sheet. (2023). Pew Research Center: Internet, Science & Tech. Retrieved April 27, 2025, from https://www.pewresearch.org/internet/fact-sheet/social-media/
Edmonds, R. (2018). Anxiety, loneliness and fear of missing out: The impact of social media on young people’s mental health. Centre for Mental Health. Retrieved April 27, 2025, from https://www.centreformentalhealth.org.uk/anxiety-loneliness-and-fear-missing-out-impact-social-media-young-peoples-mental-health/
Bowman, A. (2024). Doomscrolling: Stop the scroll, protect your mental health. Mayo Clinic Press. Retrieved April 27, 2025, from https://mcpress.mayoclinic.org/mental-health/doom-scrolling-and-mental-health/
Yousef, A. M., Alshamy, A., Tlili, A., & Metwally, A. H. (2025). Demystifying the new dilemma of brain rot in the Digital Era: A review. Brain Sciences, 15(3), 283. https://doi.org/10.3390/brainsci15030283
Shatrughan, P. (2017). Phantom Vibration Syndrome: An Emerging Phenomenon. Asian Journal of Nursing Education and Research, 7(4), 596-697. https://doi.org/10.5958/2349-2996.2017.00116.1
American Psychiatric Association. DSM-5 Task Force. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5.
Versi Terbaru
03/05/2025
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh Ririn Nur Abdiah Bahar, S.Psi., M.Psi.
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari