home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal FoMO, Fenomena Takut Ketinggalan Berita yang Mengancam Kesehatan Jiwa

Mengenal FoMO, Fenomena Takut Ketinggalan Berita yang Mengancam Kesehatan Jiwa

Fear of missing out (FoMO), adalah suatu kondisi di mana seseorang takut dikatakan tidak update, tidak gaul, dan takut ketinggalan berita yang sedang santer. FoMO adalah rasa takut dan cemas yang bisa menyebabkan efek samping secara fisik maupun psikologis. Yuk, cari tahu apa itu FoMO dan apa efeknya bagi kesehatan jiwa dan tubuh.

FoMO adalah….

Fear of missing out yang biasa disingkat FoMO adalah jenis kecemasan yang umum dirasakan generasi Y alias milenial, yaitu mereka yang lahir tahun 1981 sampai 1996. Kondisi ini semakin marak saat Instagram, Twitter, Facebook, Snapchat, Path, dan media sosial sosial lainnya, berubah menjadi suatu bagian penting dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, orang berbondong-bondong menyajikan atau berusaha menjadi yang pertama untuk update informasi tertentu. Sedangkan orang dengan FoMO adalah orang yang paling gampang cemas, tidak nyaman, dan risau kalau mereka ketinggalan informasi apa pun di media sosial.

Menurut Department of Psychology, School of Social Sciences, Nottingham Trent University, di Inggris, FoMO adalah suatu kondisi yang bisa menyebabkan orang berlaku di luar batas kewajaran di media sosial. Selain takut ketinggalan berita di media sosial, mereka juga kadang sengaja memasang gambar, tulisan, atau bahkan mempromosikan diri yang belum tentu jujur hanya demi terlihat update. Ironisnya, hal ini bisa dianggap sebagai cari sensasi dan kebahagiaan mereka di media sosial palsu.

mengecek handphone

Apa dampaknya jika Anda mengalami FOMO?

Kecemasan yang diperbuat oleh media sosial ini bisa membuat efek negatif yang nyata, lho. Antara lain berdampak buruk bagi mental, fisik, dan kehidupan mereka. Cemas karena tidak bisa update di media sosial lama-kelamaan bisa menjadi bumerang. Bayangkan saja jika suatu hari orang dengan kecemasan seperti ini tidak mendapatkan akses internet dan listrik atau ketika mereka lupa bawa handphone.

Perlu diketahui, kecemasan adalah suatu hal yang mampu memicu stres berlebihan dan depresi pada seseorang. Berdasarkan sebuah studi, kecemasan dapat membuat produksi hormon-hormon penting tubuh seperti serotonin dan adrenalin terganggu. Susah tidur, tidak nafsu makan, sakit kepala, dan mood kacau bisa muncul ketika hormon dalam tubuh Anda tidak seimbang.

Selain itu, saat Anda merasa cemas, tubuh cenderung akan menghasilkan rasa mual. Ini terjadi saat usus mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh Anda sedang terancam. Tak jarang, akhirnya tubuh akan bereaksi dengan memunculkan rasa mual.

Seperti yang dilaporkan The Nottingham Post dalam Science Direct, FoMO adalah suatu kondisi yang bisa membuat hubungan sosial Anda jadi rusak. Ya, keseringan update di media sosial bisa menimbulkan hal-hal negatif. Contoh, jika seorang teman mengajak Anda pergi main, lalu Anda menjawab tidak bisa. Namun, tanpa sadar Anda pergi bersama teman Anda yang lain sembari meng-update nya di media sosial. Hal itu bisa membuat teman Anda yang sebelumnya mengajak Anda akan merasa terkhianati. Ujungnya, tanpa disadari hubungan sosial Anda dengan teman Anda mungkin jadi kurang baik.

Boleh menggunakan media sosial, tapi jangan berlebihan

Meskipun FoMO adalah fenomena yang berbahaya bagi kesehatan mental, fisik, dan hubungan sosial Anda, bukan berarti Anda dilarang menggunakan media sosial sama sekali. Boleh, kok, menggunakan media sosial, tapi dengan batasan yang wajar.

Sebagai gantinya, batasi penggunaan media sosial yang seimbang dengan aktivitas Anda. Tidak semua hal di hidup Anda harus di-post juga. Selain itu, usahakan untuk tidak membandingkan hidup Anda dengan kehidupan orang lain di media sosial. Karena sejatinya apa yang ditampilkan di media sosial bukanlah hal yang sebenarnya terjadi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

FOMO real and it could be detrimental for your healt http://www.medicaldaily.com/fear-missing-out-fomo-real-and-it-could-be-detrimental-your-mental-health-401321 Diakses pada 25 Januari 2018.

FOMO, Its your life that missing out on  Fear of Missing Out, Leaves People Open to Media Social Trolls  https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0747563216306902  Diakses pada 25 Januari 2018.

Anxiety effect to body https://www.healthline.com/health/anxiety/effects-on-body  Diakses pada 25 Januari 2018.

Worrying can make you sick http://www.health.com/anxiety/worrying-can-make-you-sick  Diakses pada 25 Januari 2018.

http://www.nottinghampost.com/fear-of-missing-out-leaves-people-open-to-social-media-trolls/story-29806020-detail/story.html Diakses pada 25 Januari 2018.fm

Foto Penulis
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui 21/04/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x