home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Pahami Gejala, Penyebab, Hingga Cara Mengatasi Krisis Eksistensi

Pahami Gejala, Penyebab, Hingga Cara Mengatasi Krisis Eksistensi

Kecemasan, stres, atau depresi bisa hadir dalam hidup setiap orang. Pada beberapa orang, kondisi ini bersifat jangka pendek dan tidak terlalu mengganggu kualitas hidup. Akan tetapi, pada beberapa orang lainnya, kondisi tersebut bisa menyebabkan keputusasaan yang mendalam dan memunculkan krisis eksistensi. Untuk tahu mengenai gangguan mental ini, mari simak ulasan lengkapnya.

Apa itu krisis eksistensi?

Krisis eksistensial adalah kondisi yang mengacu pada perasaan tidak nyaman tentang makna, pilihan, dan kebebasan dalam hidup. Ada beberapa ahli yang juga menyebut kondisi ini dengan istilah kecemasan eksistensial.

Orang dengan kondisi ini mempertanyakan tujuan dari hidupnya dan apa arti dirinya hidup di dunia ini, dan gagal mendapatkan jawaban yang memuaskan sehingga memunculkan konflik dalam diri.

Kondisi ini akhirnya menyebabkan frustasi dan kehilangan rasa cuka cita. Kebanyakan mengganggap bahwa hidup pada dasarnya tidak ada gunanya, keberadaan dirinya juga tidak berarti.

Bukan hal aneh memang bagi seseorang untuk mencari makna dan tujuan dalam hidupnya. Namun orang dengan krisis eksistensial, jawaban tidak mereka temukan atau kalaupun sudah ditemukan mereka tidak merasa puas.

Kecemasan eksistensial cenderung muncul selama masa transisi dan kesulitan beradaptasi, sering kali terkait dengan hilangnya rasa keamanan dan kenyamanan. Contoh kasusnya mungkin seperti seorang mahasiswa yang harus merantau secara terpaksa atau orang dewasa yang mengalami perceraian yang sulit. Hal tersebut seolah-olah membuat pondasi di hidup yang mereka bangun perlahan runtuh.

Gagasan tentang kondisi ini sebenarnya telah dipelajari oleh psikolog dan psikiater, seperti Kazimierz Dabrowski dan Irvin D. Yalom selama beberapa dekade, dimulai sejak 1929. Namun, istilahnya mulai ramai diperbicangkan beberapa tahun terakhir ini.

Meski telah banyak penelitian mengenai kondisi ini, Anda mungkin tidak begitu paham dengan kondisinya, karena sekilas hampir mirip dengan gangguan kecemasan dan depresi.

Jenis krisis eksistensi yang mungkin dialami seseorang

Kecemasan eksistensial merupakan sebuah payung dari beberapa jenis masalah seperti di bawah ini.

Krisis akan kebebasan dan tanggung jawab

Eksistensialisme menekankan bahwa kita semua bebas untuk membuat pilihan dalam hidup, dan dengan kebebasan untuk membuat pilihan ini, muncul tanggung jawab. Namun, mengingat semuanya akan berakhir dengan kematian, tindakan Anda bisa tampak tidak berarti.

Dengan cara ini, kebebasan dapat menyebabkan keputusasaan, dan tanggung jawab yang menyertai kebebasan ini dapat menyebabkan kecemasan. Seberapa sering Anda berjuang dalam mengambil keputusan dan takut jika keputusan tersebut salah?

Ketakutan untuk membuat pilihan yang salah mencerminkan kecemasan tentang kebebasan yang terkait dengan masalah eksistensial.

Krisis dengan arti kehidupan dan kematian

Jika Anda punya kecemasan eksistensial, pasti pernah terbesit “Apa gunanya hidup?” Saat Anda melewati transisi dalam hidup dan merasa kehilangan rasa aman, Anda mungkin mempertanyakan inti kehidupan. Jika pada akhirnya berujung dengan kematian, Anda berkesimpulan untuk apa bekerja keras dan sebagainya.

Krisis eksistensi ini bisa menyerang di usia tertentu. Contohnya ketika Anda berulang tahuh ke-50 tahun, yang mungkin memaksa Anda untuk menghadapi kenyataan di usia yang sudah setengah abad ini.

Anda mungkin merenungkan makna hidup dan mati, dan mengajukan pertanyaan seperti, “Apa yang terjadi setelah kematian?” Ketakutan akan apa yang mungkin terjadi setelah kematian dapat memicu kecemasan berlebihan.

Begitu pula ketika seseorang kehilangan pasangan, orang tua, saudara kandung, anak, atau orang terkasih, sering kali memaksa orang untuk menghadapi kematiannya sendiri dan mempertanyakan makna hidup mereka sendiri. Demikian pula, jika Anda menghadapi penyakit serius atau mengancam jiwa, Anda mungkin mengalami krisis ang menyebabkan Anda diliputi pikiran tentang kematian dan makna hidup.

Krisis isolasi dan keterhubungan

Walaupun Anda menikmati kesendirian, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Hubungan yang kuat dengan orang-orang di sekitar, dapat memberi Anda dukungan mental dan emosional, membawa kepuasan dan kegembiraan batin. Masalahnya adalah bahwa hubungan tidak selalu permanen.

Orang dapat terpisah secara fisik dan emosional, dan kematian sering memisahkan orang yang dicintai. Hal ini dapat menyebabkan isolasi dan kesepian, sehingga beberapa orang merasa bahwa hidup mereka tidak ada gunanya.

Krisis emosi, pengalaman, dan perwujudan

Tidak membiarkan diri merasakan emosi negatif terkadang dapat menyebabkan krisis eksistensial. Beberapa orang menghalangi rasa sakit dan penderitaan, berpikir hal ini akan membuat mereka bahagia. Akan tetapi, hal ini malah menjadi bumerang karena dapat menimbulkan rasa bahagia yang salah. Ketika Anda tidak mengalami kebahagiaan sejati, hidup bisa terasa hampa.

Di sisi lain, mewujudkan emosi dan mengakui perasaan sakit, ketidakpuasan, dan ketidakpuasan dapat membuka pintu menuju pertumbuhan diri dan meningkatkan pandangan hidup.

Apa tanda seseorang mengalami krisis eksistensi?

cara cepat tidur saat gelisah

Kecemasan eksistensial, paling sering diawali dengan gejala kecemasan, yang diikuti dengan perasaan kewalahan, kurang motivasi dalam melakukan sesuatu, menjauhkan diri dari orang di sekitar, dan depresi.

Kesemua tanda tersebut umumnya muncul setelah seseorang mengalami peristiwa besar dalam hidupnya, seperti:

Apa penyebab dari krisis eksistensi?

Tantangan dan tekanan yang Anda hadapi setiap hari bisa menjadi pemicu munculnya kecemasan eksistensial. Penyebab lain yang juga meningkatkan risiko dari penyakit mental ini adalah terus merasa bersalah (guilt complex), menghadapi kematian dirinya sendiri karena sakit parah, ketidakpuasaan terhadap diri sendiri, dan kehilangan orang yang dicintai.

Orang dengan penyakit mental juga berisiko mengalami kondisi ini, seperti depresi, OCD (gangguan obsesif-kompulsif), dan borderline personality disorder.

Bagaimana cara mengatasi krisis eksistensi?

andrologi

Jika Anda mengalami tanda dan gejala kecemasan eksistensial, segera periksa ke dokter. Umumnya, dokter akan meminta Anda melakukan beberapa hal berikut ini, seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.

  • Kembali mengubah pola pikir. Alih-alih menganggap situasi tertentu sebagai kecemasan atau sesuatu yang buruk, Anda bisa melihatnya menjadi sesuatu yang berbeda, yakni sebagai peluang untuk melakukan perubahan yang akan membuat diri Anda jadi lebih bahagia.
  • Buat jurnal untuk mencatat hal-hal apa saja yang Anda syukuri, agar bisa membuat hidup Anda jadi bermakna. Catat hal-hal apa saja yang ingin Anda lakukan, yang bisa membantu hidup Anda jadi lebih bahagia.
  • Jalin komunikasi dengan orang-orang di sekitar Anda, dengan menghubungi teman atau keluarga. Anda juga bisa menjalin pertemanan dengan orang baru yang memiliki masalah atau kondisi serupa.
  • Luangkan waktu untuk merasakan hal-hal di sekitar Anda dengan indera yang Anda miliki, misalnya menikmati keindahan alam.
  • Saatnya move on dari masa lalu yang membuat Anda tertekan, stres, atau merasa tidak berdaya.
  • Jika Anda pernah berpikiran untuk bunuh diri, psikolog atau psikiater mungkin akan merekomendasikan penggunaan obat atau psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Gilmerm. (2020, October 05). 6 ways to overcome an existential crisis. Retrieved October 25, 2021, from https://health.clevelandclinic.org/ways-to-overcome-an-existential-crisis/

Dabrowski’s theory and existential depression in gifted children and adults. (2021, May 06). Retrieved October 25, 2021, from https://www.davidsongifted.org/gifted-blog/dabrowskis-theory-and-existential-depression-in-gifted-children-and-adults/

Hofmann, S. G., Sawyer, A. T., Witt, A. A., & Oh, D. (2010). The effect of mindfulness-based therapy on anxiety and depression: A meta-analytic review. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 78(2), 169-183. doi:10.1037/a0018555

Center for Substance Abuse Treatment. Brief Interventions and Brief Therapies for Substance Abuse. Rockville (MD): Substance Abuse and Mental Health Services Administration (US); 1999. (Treatment Improvement Protocol (TIP) Series, No. 34.) Chapter 6 –Brief Humanistic and Existential Therapies. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK64939/

Weems, C. F., Russell, J. D., Neill, E. L., Berman, S. L., & Scott, B. G. (2016). Existential anxiety among adolescents exposed to disaster: Linkages among level of exposure, PTSD, and depression symptoms*. Journal of Traumatic Stress, 29(5), 466-473. doi:10.1002/jts.22128

Hirschberger, G. (2018).Collective trauma and the social construction of meaning. Frontiers in Psychology, 9. doi:10.3389/fpsyg.2018.01441

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.