backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

3

Tanya Dokter
Simpan

Ada Berapa Jenis Halusinasi yang Bisa Anda Alami?

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 06/03/2024

Ada Berapa Jenis Halusinasi yang Bisa Anda Alami?

Halusinasi bisa membuat seseorang merasakan sensasi yang sebenarnya tidak nyata. Setiap orang bisa merasakan efek yang berbeda, sesuai dengan jenis halusinasi yang dialaminya.

Supaya Anda lebih memahami dan awas terhadap efek halusinasi, simak informasi berikut.

Jenis-jenis halusinasi yang umum terjadi

Halusinasi merupakan sensasi palsu yang terjadi tanpa rangsangan dari luar. Kondisi ini membuat seseorang menyaksikan atau mengalami hal-hal yang tidak nyata.

Berbagai macam gangguan mental, seperti depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), skizofrenia, demensia, hingga penyakit Alzheimer merupakan penyebab halusinasi.

Selain itu, halusinasi juga bisa disebabkan oleh penyalahgunaan obat-obatan, konsumsi alkohol yang berlebihan, atau kesedihan akibat kehilangan orang terdekat.

Seperti dijelaskan sebelumnya, halusinasi bisa dibedakan berdasarkan pancaindra yang terpengaruh. Berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis-jenis halusinasi.

1. Halusinasi pendengaran (auditori)

tipe halusinasi pendengaran

Mendengar suara bising, percakapan, atau musik yang tidak didengar orang lain adalah contoh paling umum dari halusinasi auditori.

Skizofrenia merupakan salah satu penyakit mental yang menyebabkan halusinasi pendengaran. Sekitar 70% orang dengan skizofrenia mengalami kondisi ini.

Mereka mengaku mendengar suara dua orang atau lebih yang bercakap-cakap dan berkomentar tentang dirinya.

Suara yang didengarkan bisa bernada positif, negatif, maupun netral. Suara ini mungkin juga mengajak untuk melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

2. Halusinasi penglihatan (visual)

Dibandingkan jenis halusinasi yang lain, halusinasi visual merupakan yang paling sering dialami oleh orang-orang dengan demensia.

Sinyal-sinyal visual bisa muncul dalam bentuk sederhana, seperti kilatan cahaya dan warna, atau yang lebih kompleks seperti orang, hewan, maupun situasi yang spesifik.

Sebagai contoh, halusinasi visual bisa membuat seseorang merasa ada orang lain di belakangnya. Padahal, tidak ada siapa-siapa dan orang lain pun tidak ada yang melihatnya.

3. Halusinasi penciuman (olfaktori)

Sering mencium bau muntahan, urine, feses, atau daging busuk secara tiba-tiba? Jika tidak ada orang lain yang mencium hal serupa, ini bisa menjadi tanda halusinasi olfaktori.

Kondisi yang juga dikenal dengan phantosmia ini memang lebih sering membuat seseorang mencium bau tidak sedap.

Pada umumnya, halusinasi penciuman disebabkan oleh kerusakan saraf pada bagian indra penciuman. 

Kerusakan mungkin disebabkan oleh virus, trauma, tumor otak, hingga paparan zat beracun atau obat-obatan. Selain itu, kondisi ini juga bisa dialami oleh pengidap epilepsi.

4. Halusinasi pengecapan (gustatori)

Jenis halusinasi lainnya ialah halusinasi gustatori atau sebuah persepsi yang salah mengenai rasa. Halusinasi gustatori lebih sering membuat seseorang merasakan rasa yang tidak enak.

Sebagai contoh, saat sedang ngopi, alih-alih merasakan sensasi pahit yang khas, Anda mungkin mengeluhkan rasa logam pada minuman. Padahal, orang lain yang minum kopi tersebut merasakan rasa kopi pada umumnya.

Melasir dari laman Cleveland Clinic, halusinasi gustatori cukup sering terjadi pada pasien epilepsi.

5. Halusinasi sentuhan (taktil)

Halusinasi taktil merupakan persepsi atau sensasi palsu terkait kontak fisik atau gerakan di sekitar tubuh.

Anda mungkin merasa seperti ada semut yang berjalan pada permukaan kulit atau di bawahnya. Dalam dunia medis, halusinasi taktil disebut dengan formikasi.

Contoh lain dari halusinasi sentuhan yaitu perasaan tersetrum atau merasa disentuh seseorang, padahal Anda sedang sendiri.

6. Halusinasi temporer

Jenis halusinasi temporer kerap dialami oleh seseorang yang baru saja kehilangan orang terdekat.

Kesedihan yang mendalam bisa membuat seseorang stres bahkan depresi. Kondisi inilah yang membuat mereka mungkin mendengar suara maupun melihat orang yang sudah meninggal.

Sesuai namanya, halusinasi temporer biasanya berlangsung dalam waktu singkat. Kondisi ini akan menghilang begitu kesedihan karena kehilangan mulai mereda.

Halusinasi bisa mengganggu produktivitas orang yang mengalaminya maupun orang lain di sekitarnya. Inilah mengapa kondisi ini perlu diatasi dengan tepat.

Setiap orang mungkin membutuhkan penanganan yang berbeda. Agar Anda mendapatkan perawatan yang tepat, jangan takut untuk berkonsultasi ke psikolog.

Kesimpulan

Halusinasi dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu:
  • suara (aditori),
  • penglihatan (visual),
  • penciuman (olfaktori),
  • pengecapan (gustatori),
  • sentuhan (taktik), dan
  • temporer.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, terutama gangguan mental.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 06/03/2024

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan