Berbagai Gangguan Kesehatan Akibat Body Image Negatif

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Kita semua pasti memiliki sesuatu yang tidak kita sukai tentang penampilan kita – hidung terlalu pesek, kulit terlalu gelap, postur badan pendek atau terlalu tinggi, atau mata yang terlalu besar atau terlalu kecil. Biasanya kita menyadari itu adalah bagian dari ketidaksempurnaan kita, dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.

Namun, media memainkan peran yang sangat besar dalam menciptakan suatu standar penampilan diri yang tidak realistis, yang pada akhirnya “memaksa” kita membangun persepsi atas tubuh kita untuk mengikuti standar tersebut agar bisa diterima oleh masyarakat—terutama dari segi idealitas kecantikan dan ekspektasi bentuk tubuh.

Ketika citra tubuh menjadi fokus utama, Anda mungkin cenderung melebih-lebihkan ukuran atau berat badan Anda, atau berpikir bahwa tubuh Anda harus lebih montok atau lebih langsing. Saat persepsi citra tubuh menjadi tercampur aduk dengan kepribadian dan penghargaan diri, ini bisa berarti bahwa ada masalah yang lebih dalam yang dapat menyebabkan gangguan makan.

Tidak ada penyebab tunggal atas ketidakpuasan tubuh atau gangguan pola makan. Tapi, berbagai penelitian membuktikan bahwa media memang memberikan kontribusi dalam porsi yang tidak main-main terhadap citra tubuh ideal, dan bahwa ekpos dan tekanan yang diberikan oleh media bisa meningkatkan rasa ketidakpuasan tubuh dan gangguan pola makan.

Dampak body image negatif terhadap kesehatan mental

Depresi

Remaja yang memiliki citra diri negatif lebih mungkin mengalami depresi, kecemasan, dan kecenderungan pemikiran dan/atau percobaan bunuh diri daripada kelompok remaja yang bisa menerima penampilan tubuh mereka apa adanya, bahkan jika dibandingkan dengan remaja pengidap penyakit kejiwaan lainnya, menurut sebuah studi terbaru oleh tim peneliti gabungan dari Bradley Hospital, Butler Hospital, dan Brown Medical School.

Contohnya, komentar “gendut”. Analisa Arroyo, PhD, dan Jake Harwood, Ph.D dari Univeristy of California mengkolaborasikan dua penelitian terpisah untuk mencari tahu apakah jenis komentar seperti ini adalah penyebab atau hasil dari kekhawatiran berat tubuh ideal dan isu kesehatan mental lainnya.

Peneliti mendeskripsikan komentar “gendut” sebagai segala jenis komentar dari orang lain mengenai apa yang partisipan makan dan olahraga yang seharusnya mereka lakukan, kecemasan mereka tentang kelebihan berat badan, bagaimana mereka memandang berat dan bentuk badan mereka, juga bagaimana mereka terlibat dalam membuat perbandingan dengan orang lain terhadap isu ini.

Hasilnya, secara keseluruhan, terlepas dari gender atau indeks massa tubuh (BMI) partisipan, semakin sering mereka berpartisipasi dalam komentar-komentar seperti ini, semakin rendah kepuasan mereka terhadap tubuh mereka sendiri dan semakin tinggi tingkat depresi yang mereka idap setelah tiga minggu. Dari dua penelitian terpisah ini, peneliti menyimpulkan bahwa gangguan pola makan, kekhawatiran akan citra tubuh untuk menjadi langsing, dan gangguan mental memang merupakan hasil dari terlibat dalam komentar “gendut”, bukan hanya dari mendengarkan saja.

Body Dysmorphia Disorder

Body dysmorphia (BDD) klasik adalah obsesi citra tubuh yang ditandai dengan kekhawatiran terus menerus hingga taraf mengganggu tentang ‘cacat’ fisik dan penampilan yang dibayangkan, atau perhatian yang sangat berlebihan tentang kekurangan tubuh yang sangat minimal, seperti hidung bengkok atau kulit yang tidak sempurna. BDD yang terkait dengan berat badan diklasifikasikan sebagai obsesi yang merusak terhadap berat dan bentuk badannya, misalnya, berpikir paha terlalu gemuk atau pinggang terlalu besar.

Pada kenyataannya, ‘cacat’ yang dirasakan mungkin hanya berupa ketidaksempurnaan minim, atau bahkan tidak ada sama sekali. Tapi untuk mereka, cacat tersebut dinilai sangat signifikan dan menonjol hingga menyebabkan tekanan emosional yang parah dan kesulitan dalam fungsi sehari-hari.

BDD paling sering timbul pada remaja dan dewasa, dan penelitian menunjukkan bahwa hal ini mempengaruhi laki-laki dan perempuan hampir sama besarnya.

Penyebab BDD tidak jelas, tetapi faktor biologis dan lingkungan tertentu dapat berkontribusi untuk pengembangannya, termasuk kecenderungan genetik, faktor neurobiologis seperti gangguan fungsi serotonin di otak, ciri-ciri kepribadian, dan pengalaman hidup.

Obsesi ini membuat sulit bagi orang-orang dengan BDD untuk fokus pada apa pun kecuali ketidaksempurnaan mereka. Hal ini dapat menyebabkan rendah diri, menghindari situasi sosial, dan masalah di tempat kerja atau sekolah. Orang dengan BDD berat dapat menghindari meninggalkan rumah mereka sama sekali dan bahkan mungkin memiliki pikiran bunuh diri atau melakukan upaya bunuh diri.

Penderita BDD dapat melakukan beberapa jenis perilaku kompulsif atau berulang untuk mencoba menyembunyikan atau menyamarkan kekurangan mereka meskipun perilaku ini biasanya hanya memberikan jalan keluar sementara, contohnya: kamuflase makeup, ukuran baju, gaya rambut), memilih prosedur operasi plastik, pengawasan diri di cermin secara obsesif, menghindari cermin, menggaruk kulit, dan sebagainya.

Anoreksia Nervosa

Banyak orang yang mengira bahwa anoreksia adalah kondisi yang dialami oleh satu individu secara sukarela.

Anoreksia adalah gangguan jiwa yang paling mematikan, membawa peningkatan risiko kematian hingga enam kali lipat – empat kali risiko kematian akibat depresi berat. Kemungkinannya bahkan lebih buruk bagi orang-orang pertama kali didiagnosis dengan anoreksia saat berusia 20-an. Mereka memiliki 18 kali risiko kematian dibandingkan orang sehat di kelompok usia yang sama menurut sebuah analisis literatur medis oleh Jon Arcelus, MD, PhD, dari University of Leicester, Inggris. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, gangguan makan dapat mengambil alih kehidupan seseorang dan menyebabkan komplikasi medis serius yang berpotensi fatal. Meskipun gangguan makan yang umumnya terkait dengan perempuan, hal ini mempengaruhi laki-laki hampir sama besarnya.

Pengidap anoreksia nervosa mungkin melihat diri mereka sebagai orang yang kelebihan berat badan, bahkan ketika sebenarnya mereka memiliki berat badan jauh di bawah standar yang sehat.

Anoreksia menyebabkan pengidapnya untuk menyangkal kebutuhan makanan untuk dirinya sendiri hingga ke titik kelaparan yang disengaja saat ia terobsesi tentang penurunan berat badan. Selain itu, pengidap anoreksia akan menyangkal rasa kelaparan tersebut dan tetap menolak untuk makan, tetapi di saat lain ia akan membalasnya makan berlebihan dan kembali membuang asupan kalori dengan memuntahkan makanan atau berolahraga mati-matian di luar batas toleransi tubuhnya.

Gejala emosional anoreksia termasuk cepat marah, menarik diri dari situasi sosial, kurangnya mood atau emosi, tidak mampu memahami keseriusan dari situasi yang ia idap, takut makan di di depan publik dan obsesi dengan makanan dan olahraga. Seringkali pengidap anoreksia akan mengembangkan ritual makanan sendiri atau membuang keseluruhan makanan dari pola makannya, karena takut menjadi “gemuk”.

Bulimia Nervosa

Pengidap bulimia menunjukkan kehilangan kontrol saat makan dalam porsi besar di waktu singkat, kemudian mengerahkan segala kemampuan diri untuk membuang asupan kalori dengan memaksakan muntah, olahraga mati-matian, atau penyalahgunaan obat pencahar.

Perilaku ini kemudian tumbuh menjadi siklus berulang yang mengontrol banyak aspek kehidupan pengidapnya dan membawa sejumlah dampak buruk, baik secara emosional maupun fisik. Pengidap bulimia biasanya memiliki berat tubuh normal, atau bisa sedikit kelebihan berat badan.

Gejala emosional bulimia termasuk rendah diri amat parah yang berkaitan dengan citra tubuh, perasaan tidak bisa mengontrol diri, merasa bersalah atau malu terhadap aktivitas makan, dan penarikan diri dari lingkungan sekitar.

Seperti anoreksia, bulimia juga akan berdampak pada kerusakan tubuh. Siklus makan dan muntah berlebihan bisa merusak organ-organ tubuh yang terlibat dalam sistem pencernaan, gigi yang rusak akibat abrasi dari muntah, dan maag. Muntah berlebihan juga bisa menyebabkan dehidrasi yang bisa berujung pada serangan jantung aritmia, gagal jantung, bahkan kematian.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Depresi bisa menyerang kapan saja. Tapi pada sebagian orang, depresi hanya muncul di pagi hari. Inilah yang dinamakan depresi pagi hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan)

Pernahkah Anda mendengar tentang anxiety disorder atau gangguan kecemasan? Berikut informasi mengenai penyebab, tes gangguan kecemasan dan cara mengobati.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 12 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

Olahraga Kardio vs Angkat Beban: Mana yang Lebih Cepat Turunkan Berat Badan?

Olahraga adalah cara mendapatkan berat badan ideal yang paling efektif. Namun dari semua jenis, mana yang lebih manjur: olahraga kardio atau angkat beban?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Olahraga Kardio, Kebugaran 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Kleptomania

Kleptomania atau klepto adalah kondisi gangguan perilaku yang dilakukan dengan mencuri atau mengutil. Apa saja Penyebab dan Gejalanya? Simak Selengkapnya di Hello Sehat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 8 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sedih

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
manfaat sering menangis

Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
serangan panik atau panic attack

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit