home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mungkinkah Kena Depresi Akibat Kulit Jerawatan?

Mungkinkah Kena Depresi Akibat Kulit Jerawatan?

Munculnya jerawat sering menganggu bagi banyak orang. Jerawat kerap juga membuat sebagian orang menjadi kurang percaya diri. Akibatnya, tidak jarang banyak orang yang menjadi sangat stres akibat munculnya jerawat di wajah. Namun, adakah hubungan antara jerawat dan depresi? Apakah jerawat merupakan pemicu depresi? Begini penjelasannya.

Benarkah jerawat bisa jadi pemicu depresi?

Hubungan antara jerawat dan depresi telah lama diteliti, terutama pada remaja. Akan tetapi, beberapa ahli menghubungkan munculnya gejala depresi dengan obat-obatan khusus untuk jerawat seperti isotretinoin.

Namun, sebuah penelitian di British Medical Journal melaporkan bahwa obat itu sendiri mungkin tidak memiliki keterkaitan dengan depresi. Sementara peneliti Swedia melaporkan bahwa jerawat bisa meningkatkan risiko depresi dan percobaan bunuh diri.

Hal ini dikarenakan jerawat adalah masalah penampilan wajah, yang sering membuat orang kurang percaya diri atau malu dengan jerawat di wajahnya.

Orang yang memiliki jerawat biasanya akan mencari berbagai cara untuk menghilangkannya. Bila ia tak kunjung menemukan cara yang tepat, ia pun akan terus memikirkan bagaimana jerawat-jerawat ini berpengaruh dalam kehidupannya sehari-hari. Akhirnya, inilah yang bisa menjadi pemicu depresi.

Terutama di masa remaja, penampilan mungkin menjadi hal yang penting. Adanya jerawat sering membuat orang mengolok-olok dan mengundang kecemasan tersendiri baginya tentang penilaian orang lain. Jika dibiarkan berlarut-larut, jerawat yang tadinya merupakan masalah kulit bisa berkembang jadi pemicu depresi, yang merupakan sebuah masalah kesehatan mental.

Begitu pun sebaliknya, depresi bisa memicu munculnya jerawat

Hubungan antara jerawat dan depresi sebenarnya seperti sebuah siklus. Jerawat bisa menjadi pemicu depresi, dan sebaliknya jerawat juga bisa bermunculan sebagai komplikasi dari depresi.

Bahkan depresi dapat memperparah kondisi jerawat Anda. Ini karena orang yang depresi mungkin lebih jarang merawat diri sendiri, apalagi melakukan perawatan yang menyeluruh untuk kulit wajah.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa jerawat dapat menyebabkan depresi berat, dan risiko ini paling tinggi pada tahun pertama setelah Anda memilki jerawat.

Penelitian yang diterbitkan dalam The British Journal of Dermatology menganalisis data dari hampir 1,9 juta pria dan wanita selama 15 tahun. Para peneliti membandingkan kesehatan mental lebih dari 134.000 orang dengan jerawat dan 1,7 juta orang yang tidak berjerawat.

Setelah memperhitungkan faktor risiko lain depresi seperti kondisi mental, kebiasaan merokok, dan minum alkohol, para peneliti menemukan bahwa kemungkinan munculnya depresi melonjak sebesar 63 persen pada tahun berikutnya setelah munculnya jerawat. Bahkan risiko ini tetap meningkat hingga lima tahun jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki jerawat.

Orang yang memiliki jerawat sangat rentan mengalami gejala depresi seperti sering menangis, mood gampang berubah, sulit tidur, tidak berenergi, menarik diri dari kehidupan sosial, dan sering mengalami masalah di sekolah atau kantor.

Jika Anda mengalami hal-hal tersebut, Anda perlu waspada bahwa mungkin Anda sedang mengalami gejala depresi yang disebabkan kondisi jerawat Anda.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa depresi adalah sebuah penyakit mental yang cukup rumit. Penyebabnya tidak bisa disederhanakan jadi jerawat saja. Masih banyak faktor lain yang juga berpengaruh terhadap depresi. Misalnya punya trauma psikologis, hormon yang tidak seimbang, gaya hidup kurang sehat, dan lainnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

The Surprising Depression Risk That’s Right on Your Face https://www.rd.com/health/depression-linked-to-acne/ diakses 7 September 2018.

Is acne causing your depression? Here’s what to do about it https://metro.co.uk/2018/04/25/acne-causing-depression-7434740/ diakses 7 September 2018.

How acne and depression feed each other http://edition.cnn.com/2010/HEALTH/11/29/acne.depression/index.html diakses 7 September 2018.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Andisa Shabrina Diperbarui 09/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x