Mungkinkah Kena Depresi Karena Kulit Jerawatan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Munculnya jerawat sering menganggu bagi banyak orang. Jerawat kerap juga membuat sebagian orang menjadi kurang percaya diri. Akibatnya, tidak jarang banyak orang yang menjadi sangat stres akibat munculnya jerawat di wajah. Namun, adakah hubungan antara jerawat dan depresi? Apakah jerawat merupakan pemicu depresi? Begini penjelasannya.

Benarkah jerawat bisa jadi pemicu depresi?

Hubungan antara jerawat dan depresi telah lama diteliti, terutama pada remaja. Akan tetapi, beberapa ahli menghubungkan munculnya gejala depresi dengan obat-obatan khusus untuk jerawat seperti isotretinoin.

Namun, sebuah penelitian di British Medical Journal melaporkan bahwa obat itu sendiri mungkin tidak memiliki keterkaitan dengan depresi. Sementara peneliti Swedia melaporkan bahwa jerawat bisa meningkatkan risiko depresi dan percobaan bunuh diri.

Hal ini dikarenakan jerawat adalah masalah penampilan wajah, yang sering membuat orang kurang percaya diri atau malu dengan jerawat di wajahnya.

Orang yang memiliki jerawat biasanya akan mencari berbagai cara untuk menghilangkannya. Bila ia tak kunjung menemukan cara yang tepat, ia pun akan terus memikirkan bagaimana jerawat-jerawat ini berpengaruh dalam kehidupannya sehari-hari. Akhirnya, inilah yang bisa menjadi pemicu depresi.

Terutama di masa remaja, penampilan mungkin menjadi hal yang penting. Adanya jerawat sering membuat orang mengolok-olok dan mengundang kecemasan tersendiri baginya tentang penilaian orang lain. Jika dibiarkan berlarut-larut, jerawat yang tadinya merupakan masalah kulit bisa berkembang jadi pemicu depresi, yang merupakan sebuah masalah kesehatan mental.

Begitu pun sebaliknya, depresi bisa memicu munculnya jerawat

Hubungan antara jerawat dan depresi sebenarnya seperti sebuah siklus. Jerawat bisa menjadi pemicu depresi, dan sebaliknya jerawat juga bisa bermunculan sebagai komplikasi dari depresi.

Bahkan depresi dapat memperparah kondisi jerawat Anda. Ini karena orang yang depresi mungkin lebih jarang merawat diri sendiri, apalagi melakukan perawatan yang menyeluruh untuk kulit wajah.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa jerawat dapat menyebabkan depresi berat, dan risiko ini paling tinggi pada tahun pertama setelah Anda memilki jerawat.

Penelitian yang diterbitkan dalam The British Journal of Dermatology menganalisis data dari hampir 1,9 juta pria dan wanita selama 15 tahun. Para peneliti membandingkan kesehatan mental lebih dari 134.000 orang dengan jerawat dan 1,7 juta orang yang tidak berjerawat.

Setelah memperhitungkan faktor risiko lain depresi seperti kondisi mental, kebiasaan merokok, dan minum alkohol, para peneliti menemukan bahwa kemungkinan munculnya depresi melonjak sebesar 63 persen pada tahun berikutnya setelah munculnya jerawat. Bahkan risiko ini tetap meningkat hingga lima tahun jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki jerawat.

Orang yang memiliki jerawat sangat rentan mengalami gejala depresi seperti sering menangis, mood gampang berubah, sulit tidur, tidak berenergi, menarik diri dari kehidupan sosial, dan sering mengalami masalah di sekolah atau kantor.

Jika Anda mengalami hal-hal tersebut, Anda perlu waspada bahwa mungkin Anda sedang mengalami gejala depresi yang disebabkan kondisi jerawat Anda.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa depresi adalah sebuah penyakit mental yang cukup rumit. Penyebabnya tidak bisa disederhanakan jadi jerawat saja. Masih banyak faktor lain yang juga berpengaruh terhadap depresi. Misalnya punya trauma psikologis, hormon yang tidak seimbang, gaya hidup kurang sehat, dan lainnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tortikolis

Tortikolosis membuat leher penderitanya mengalami kecondongan untuk miring ke satu sisi. Bisakah penyakit ini disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 27 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Fakta Seputar Gatal pada Kulit yang Perlu Anda Ketahui

Kulit terasa gatal tiba-tiba, padahal tidak digigit serangga atau alergi? Cari tahu segala informasi seputar gatal pada kulit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Hidradenitis Suppurativa

Hidradenitis suppurativa adalah sebuah penyakit kronis (kambuhan) menyerang kulit bagian folikel rambut dan kelenjar keringat. Apa obatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Skizofrenia

Skizofrenia adalah penyakit mental. Simak informasi tentang penyebab, gejala, faktor risiko, cara pengobatan, serta pencegahan penyakit ini di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

masker mengecilkan pori-pori

3 Masker Alami untuk Mengecilkan Pori-pori Wajah

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
depresi pagi hari

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
makanan probiotik

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
es batu untuk wajah

4 Cara Memanfaatkan Es Batu Untuk Wajah Lebih Cerah

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit