backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Dehumanisasi, Perilaku untuk Merendahkan Martabat Orang

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 6 hari lalu

Dehumanisasi, Perilaku untuk Merendahkan Martabat Orang

Terlepas dari ras, agama, kelas sosial, dan pengelompokan lainnya, kita semua sama-sama manusia. Artinya, sudah sewajarnya bagi kita untuk saling menghargai dan tidak berperilaku seenaknya. Jika melakukan sebaliknya, Anda mungkin sudah menjadi pelaku dehumanisasi.

Apa yang dimaksud dengan dehumanisasi?

Dehumanisasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses psikologis ketika seseorang atau sekelompok orang diperlakukan secara tidak layak.

Pelaku dehumanisasi tidak lagi memandang manusia sebagai manusia, tetapi suatu objek yang tidak memiliki perasaan dan kehidupan.

Tindakan ini bisa terjadi ketika seseorang dianggap tidak layak atau tidak penting hanya karena memiliki perbedaan tentang hal tertentu, seperti warna kulit, status sosial, asal usul dan masih banyak lagi.

Salah satu contoh dehumanisasi adalah human trafficking. Istilah ini tidak hanya merujuk pada perdagangan manusia, tetapi bisa juga dalam bentuk kerja paksa tanpa upah atau eksploitasi seksual.

Seseorang yang melakukan human trafficking tidak melihat korban sebagai manusia, tetapi objek untuk memenuhi keinginannya.

Penyebab dehumanisasi

kekerasan seksual

Dehumanisasi sering kali berangkat dari kebiasaan membenarkan sesuatu hal yang salah.

Pasalnya, seseorang yang berkedudukan tinggi atau memiliki kuasa bisa membuat aturan yang salah dan mengajak orang lain mengikutinya.

Sebagai contoh, petinggi di negara A menganggap bahwa warna kulit tertentu memiliki nilai yang lebih rendah. Alhasil, masyarakatnya bisa berpikiran hal yang sama.

Selain itu, berikut adalah beberapa faktor yang bisa menyebabkan tindakan dehumanization.

1. Manipulasi

Pernahkah Anda melihat seseorang yang “dimanfaatkan” karena kebaikan atau kemampuannya? Taktik manipulasi ini bisa terjadi di dalam hubungan asmara, pertemanan, atau di antara atasan dan bawahan.

Saat Anda berusaha memberi pengertian pada korban, si pelaku mungkin akan memperlakukan korban secara manusiawi.

Namun, ketika korban berhasil dimanipulasi, ia hanya akan dilihat sebagai objek untuk mencapai tujuan si pelaku.

Pada akhirnya, korban manipulasi akan dikendalikan tanpa memperhatikan kondisi batin dan haknya sebagai manusia.

2. Gangguan kepribadian

Narcissistic personality disorder (NPD) merupakan gangguan kepribadian yang dinilai bisa meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan dehumanisasi.

Artinya, dehumanisasi bisa terjadi ketika seseorang dengan NPD menganggap bahwa orang lain hanya hadir untuk mendukung keberadaannya.

Gangguan kepribadian ini membuat seseorang menilai bahwa orang lain tidak memiliki kehidupan dan kebutuhannya sendiri.

Selain NPD, gangguan kepribadian lain yang dikaitkan dengan dehumanization adalah gangguan kepribadian antisosial dan psikopati.

3. Pembentukan kelas sosial

Mengutip buku The Neuroscience of Empathy, Compassion, and Self-Compassion, pembentukan kelas sosial di dalam masyarakat adalah hal yang terjadi secara alami.

Hal ini sebenarnya tidak merugikan selama masing-masing kelas tetap saling menghargai dan mengingat bahwa mereka sama-sama manusia yang memiliki hak-hak dasar yang sama.

Namun, kelas sosial yang terbentuk dari keinginan untuk memisahkan diri dengan kelompok lain bisa menyebabkan tindakan dehumanisasi.

Dampaknya adalah kelas sosial yang lebih tinggi melihat kelas sosial lainnya sebagai sesuatu yang lebih rendah dan tidak perlu dihargai.

Dampak buruk dehumanisasi

Pada awalnya, korban dehumanisasi akan kehilangan rasa percaya diri karena merasa bergantung pada pelaku.

Perasaan tersebut sering kali disertai malu, amarah, dan kesedihan karena adanya perasaan tidak berdaya pada diri korban.

Lama-kelamaan, emosi negatif tersebut bisa menyebabkan dekonstruksi kognitif. Ini adalah kondisi ketika seseorang mengalami mati rasa emosional, tidak bisa berpikir jernih, stres, dan depresi.

Kondisi inilah yang sering kali membuat korban dehumanization mengalami gangguan mental dan bahkan keinginan bunuh diri.

Laman Beyond Intractability juga menyebutkan bahwa dehumanization bisa meningkatkan kasus pelanggaran HAM, kejahatan perang, hingga genosida.

Cara mencegah dehumanisasi

Dehumanisasi yang sudah terstruktur atau turun-temurun memang tidak mudah dihentikan. Namun, kondisi ini bisa diatasi dengan mengevaluasi diri sendiri terlebih dahulu.

Berikut adalah beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah sekaligus mengurangi dampak dehumanisasi.

  • Tumbuhkan rasa empati sehingga Anda mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
  • Tetap gunakan tutur kata yang baik saat berhadapan dengan seseorang dengan status sosial lebih rendah. Hindari penggunaan kata kasar saat mengkritik orang lain.
  • Yakinkan pada diri sendiri bahwa setiap orang berharga sehingga Anda tidak merendahkannya.
  • Gunakan media sosial secara bijak. Jangan menyebarkan informasi yang bisa mendorong dehumanisasi. Sebaliknya, sebarkan informasi yang bisa membantu korban dehumanisasi.
  • Bicarakan sebuah prasangka secara terbuka. Contohnya, saat Anda melihat orang berperilaku kasar dengan dalih bercanda, tegur orang tersebut dan jelaskan mengapa tindakannya kurang tepat.

Tanpa disadari, dehumanization sering kali terjadi pada orang-orang terdekat. Jika orang yang Anda kenal mengalaminya, jangan ragu untuk menawarkan bantuan.

Kesimpulan

  • Dehumanisasi artinya proses psikologis ketika seseorang atau sekelompok orang tidak lagi dianggap sebagai manusia, tetapi objek yang tidak punya perasaan dan kehidupan.
  • Manipulasi, gangguan kepribadian, dan pembentukan kelas sosial dalam masyarakat bisa mendorong terjadinya dehumanization.
  • Dehumanisasi bisa menyebabkan korbannya mengalami gangguan mental dan bahkan keinginan bunuh diri.
  • Cegah dehumanisasi dengan menumbuhkan empati, menggunakan media sosial secara bijak, dan terbuka akan segala prasangka.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 6 hari lalu

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan