6 Hal yang Tidak Seharusnya Dilakukan Oleh Pasangan Anda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24 Agustus 2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Kekerasan dalam pacaran bisa muncul kapan pun tidak peduli seberapa lama Anda berpacaran, entah masih seumur jagung atau sudah bertahun-tahun lamanya. Apalagi kalau pasangan Anda memang punya sifat temperamental, Anda bisa selalu jadi sasaran luapan emosinya. Sebenarnya, hal apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh pasangan?

Apa saja kekerasan dalam pacaran yang seharusnya tidak boleh dilakukan?

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Interpersonal Violence, melakukan penelitian pada 350 mahasiswa tentang konflik yang pernah terjadi dalam hubungan mereka. Khususnya tindakan kekerasan dalam pacaran – baik secara fisik maupun emosional.

Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 95 persen peserta mengalami kekerasan emosional, sementara 30 persen diantaranya mendapatkan kekerasan secara fisik. Terlihat mengerikan, ya? Pada dasarnya, sebuah hubungan tidak selamanya akan berjalan mulus, kok. Pertengkaran, cekcok, jenuh, dan kecewa merupakan bagian alami yang sudah sewajarnya ada. Asalkan masih dalam batas normal.

Sekarang, coba evaluasi kembali hubungan Anda dan pasangan, apakah beberapa hal di bawah ini pernah Anda alami?

1. Main fisik

mencegah kekerasan dalam pacaran

Sudah saling kenal dan menjalin hubungan dalam waktu lama bukan berarti pasangan bisa melakukan apapun pada Anda, termasuk berani main fisik saat sedang bertengkar hebat.

Jika pasangan bisa seenaknya menendang, memukul, menjambak rambut, menampar, mencekik, hingga mencoba menyakiti dengan senjata tandanya Anda sudah mengalami kekerasan dalam pacaran. Kalau sudah kelewatan begini, jangan ragu untuk mengakhiri perjalanan cinta Anda berdua atau langsung mencari pertolongan dari pihak berwajib.

2. Sering di caci-maki

bertengkar dengan pacar

Selain mengalami kekerasan fisik, pernahkah pasangan menghina Anda dengan kata-kata kasar, cacian, hardikan, serta umpatan yang tidak pantas? Jika ya, hati-hati ini merupakan pertanda darurat kalau Anda terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Mirisnya, kondisi seperti ini lambat laun berisiko untuk membuat korbannya mengalami depresi, tidak memiliki harga diri, hingga berujung pada keinginan untuk bunuh diri.

Catia Harrington, PsyD, seorang psikolog klinis di New York, menuturkan bahwa hubungan yang sehat seharusnya menuntun Anda untuk melakukan hal-hal positif; serta membuat Anda merasa percaya diri, dihargai, dan dicintai – bukan sebaliknya.

3. Melampiaskan emosi pada lingkungan sekitar

Pertolongan Pertama Pada Pukulan Keras Benda Tumpul

Menurut Kathryn Moore, PhD, seorang psikolog di Providence Saint John’s Child and Family Development Center di California, bahwa kekerasan dalam pacaran tidak harus selalu berupa fisik atau emosional yang menyerang Anda secara langsung.

Saat pasangan berperilaku kasar dengan melempar benda keras, meninju tembok, maupun menghancurkan benda di sekitar, jangan lagi anggap itu hanya pertengkaran biasa.

4. Sikap posesif berlebihan

takut kehilangan

Saling percaya satu sama lain adalah akar dari hubungan yang sehat. Tapi bila sebaliknya, pasangan justru terlihat sulit untuk percaya pada Anda, bahkan terkesan selalu mengawasi gerak-gerik Anda hingga mulai mengusik hal-hal pribadi.

Sebaiknya, mulai ambil langkah mundur dan pikirkan kembali apakah mungkin Anda bertahan dengan pasangan. Jangan lantas berpikir bahwa yang ia lakukan ini semata-mata karena rasa sayang dan cintanya, sehingga ia harus mengawasi Anda 24 jam tanpa pernah membiarkan Anda menikmati waktu “sendiri”.

Ada masanya ketika Anda berdua bisa menghabiskan waktu bersama, tapi ada juga masa dimana Anda bisa meluangkan waktu untuk diri sendiri.

5. Perlakukan berlebihan yang menjauhkan Anda dari teman dan keluarga

Kelanjutan dari sikap posesif, nantinya tanpa sadar akan membuat Anda jauh dari orang-orang terdekat. Seolah-olah semua waktu yang Anda miliki harus khusus dihabiskan bersama pasangan, mulai pagi sampai malam.

Lalu, kapan Anda bisa memberikan waktu untuk sekadar mendengarkan cerita sahabat, menemani orangtua di rumah, atau membantu persiapan pernikahan saudara yang sudah tinggal hitungan hari?

Sebab pada dasarnya, yang bisa mengendalikan diri, waktu, hingga kegiatan Anda, tentu hanya Anda seorang. Jangan biarkan pasangan, terlebih masih dalam taraf pacaran, bisa mengatur diri Anda sesuka hatinya. Ingat, pasangan yang baik seharusnya tidak akan melarang Anda untuk melakukan hal lain selama masih dalam lingkup yang positif.

6. Mudah terpancing emosi

pacar posesif

Nampaknya, tidak ada pasangan yang ingin hubungan asmaranya berantakan. Tapi pertengkaran kecil itu hal biasa dan justru bisa menjadi bumbu penyedap percintaan Anda berdua. Namun, jangan tinggal diam,saat pasangan semakin lama terlihat semakin sulit untuk menahan emosinya.

Terlebih jika Anda seolah-olah menjadi “tempat sampah” dari kemarahannya yang sudah memuncak. Ya, ia bisa saja membentak dan memarahi Anda tanpa alasan, bahkan disertai kata-kata kasar ketika amarahnya sudah tidak terbendung lagi.

Nah, kalau ini terjadi coba pikirkan kembali dengan matang apakah si dia masih pantas untuk mendampingi Anda dalam suka dan duka nantinya?

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Seseorang Bisa Terdorong untuk Menyakiti Orang Lain?

Kekerasan ternyata tidak hanya ada dalam film. Di dunia nyata pun, manusia secara alamiah memiliki dorongan untuk menyakiti orang lain. Apa sebabnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 24 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Dampaknya Bila Orangtua Sering Membentak Anak?

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 22 Juni 2020 . Waktu baca 7 menit

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata ada bahaya lain selama pandemi coronavirus berlangsung, yaitu peningkatan kasus KDRT.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 April 2020 . Waktu baca 6 menit

Bertengkar Terus Selama Pacaran, Apakah Bisa Sampai Bikin Depresi?

Konflik asmara berkepanjangan dapat memicu masalah mental seperti depresi. Lantas, apakah ini berarti pacaran bisa menyebabkan depresi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 9 September 2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Waspadai 6 Trik yang Biasa Dilakukan Pelaku Pelecehan Seksual

Waspadai 6 Trik yang Biasa Dilakukan Pelaku Pelecehan Seksual

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
kekerasan pada anak

Jenis Kekerasan pada Anak plus Ciri-Ciri yang Terlihat

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 November 2020 . Waktu baca 10 menit
KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bullying pada remaja

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit