Bagaimana Cara Depresi Merusak Otak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30 Juli 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Depresi adalah jenis gangguan mental kompleks yang membuat pengidapnya merasa sedih, putus harapan, dan tidak berharga. Anda dicurigai mengalami depresi jika gejala-gejala tersebut berlangsung terus lebih dari dua minggu. Seseorang yang dicurigai mengalami depresi harus mendapat penanganan medis. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kestabilan emosi, tapi juga mengganggu produktivitas kerja, hubungan sosial, bahkan sampai memunculkan keinginan bunuh diri. Bagaimana kerusakan otak seperti itu bisa terjadi akibat depresi?

Sekilas tentang kasus depresi di Indonesia

Penelitian teranyar terkait jumlah kasus depresi di Indonesia baru-baru ini dilakukan oleh Karl Peltzer (peneliti dari Universitas Limpopo, Afrika Selatan) dan Supa Pengpid (peneliti dari Universitas Mahidol, Thailand).

Hasil penelitian menyebutkan bahwa jumlah kasus depresi tertinggi ditemukan pada rentang usia remaja dan dewasa muda.

Menurut penelitian tersebut, dikutip dari intothelight.org, wanita berusa 15-19 tahun merupakan populasi dengan angka depresi paling tinggi (32%), disusul oleh laki-laki berusia 20-29 tahun (29 persen), dan laki-laki berusia 15-19 tahun (26 persen).

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa tren angka depresi di Indonesia cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Artinya, semakin tua semakin jarang ditemukan kasus depresi baru.

Bagaimana kerusakan otak bisa terjadi akibat depresi

Dikutip dari Healthline, depresi mayor melibatkan gangguan pada tiga bagian utama otak yang meliputi hippocampus, amygdala, dan korteks prefrontal. Depresi mayor itu sendiri diartikan sebagai jenis depresi berat atau depresi klinis. Depresi mayor merupakan salah satu dari dua jenis depresi yang paling sering terdiagnosis.

Berikut adalah penjelasan mengenai kerusakan pada tiga bagian otak tersebut akibat dari depresi berat:

1. Hipocampus

Hippocampus terletak di dekat pusat otak. Bagian otak ini berfungsi untuk menyimpan kenangan dan mengatur produksi kortisol. Kortisol adalah hormon yang akan dikeluarkan ketika Anda mengalami stres, baik secara fisik maupun mental.

Masalah baru akan timbul ketika kortisol yang dilepaskan jumlahnya berlebihan. Kadar kortisol berlebih dalam jangka waktu panjang dapat menjadi penanda gejala depresi. Kortisol yang diproduksi berlebih dapat menyusutkan sel saraf (neuron) di dalam hippocampus otak. Di saat bersamaan, kadar kortisol berlebih juga akan memperlambat produksi sel-sel neuron baru.

Kerusakan yang muncul akibat depresi pada bagian otak ini sering berwujud sebagai gangguan ingatan jangka panjang. Anda tidak lagi dapat menghasilkan memori jangka panjang yang baru. Anda mungkin masih bisa mengingat kembali apa yang terjadi kemarin tapi tidak dapat ingat kejadian 20 tahun lalu, misalnya, yang terjadi sebelum hippocampus rusak.

Hippocampus itu sendiri juga menjadi bagian dari sistem limbik. Sistem limbik adalah bagian otak yang terlibat dalam respons perilaku dan emosi. Terutama ketika menyangkut insting dan perilaku untuk bertahan hidup, seperti mencari makan, reproduksi dan merawat keturunan, dan respon flight or flight (melawan atau melarikan diri) saat dihadapkan oleh situasi negatif atau pemicu stres.

Maka ketika bagian otak ini mengalami kerusakan akibat, Anda mungkin tidak lagi memiliki hasrat untuk sekadar makan atau berinteraksi dengan orang lain.

2. Amygdala

Amygdala adalah bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan respons emosional dan pengenalan isyarat emosional pada orang lain. Amigdala bertugas untuk mengendalikan respons fisik dan psikis yang terkait dengan ketakutan dan gairah.

Pada penderita depresi mayor, amigdala membesar dan menjadi lebih aktif akibat paparan konstan terhadap kortisol yang jumlahnya berlebih.

Fungsi amigdala yang terlalu aktif pada penderita depresi telah dikaitkan dengan kemunculan gejala gangguan kecemasan dan fobia sosial.

Bersama dengan aktivitas abnormal di bagian otak lainnya, kerusakan amigdala yang terjadi akibat depresi akan menyebabkan gangguan tidur dan perubahan aktivitas. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah depresi jangka panjang dapat membuat penderitanya menyakiti diri hingga muncul keinginan bunuh diri.

Hal ini juga merangsang tubuh melepaskan hormon dan zat kimia dalam jumlah abnormal yang menyebabkan komplikasi lebih serius.

3. Korteks prefrontal

Korteks prefrontal terletak di bagian paling depan otak. Bagian otak ini bertanggung jawab untuk mengatur emosi, membuat keputusan, dan menyusun memori.

Ketika otak memproduksi jumlah kortisol secara berlebihan, korteks preforental menjadi menyusut. Kondisi ini berdampak pada penurunan empati pada penderita depresi. Efek ini juga tampak muncul pada perempuan penderita depresi pascapersalinan (postpartum depression).

Secara umum, begitulah akibat depresi pada kerusakan otak. Maka itu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapat penanganan yang tepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Borderline Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Ambang)

Borderline personality disorder (BPD) adalah penyakit mental serius yang bisa menyerang siapa saja. Cari tahu selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit

Kenali Ciri Bipolar Disorder yang Sering Diabaikan atau Disalahartikan

Perhatikan jika Anda melihat kondisi gejolak emosi ekstrem. Hal tersebut bisa jadi ciri bipolar disorder. Yuk, kenali ciri-ciri khasnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 8 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Ciri Depresi Pada Remaja dan Hal yang Perlu Orangtua Lakukan

Depresi bisa terjadi pada siapapun, termasuk remaja. Apa saja yang sering jadi penyebab depresi pada remaja, dan bagaimana cara mengenalinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 5 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Kenali Gejala Depresi Berdasarkan Usia dan Tingkat Keparahannya

Satu dari lima orang di dunia berisiko mengalami depresi. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mengenali gejala khas depresi sekarang juga.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 5 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

terapi cahaya cara mengatasi depresi menghilangkan depresi

Memanfaatkan Cahaya, Terapi yang Dapat Membantu Mengatasi Depresi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
gangguan bipolar adalah

Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
merasa kesepian

Apakah Ada Perbedaan Kesepian yang Wajar dengan Kesepian Akibat Depresi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit