Depresi adalah gangguan mental yang menimbulkan perasaan sedih, hilangnya semangat, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Tak hanya itu, otak rupanya juga bisa mengalami kerusakan akibat depresi.
Depresi adalah gangguan mental yang menimbulkan perasaan sedih, hilangnya semangat, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Tak hanya itu, otak rupanya juga bisa mengalami kerusakan akibat depresi.

Bagaimana bisa depresi merusak otak? Bagian otak mana saja yang akan terpengaruh kondisi ini? Simak ulasan berikut untuk mengetahui jawabannya.
Berbeda dengan rasa sedih yang biasanya hanya bersifat sementara, depresi adalah masalah kejiwaan serius yang bahkan bisa merusak berbagai fungsi otak.
Padahal, otak memiliki fungsi penting dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, penting untuk menangani depresi sedini mungkin agar berbagai komplikasi di bawah ini bisa dicegah.

Studi dalam jurnal Psychological Medicine (2013) menunjukkan bahwa pasien depresi memiliki penurunan fungsi kognitif, seperti kemampuan berpikir, berkonsentrasi, dan berkomunikasi.
Hal ini terjadi karena depresi dapat merusak fungsi otak bagian depan atau lobus frontal.
Lobus frontal merupakan bagian otak yang bertugas mengontrol kemampuan kognitif pada tiap orang. Selain itu, otak bagian depan ini berperan dalam menyimpan ingatan.
Neuroplastisitas adalah kemampuan otak manusia dalam membentuk koneksi saraf baru saat menghadapi pengalaman baru dalam hidup.
Sayangnya, kemampuan ini dapat terganggu akibat depresi berat. Penurunan neuroplastisitas terjadi karena depresi mempengaruhi produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF).
BDNF adalah salah satu jenis protein yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan neuron atau sel saraf baru di dalam otak.
Kondisi ini kemudian akan menghambat perkembangan fungsi kognitif pada pengidap depresi.
Depresi yang tidak diatasi juga bisa merusak bagian amigdala di otak. Bagian otak ini berfungsi memproses emosi dan merencanakan perilaku saat menghadapi berbagai situasi.
Akibat dari kerusakan otak tersebut, seseorang dengan depresi berat bisa mengalami kesulitan mengolah dan mengontrol emosi saat menghadapi situasi tertentu.
Oleh karena itu, tidak heran jika depresi berat kerap membuat seseorang tiba-tiba marah, sedih, atau bahkan menangis tanpa alasan yang jelas.
Itulah alasan mengapa gangguan fungsi amigdala erat kaitannya dengan gangguan kecemasan dan fobia sosial.

Penelitian dalam jurnal Neural Plasticity (2017) menemukan bahwa depresi berat dapat menyebabkan atrofi hipokampus, yaitu kondisi saat sel-sel otak pada bagian hipokampus mengecil.
Kemudian, penyusutan sel-sel otak ini akan berpengaruh pada kemampuan otak dalam menyimpan memori dan mengatur emosi.
Hal ini diduga terjadi karena depresi berat bisa menghambat neurogenesis, yakni suatu proses pembentukan sel saraf baru di dalam otak.
Selain itu, produksi hormon kortisol yang meningkat akibat depresi juga memengaruhi kinerja hipokampus dan makin menimbulkan kerusakan pada otak.
Depresi bisa menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Kondisi ini disebut juga sebagai hipoksia.
Karena otak sangat sensitif terhadap keberadaan oksigen, hipoksia mampu memengaruhi otak dan bahkan menyebabkan peradangan di dalamnya.
Otak yang kekurangan pasokan oksigen juga bisa mengalami kematian sel. Kondisi inilah yang kemudian bisa membuat seseorang mengalami penurunan kesadaran atau bahkan kematian.
Salah satu dampak depresi yang tidak ditangani adalah kerusakan konektivitas saraf di dalam otak, khususnya pada bagian hipokampus dan korteks prefrontal.
Akibat dari kondisi tersebut, pengidap depresi dapat mengalami gangguan fungsi memori dan kehilangan kemampuan untuk fokus.
Selain mengamati perubahan perilaku, kerusakan otak akibat depresi ini umumnya baru akan diketahui melalui tes pencitraan, seperti CT scan dan MRI.
Depresi merusak otak dengan mengganggu kemampuannya dalam regenerasi atau perbaikan jaringan dan sel yang rusak. Kondisi ini akan membuat otak lebih cepat menua.
Otak yang menua berarti fungsi otak Anda seperti orang-orang yang berumur lebih tua.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa meningkatkan risiko terjadinya pikun atau demensia meski usia Anda masih tergolong muda atau belum terlalu tua.
Dengan berbagai risiko kerusakan otak akibat depresi, penting untuk menyadari gejala depresi sedini mungkin.
Jangan pernah malu untuk berkonsultasi dengan psikolog jika Anda khawatir dengan kondisi kesehatan mental Anda. Perlu diingat bahwa kesehatan mental dan fisik sama pentingnya.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Depression. (2024). National Institute of Mental Health. Retrieved July 31, 2024, from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/depression
Depression and the brain. (2020). Queensland Brain Institute – University of Queensland. Retrieved July 31, 2024, from https://qbi.uq.edu.au/brain/brain-diseases/depression/depression-and-brain
How depression affects the brain. (2021). Yale Medicine. Retrieved July 31, 2024, from https://www.yalemedicine.org/news/neurobiology-depression
Han, K. M., & Ham, B. J. (2021). How Inflammation Affects the Brain in Depression: A Review of Functional and Structural MRI Studies. Journal of clinical neurology (Seoul, Korea), 17(4), 503–515. https://doi.org/10.3988/jcn.2021.17.4.503
Liu, W., Ge, T., Leng, Y., Pan, Z., Fan, J., Yang, W., & Cui, R. (2017). The Role of Neural Plasticity in Depression: From Hippocampus to Prefrontal Cortex. Neural plasticity, 2017, 6871089. https://doi.org/10.1155/2017/6871089
Rock, P. L., Roiser, J. P., Riedel, W. J., & Blackwell, A. D. (2014). Cognitive impairment in depression: a systematic review and meta-analysis. Psychological medicine, 44(10), 2029–2040. https://doi.org/10.1017/S0033291713002535
Versi Terbaru
14/08/2024
Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Diperbarui oleh: Edria
Ditinjau secara medis oleh
dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)