home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Pada dasarnya, depresi adalah gangguan emosi atau mood yang terjadi terus menerus. Munculnya depresi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti stres dan faktor biologis, yaitu keseimbangan cairan kimia otak yang menurunkan kemampuan otak untuk menjaga mood tetap stabil. Terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan depresi datang dengan sendirinya yaitu di pagi hari. Kondisi ini disebut depresi pagi hari atau morning depression.

Apa itu depresi pagi hari?

Depresi pagi hari merupakan suatu gejala yang dialami seseorang, khususnya penderita depresi klinis, di mana suasana hati menjadi sangat buruk di pagi hari.

Gejala depresi bermacam-macam. Termasuk perasaan sangat sedih, frustasi, kemarahan, hingga rasa tidak bertenaga atau kelelahan. Dengan kondisi terburuknya saat pagi hari, maka mood seseorang akan membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu ke siang dan malam hari.

Depresi jenis ini dianggap sebagai gejala awal dari gangguan depresi klinis. Oleh karena itu hal tersebut juga dikenal juga sebagai gejala variasi mood diurnal. Artinya gejala depresi atau mood saat pagi hari dipengaruhi oleh ritme sirkadian seseorang. Ritme sirkadian itu sendiri merupakan proses biologis yang mengatur jadwal kerja berbagai fungsi tubuh manusia. Mulai dari suhu tubuh, tekanan darah, dan produksi hormon selama satu hari penuh.

Mengapa kondisi ini bisa terjadi?

Gangguan ritme sirkadian diduga sebagai salah satu penyebab dari depresi jenis ini. Hal tersebut dibuktikan dalam suatu penelitian yang menunjukan orang yang mengalami depresi pagi hari cenderung mengalami perubahan ritme sirkadian karena perubahan jam tidurnya.

Pada dasarnya, jam biologis manusia normal adalah terjaga saat pagi hari dan terlelap pada waktu malam hari. Hal ini penting guna melancarkan metabolisme, mengatur energi, berkonsentrasi, menjaga keseimbangan mood, serta memelihara kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Ritme sirkadian normal bagi tubuh juga diperlukan untuk produksi hormon tertentu yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya hormon kortisol diproduksi lebih banyak di pagi hari sehingga tubuh lebih berenergi dan pikiran lebih waspada. Sedangkan hormon melatonin dihasilkan saat hari mulai gelap. Ini karena melatonin membantu tubuh untuk beristirahat dengan cara tidur.

Gangguan ritme sirkadian atau perubahan pola tidur menyebabkan tubuh memproduksi hormon pada waktu yang salah dan hal ini dapat menyebabkan efek buruk bagi tubuh dan pikiran seseorang. Produksi hormon melatonin pada waktu yang tidak tepat, misalnya, dapat mengganggu keseimbangan energi karena seseorang menjadi lebih mudah mengantuk dan mudah lelah.

penyebab depresi pada wanita

Cara mendeteksi gejala depresi pagi hari

Depresi jenis ini hanya memberikan dampak atau efek saat pagi hari. Gejala depresi yang dialami cenderung membaik seiring berjalannya waktu. Berikut beberapa gejala yang dapat dikenali, di antaranya:

  • Kelelahan semenjak pertama kali bangun tidur.
  • Kesulitan melakukan pekerjaan mudah seperti mandi dan membuat sarapan.
  • Hambatan untuk beraktivitas dan berpikir.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Sangat mudah marah dan merasa frustasi.
  • Perubahan mood yang drastis.
  • Kehilangan keinginan untuk melakukan aktivitas pagi hari yang biasanya disukai.
  • Perasana hampa atau putus asa.
  • Perubahan rutinitas pagi hari.
  • Perubahan pola makan pagi hari seperti makan lebih banyak atau lebih sedikit.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi depresi pagi hari?

Tidak seperti gejala depresi pada umumnya, penanganan dengan penggunaan obat kurang efektif untuk mengatasi gejala depresi semacam ini. Namun, beberapa terapi seperti konseling dan terapi cahaya cenderung lebih manjur dalam mengatasi gejala kondisi ini. Cara yaitu dengan fokus pada masalah atau pemicu depresi sekaligus penyebab gangguan ritme sirkadian.

Terapi listrik atau Electroconvulsive therapy (ECT) juga terbukti efektif untuk menyeimbangkan kembali komposisi kimia otak yang menyebabkan depresi.

Terlepas dari metode terapi dan pengobatan, berikut beberapa perubahan gaya hidup yang dapat dilakukani.

  • Menetapkan jam tidur dan bangun pagi pada waktu yang sama setiap harinya.
  • Menjaga pola makan pada waktu yang teratur.
  • Kurangi tidur siang terlalu lama.
  • Menerapkan olahraga rutin. Namun, hindari jarak waktu olahraga dan jam tidur yang terlalu dekat, misalnya kurang dari empat jam.
  • Ciptakan suasana kamar tidur yang membuat Anda lebih mudah terlelap seperti gelap, tenang, dan cukup sejuk.
  • Hindari konsumsi zat-zat yang dapat mengganggu kualitas tidur seperti rokok, alkohol, dan kafein.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Schimelfening, N. 2017. What is Diurnal Mood Variation? Online: https://www.verywell.com/diurnal-mood-variation-1067149 (Accessed August 6, 2017)

Health Central. 2017. Do You Have Morning Depression? Online: https://www.healthcentral.com/article/do-you-have-morning-depression (Accessed August 6, 2017)

Kerr, M. 2017. Morning Depression: What It Is and How to Treat It. Online: http://www.healthline.com/health/depression/morning-depression#overview1 (Accessed August 6, 2017)

Wirz-Justice, A. (2008, September). Diurnal variation of depressive symptoms. Dialogues in Clinical Neuroscience, 10(3), 337–343.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3181887/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Kemal Al Fajar
Tanggal diperbarui 13/01/2021
x