home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Xenophobia, Rasa Takut yang Dapat Berubah Menjadi Tindak Diskriminasi

Xenophobia, Rasa Takut yang Dapat Berubah Menjadi Tindak Diskriminasi

Anda mungkin sudah pernah mendengar nama xenophobia atau xenofobia. Kondisi ini sudah terjadi sejak masa lalu dan terus berkembang pada masyarakat hingga kini, yang bisa menyebabkan bentuk diskriminasi pada kelompok orang tertentu. Salah satunya yang pernah terjadi adalah xenofobia saat pandemi Covid-19. Lantas, tahukah Anda apa itu xenophobia? Apakah kondisi ini terkait dengan kesehatan mental seseorang?

Apa itu xenophobia?

Xenofobia, dalam bahasa Inggris disebut xenophobia atau xenophobic, adalah istilah yang merujuk pada rasa takut terhadap orang asing atau orang yang dianggap berbeda. Dalam arti lebih luas, orang asing yang dimaksud biasanya mengacu pada imigran atau orang yang berbeda budaya.

Namun, tak seperti fobia pada umumnya, kondisi ini biasanya ditunjukkan dengan ketidaksukaan atau kebencian yang intens terhadap orang yang dianggap berbeda. Ia yakin bahwa kelompoknya lebih unggul, dan berusaha untuk menjauhkan orang tersebut dari lingkungannya.

Bahkan, United Nations Human Rights menyebut, orang yang xenofobia cenderung melakukan tindakan diskriminasi, permusuhan, hasutan, atau kekerasan atas respons kebenciannya itu. Tindakannya ini disengaja dengan tujuan untuk mempermalukan, merendahkan, atau melukai orang yang terkait.

Oleh karena itu, xenofobia seringkali disamakan dengan rasisme dan homofobia. Namun, sebenernya, xenofobia berbeda dengan dua kondisi tersebut. Bila rasisme dan homofobia merupakan bentuk diskrimasi yang didasarkan atas karakter yang spesifik, xenofobia justru berangkat dari pemikiran bahwa orang di luar kelompoknya adalah orang asing.

Xenofobia termasuk fobia atau bukan?

agoraphobia adalah apa itu

Meski memiliki nama phobia di dalamnya, keberadaan xenophobia sebagai fobia sesungguhnya masih diperdebatkan.

Sebagian ahli menilai, kondisi ini tidak memiliki karakter rasa takut seperti gejala fobia pada umumnya. Kondisi ini justru menunjukkan perilaku dan tindakan yang merugikan orang lain yang dinilai berbeda.

Namun, di sisi lain, beberapa ahli menyebut, seseorang dengan xenofobia bisa berawal dari ketakutan layaknya fobia. Ketakutan ini menjadi mekanisme perlindungan terhadap orang asing, sehingga ia cenderung untuk melindungi kelompoknya dari ancanam orang tersebut.

Meski demikian, perilaku yang ditunjukkan penderita xenofobia ini memang tidak dibenarkan.

Apakah xenophobia termasuk gangguan mental?

Tak hanya posisinya di dalam fobia, xenofobia pun masih diperdebatkan sebagai salah satu bentuk gangguan mental.

Sejauh ini, xenofobia dan bentuk diskrminasi lainnya, seperti rasisme, belum dimasukkan sebagai gangguan kejiwaan di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Beberapa ahli menilai, memasukkan kedua istilah tersebut sebagai bentuk gangguan mental berarti telah “menyembuhkan” masalah sosial.

Meski demikian, sebagian ahli psikologi berpendapat, bentuk prasangka yang ekstrem, termasuk xenofobia dan rasisme, dapat dianggap sebagai bagian dari gangguan delusi. Ini lebih mengarah sebagai salah satu gejala dari bentuk gangguan mental tertentu, seperti gangguan kepribadian (paranoid atau narsistik) atau gangguan psikosis (skizofrenia atau gangguan bipolar).

Namun, prasangka xenophobia sebagai bagian dari gangguan kejiwaan belum dikukuhkan dalam DSM-5. Kondisi ini pun kerap disebut sebagai gejala dari gangguan kejiwaan jika memang telah mengganggu kemampuan seseorang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Tipe-tipe xenophobia

Ada dua bentuk xenofobia yang umum, yaitu:

  • Xenofobia budaya atau cultural xenophobia, yaitu ketika seseorang takut dan menolak bentuk budaya asing, termasuk tradisi atau simbol tertentu. Sebagai contoh bahasa, pakaian, atau musik.
  • Xenofobia imigran atau immigrant xenophobia, yaitu ketika seseorang takut pada orang atau kelompok yang dianggap sebagai orang luar, misalnya seseorang dengan agama dan kebangsaan yang berbeda.

Ciri-ciri atau karakteristik xenophobia

Seseorang dengan kondisi ini umumnya menunjukkan ciri-ciri tertentu yang khas. Berikut adalah ciri-ciri, tanda-tanda, atau karakteristik yang khas pada pengidap xenophobia:

  • Merasa cemas berlebihan atau tidak nyaman berada di sekitar orang-orang yang berbeda kelompok.
  • Menghindari orang atau kelompok tertentu yang dianggap berbeda.
  • Menolak berteman dengan orang asing, seperti yang berbeda budaya, warna kulit, agama, atau ras.
  • Sulit atau tidak bisa berhubungan dengan rekan satu tim yang berbeda ras, budaya, atau agama.

Pada kondisi yang ekstrem, seseorang yang xenofobia bisa melakukan diskriminasi pada orang yang dianggapnya berbeda. Ini termasuk tindak kekerasan yang sering digambarkan oleh polisi sebagai serangan rasis atau xenofobia.

Apa penyebab dari xenophobia?

Penyebab dari xenophobia masih diperdebatkan. Dilansir dari Good Therapy, beberapa psikolog berpendapat, kondisi ini mungkin merupakan bagian dari warisan perilaku atau genetik manusia. Ini bisa muncul karena keinginan untuk melindungi nenek moyang dari kelompok luar yang dianggap akan menyakiti atau merusaknya.

Sementara beberapa ahli psikolog lainnya menilai, kondisi ini bisa dipicu oleh keadaan masyarakat saat itu. United Nations Human Rights mencatat, kondisi ini sering meningkat selama periode kesulitan ekonomi, kampanye pemilu, ketidakstabilan politik, dan konflik tertentu.

Selain itu, penyebab lainnya yang juga mungkin menyebabkan kondisi ini, adalah kondisi mental di dalam atau luar kelompok tertentu.

Bagaimana cara mengatasi dan mencegah xenofobia?

Jika Anda merasakan gejala atau memiliki ciri-ciri dari xenofobia seperti yang disebutkan di atas, tidak ada salahnya untuk menemui ahli kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater. Seseorang yang ahli di bidangnya dapat membantu Anda mengidentifikasi dan mengatasi perasaan takut, cemas, atau masalah pola pikir yang Anda alami.

Jika Anda mengalami xenophobia pada budaya tertentu, Anda pun perlu belajar untuk mengenal lebih dalam mengenai budaya tersebut. Misalnya, mencoba makanan khas dari budaya atau negara lain, atau jika perlu pergi ke belahan negara lain untuk menghadapi secara langsung ketakutan atau ketidaknyamanan pada diri Anda.

Tak hanya pada diri Anda, Anda pun perlu membantu memerangi xenofobia yang mungkin bertumbuh pada kelompok Anda. Misalnya, dengan memberi dukungan pada korban yang dilecehkan atau mengalami kekerasan, termasuk kekerasan verbal dan fisik.

Jangan lupa pula untuk selalu mengajarkan anak Anda mengenai perbedaan sejak dini. Misalnya, dengan membacakan buku mengenai budaya-budaya luar. Pastikan pula bahwa anak-anak paham bahwa semua orang di dunia ini berhak merasa aman dan dihargai.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Xenophobia – GoodTherapy.org Therapy Blog. GoodTherapy.org Therapy Blog. (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://www.goodtherapy.org/blog/psychpedia/xenophobia.

Nhri.ohchr.org. (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://nhri.ohchr.org/EN/Themes/Racial/Documents/Xenophobia.pdf.

5 Ways to Fight Racism and Xenophobia. UNICEF USA. (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://www.unicefusa.org/stories/5-ways-fight-racism-and-xenophobia/34567.

Poussaint A. F. (2002). Yes: it can be a delusional symptom of psychotic disorders. The Western journal of medicine176(1), 4. https://doi.org/10.1136/ewjm.176.1.4

Unhcr.org. (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://www.unhcr.org/5f7c860f4.pdf.

xenophobic. Dictionary.cambridge.org. (2021). Retrieved 1 February 2021, from https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/xenophobic.

Suleman, S., Garber, K.D. & Rutkow, L. (2018). Xenophobia as a determinant of health: an integrative review. Journal of Public Health Policy. 39: 407–423. https://doi.org/10.1057/s41271-018-0140-1

Bell, C. (2004). Racism: A Mental Illness? Psychiatric Services. 55(12): 1343-1343. https://doi.org/10.1176/appi.ps.55.12.1343

Sundstrom, R. R., & Kim, D. H. (2014). Xenophobia and Racism. Penn State University Press. 2(2): 20-45. https://doi.org/10.5325/critphilrace.2.1.0020

Choane, M., Shulika, L. S., & Mthombeni, M. (2011). An Analysis of the Causes, Effects and Ramifications of Xenophobia in South Africa. Insight on Africa. 3(2): 129-142. https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/0975087814411138

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui 23/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x