Suka Merasa Canggung Ketika Bertatapan Mata Saat Mengobrol? Mungkin Ini Sebabnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 Juli 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ketika bercakap-cakap dengan seseorang, Anda pasti akan menatap matanya, bukan? Tatapan mata memang menjadi salah satu alat komunikasi yang efektif. Dengan saling bertatapan, Anda bisa menyampaikan maksud pembicaraan sekaligus membaca ekspresi lawan bicara Anda. Akan tetapi, ada juga tipe orang yang selalu menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya karena merasa canggung. Apa alasannya, sih?

Kontak mata saat berbicara penting bagi manusia

Selain untuk membaca ekspresi wajah serta emosi lawan bicara, bertatapan juga punya fungsi lainnya. Bertatap mata memastikan bahwa lawan bicara Anda benar-benar fokus mendengar apa yang Anda bicarakan. Kalau Anda tidak bisa melihat langsung kedua matanya, sulit untuk menentukan apakah orang tersebut mendengarkan Anda dengan saksama.

Berbeda dengan makhluk hidup lainnya, mata manusia sangat berperan penting dalam pertukaran informasi sekaligus emosi. Semut, misalnya, tidak mengandalkan kontak mata untuk berkomunikasi. Mereka justru bergantung pada suara dan sentuhan. Sebagai contoh lain, kera simpanse akan mengamati gerakan mulut satu sama lain saat berkomunikasi, bukan melihat ke arah bola mata.

Nah, meskipun manusia telah berevolusi untuk memanfaatkan kontak mata untuk membangun relasi dan bekerja sama, tatapan mata juga bisa digunakan sebagai alat intimidasi. Inilah mengapa kadang Anda menghindari tatapan mata seseorang yang Anda segani.

Mengapa ada orang yang tidak suka bertatapan?

Apakah Anda tipe orang yang suka menghindari kontak mata dengan lawan bicara? Kalau ya, Anda mungkin lebih sering menunduk atau berpaling ketika bercakap-cakap dengan seseorang. Ternyata menurut para ahli, ada alasan ilmiah mengapa tatapan mata seseorang bisa terasa begitu menusuk bagi sebagian orang.

Dalam jurnal Scientific Reports pada tahun 2015, para ahli mencatat bahwa pada sebagian orang, kontak mata bisa membuat area otak tertentu jadi overaktif. Area otak ini dikenal dengan istilah sistem subkortikal. Sistem otak ini bertugas untuk mengenali serta menerjemahkan eskpresi wajah orang lain, termasuk lewat tatapan mata.  

Bagi orang yang sensitif, bagian otak ini tiba-tiba menerima rangsangan saraf yang berlebihan ketika dihadapkan dengan tatapan mata seseorang. Fenomena ini rupanya banyak terjadi pada pengidap spektrum autisme.

Jadi, menghindari kontak mata dengan seseorang tak selalu berarti Anda enggan bicara dengan orang lain atau tidak memerhatikan kata-katanya. Bisa saja sebenarnya Anda merasa tidak nyaman bertatapan mata lama-lama dengan lawan bicara karena otak Anda yang memang bereaksi berlebihan.

Apa yang harus dilakukan supaya lebih nyaman saat harus bertatapan?

Menurut seorang pakar psikologi sosial sekaligus peneliti dari University of Tampere di Finlandia, Jari K. Hietanen, kebanyakan berpikir soal interaksi Anda dengan orang lain justru akan membuat Anda lebih gugup dan tidak nyaman saat bertatapan mata dengan lawan bicara. Kalau Anda memang merasa tak nyaman harus bertatapan dengan orang lain, tidak perlu dipaksakan.  

Anda bisa memilih posisi bicara yang lebih nyaman. Misalnya duduk bersebelahan dengan lawan bicara. Dengan begitu, Anda tidak perlu menatap langsung ke arah lawan bicara Anda.

Namun, kadang kontak mata benar-benar tidak bisa dihindari. Contohnya kalau Anda sedang diwawancara untuk sebuah pekerjaan. Karena itu, penting juga untuk melatih kemampuan berkomunikasi lewat tatapan mata. Anda bisa melatihnya dengan orang-orang terdekat, misalnya dengan membiasakan diri menatap mata lawan bicara selama beberapa detik. Lama-lama, otak Anda akan menyesuaikan diri saat harus bertatapan dengan orang lain.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pedoman Praktis Makanan untuk Anak Usia 1-3 Tahun

Banyak ibu yang bingung memberikan anaknya makan ketika sudah memasuki usia 1 tahun. Jangan cemas, berikut pedoman praktis makanan anak 1-3 tahun.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 8 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Asam Lambung Naik Bisa Sebabkan Kanker Kerongkongan?

Asam lambung naik atau refluks yang terjadi secara kambuhan, kemungkinan bisa sebabkan kanker kerongkongan. Cari tahu alasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Kanker Lainnya 8 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Meluruskan 6 Mitos Seputar Varises yang Banyak Dipercaya Masyarakat

Banyak orang menganggap varises terjadi jika Anda duduk atau berdiri terlalu lama. Padahal tidak demikian. Apa saja mitos varises lainnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Penyakit Jantung Lainnya 8 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

8 Tips Menjaga Bakteri Baik dalam Usus

Tahukah Anda bahwa di dalam tubuh terdapat 100 triliun bakteri usus? Bakteri ini baik untuk mencerna makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Pencernaan 8 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kondom dipakai dua kali

Kondom Dipakai Dua Kali, Apa Saja Risiko yang Mungkin Terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 8 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit
lidah gatal

7 Kondisi Penyebab Lidah Anda Terasa Gatal, dari Masalah Ringan Hingga Serius

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Maret 2021 . Waktu baca 8 menit
setelah cabut gigi

7 Makanan dan Minuman yang Tidak Boleh Dikonsumsi Setelah Cabut Gigi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 8 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
posisi tidur

Posisi Tidur Mana yang Lebih Baik: Miring ke Kiri Atau Kanan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 8 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit