Terus-terusan Dipaksa Menghadapi Rasa Takut, Apakah Bisa Menghilangkan Fobia?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 11 Agustus 2018 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

    Semua orang pasti pernah merasa takut, tapi tidak semua orang memiliki fobia. Fobia adalah perasaan takut berlebihan, ekstrem, tidak terkendali, dan tidak masuk akal terhadap suatu objek maupun situasi yang sebenarnya tidak mengancam atau membahayakan nyawa. Sebuah ketakutan dapat dikatakan menjadi fobia apabila telah berlangsung selama lebih dari 6 bulan dan sampai menyebabkan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari. Fobia termasuk ke dalam gangguan psikologis yang dapat ditangani dengan terapi CBT. Salah satu metode CBT untuk mengatasi fobia adalah dengan terapi desensitasi. Seperti apa jalannya terapi tersebut, dan apakah benar-benar efektif?

    Pahami dulu kenapa seseorang bisa memiliki fobia

    Tidak seperti rasa takut pada umumnya seperti takut tertabrak mobil atau takut tidak lulus kuliah, fobia biasanya dipicu oleh satu hal spesifik — bisa objek atau situasi. Contoh fobia yang paling umum adalah claustrophobia (takut tempat sempit tertutup) dan acrophobia (takut ketinggian).

    Fobia juga tak seperti rasa takut biasa yang hanya berlangsung sebentar dan akan mereda segera setelah pemicunya menghilang. Rasa takut yang dimunculkan oleh fobia bisa berlangsung lama hingga dapat berdampak merusak, baik secara fisik maupun mental. Bahkan, hanya dengan memikirkan objek atau situasi yang ditakuti bisa membuat Anda memucat, mual, berkeringat dingin, panik, gemetaran, linglung (disorientasi), dan cemas berlebihan.

    Maka, seseorang yang memiliki fobia akan berusaha sekeras mungkin untuk melakukan segala macam cara menghindari pemicu rasa takutnya. Sebagai contoh, seseorang yang fobia kuman (mysophobia) akan menghindari kontak fisik seperti berjabat tangan dengan orang lain atau memegang tombol lift. Mereka juga akan melakukan berbagai cara untuk membersihkan tubuh dan lingkungan sekitar mereka dari kontaminasi bakteri, dan menjaganya agar tetap selalu bersih.

    Sampai saat ini, para ahli belum menemukan penyebab pasti dari fobia. Genetik, riwayat kesehatan, dan faktor lingkungan sama-sama dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami fobia. Anak yang memiliki kerabat dekat dengan anxiety disorder memiliki kemungkinan untuk mengalami phobia.

    Suatu kejadian traumatis juga dapat menyebabkan phobia, seperti misalnya nyaris tenggelam bisa menyebabkan phobia terhadap air. Pernah terkurung dalam ruangan sempit atau berada di ketinggian ekstrem dalam waktu lama; diserang dan digigit hewan juga dapat menimbulkan fobia. Selain itu, fobia juga dapat terjadi setelah seseorang mengalami trauma pada otak.

    Teknik desensitisasi untuk mengatasi fobia

    Teknik desensitisasi dikenal juga dengan nama teknik paparan. Seperti namanya, Anda akan secara sengaja dipaparkan alias dipertemukan dengan pemicu fobia Anda. Prinsipnya, jika Anda kembali dipertemukan dengan pemicu rasa takut yang sama terus-terusan, tubuh akan merespon “teror” tersebut dengan melepaskan hormon-hormon stres yang menimbulkan gejala-gejala fobia.

    Para ahli berpendapat bahwa pemaparan terhadap suatu pemicu secara bertahap dan berkelanjutan lama-lama dapat mengurangi sensitivitas seseorang terhadap pemicu tersebut. Mungkin sederhananya bisa diibaratkan ketika Anda harus/hanya diperbolehkan makan satu jenis menu saja setiap hari. Lama-lama Anda akan pasrah saja meski merasa muak atau bosan setengah mati, karena tidak ada pilihan lain.

    Seperti apa prosedurnya?

    Terapi desensitasi merupakan bagian dari terapi CBT yang dilakukan di bawah pengawasan seorang psikiater. Terapi CBT bertujuan untuk mengubah proses pola pikir serta perilaku Anda jadi lebih baik.

    Setelah menjalani sesi konseling awal untuk mengetahui informasi dasar mengenai latar belakang diri Anda, kebiasaan dan rutinitas, hingga hal-hal seputar fobia Anda (mulai sejak kapan, apa yang memicunya, apa saja gejala yang timbul, bagaimana Anda menghadapinya, dst), psikiater Anda kemudian akan mengajarkan Anda teknik-teknik relaksasi yang untuk membuat Anda tetap tenang ketika menghadapi pemicu fobia, misalnya teknik pernapasan dalam, self-hypnosis, dan meditasi untuk mengosongkan pikiran.

    Selanjutnya, Anda akan diminta untuk memberi skor angka dari terendah ke paling tinggi untuk mengetahui seberapa takutnya Anda terhadap si pemicu fobia tersebut. Pemberian skor ini juga disituasikan dengan jenis pemicu yang berbeda, agar hasilnya lebih akurat. Misalnya, berpikir mengenai laba-laba (jika Anda fobia laba-laba, alias arachnophobia) membuat Anda merasa takut dengan skor 10 sementara melihat foto laba-laba membuat ketakutan Anda jadi bernilai 25, dan jika melihat langsung dari jarak jauh skornya menjadi 50. Apabila ada laba-laba merangkak di lengan, tingkat rasa takut Anda akan mencapai 100.

    Setelah membuat skor tersebut, psikiater akan mulai sengaja memaparkan Anda terhadap si pemicu fobia tersebut secara perlahan. Dimulai dari yang paling rendah, yaitu meminta Anda untuk membayangkan laba-laba. Sementara Anda membayangkan hal itu, ia akan memandu Anda untuk memulai teknik relaksasi yang diajarkan. Setelah Anda terbiasa untuk membayangkn laba-laba tanpa bereaksi berlebihan, kemudian Anda akan “naik level”. Selanjutnya psikiater akan meminta Anda melihat foto laba-laba, dan begitu seterusnya sampai Anda berhadapan langsung dengan laba-laba hidup.

    Setiap kali akan “naik level”, psikiater akan lebih dulu menilai perkembangan Anda sebelum melanjutkan terapi ke jenjang berikutnya sampai akhirnya Anda sudah merasa tidak takut lagi dan terbebas dari fobia.

    Apakah cara ini aman dan efektif?

    Namun tentu mengatasi fobia dengan cara ini tidak bisa sembarangan. Sebelum psikiater menerapkan terapi desensitasi, biasanya Anda akan diminta untuk menceritakan masalah atau kesulitan yang sedang dihadapi untuk mencari tahu kemungkinan penyebabnya. Setelah itu, Anda dan terapis akan menentukan perubahan apa yang ingin diwujudkan dan tujuan apa yang ingin dicapai.

    Pada akhirnya, terapi perilaku dan kognitif dapat membantu Anda menyadari bahwa situasi, benda atau hewan yang Anda takuti selama ini ternyata tidak seburuk yang dibayangkan dan tidak membahayakan nyawa.

    Teknik ini perlu dilakukan beberapa kali, hingga akhirnya Anda menjadi terbiasa dan tidak menjadi takut lagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penggunaan teknik ini ternyata cukup ampuh untuk membantu mengatasi fobia.

    Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

    Was this article helpful for you ?
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

    Jika Anda sering panik mendadak tanpa sebab, mungkin Anda mengalami panic attack. Apa itu panic attack dan apa bedanya dengan anxiety?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

    Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

    Smoothing sudah menjadi cara lama untuk meluruskan rambut. Sekarang ada tren Brazilian blowout dengan metode baru. Benarkah lebih aman dilakukan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

    Mimisan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, tapi Anda tak perlu panik. Berikut adalah berbagai obat mimisan alami yang ampuh hentikan perdarahan.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan THT, Gangguan Hidung 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

    5 Penyebab Bercak Putih di Puting Susu dan Cara Mengatasinya

    Pernahkah Anda memiliki bintik atau bercak putih di puting susu atau sekitarnya? Tak usah khawatir, kenali penyebab dan cara mengatasinya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara merangsang istri

    Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    telat datang bulan

    Berapa Lama Telat Datang Bulan Dapat Menjadi Pertanda Kehamilan?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    mengatasi kesepian

    5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    sakit kepala setelah keramas

    Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit