home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenali Phobia Ketinggian (Acrophobia), Termasuk Gejala dan Cara Mengatasinya

Kenali Phobia Ketinggian (Acrophobia), Termasuk Gejala dan Cara Mengatasinya

Memiliki rasa takut akan terjatuh saat berada di ketinggian adalah hal yang wajar, apalagi jika tidak ada pengaman. Namun, bagaimana dengan rasa takut yang muncul secara berlebihan saat berada di ketinggian, meski Anda berada di tempat yang aman? Mungkin Anda mengidap penyakit mental yang disebut dengan acrophobia. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu acrophobia?

Phobia atau rasa takut pada ketinggian yang dikenal juga sebagai acrophobia adalah salah satu jenis fobia yang paling umum. Meskipun banyak orang yang merasa takut saat berada di tempat yang tinggi, tapi orang yang memiliki phobia ketinggian akan merasa gelisah, cemas, hingga panik ketika berada di ketinggian.

Tubuh manusia memang memiliki pertahanan alami terhadap bahaya, seperti melompat dari tebing atau mengemudi di atas jembatan sempit dan tinggi. Hal ini akan berubah menjadi masalah, jika insting rasa takut yang muncul secara alami berubah menjadi paranoia atau ketakutan abnormal.

Rasa takut berlebih ini dapat menjadi sesuatu yang menguntungkan dan juga merugikan. Rasa takut ini menguntungkan karena rasa takut akan menghalangi kita dari melakukan hal-hal yang membahayakan.

Namun, orang yang memiliki gangguan kecemasan berupa phobia ketinggian akan mengalami rasa panik atau kecemasan yang ekstrem. Phobia ketinggian dapat disembuhkan dengan terapi, tapi sebelum itu mari kita ketahui beberapa gejala fobia atau rasa takut berlebih akan ketinggian.

Gejala yang muncul saat mengalami phobia ketinggian

Saat mengalami akrofobia atau penyakit takut ketinggian, ada beberapa gejala yang mungkin Anda rasakan, beberapa di antaranya adalah:

  • Lebih berkeringat dibanding biasanya.
  • Nyeri dada atau dada terasa sesak.
  • Jantung berdebar, meski hanya memikirkan tempat yang tinggi.
  • Mual dan pusing saat berada di ketinggian.
  • Tubuh menjadi bergetar saat berada di ketinggian.
  • Sakit kepala dan rasanya seperti kehilangan keseimbangan saat berada di ketinggian.
  • Berusaha sebisa mungkin menghindari ketinggian, meski Anda harus bersusah payah menjalani aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, ada pula gejala psikis yang mungkin muncul, seperti berikut:

  • Mendadak mengalami serangan panik saat melihat, memikirkan, atau berada di ketinggian.
  • Memiliki rasa takut yang amat sangat saat berada di ketinggian.
  • Merasa cemas dan takut meski hanya menaiki anak tangga atau melihat ke luar jendela dari ruang yang terdapat di ketinggian.
  • Merasa khawatir berlebihan meski hanya memikirkan akan menghadapi ketinggian di kemudian hari.

Penyebab munculnya phobia pada ketinggian

Sama halnya dengan jenis fobia lainnya, phobia ketinggian juga bisa disebabkan karena terjadinya trauma dari pengalaman pahit di masa lalu. Biasanya, pengalaman tersebut berkaitan dengan ketinggian, seperti:

  • Memiliki pengalaman jatuh dari tempat yang tinggi.
  • Melihat orang lain jatuh dari ketinggian.
  • Mengalami serangan panik saat berada di tempat tinggi.

Meski begitu, fobia terhadap ketinggian juga bisa terjadi tanpa penyebab yang mendasarinya. Bisa jadi, kondisi ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan di sekitarnya. Artinya, jika ada anggota keluarga yang memiliki rasa takut terhadap ketinggian, potensi Anda mengalaminya juga lebih besar.

Cara-cara mengatasi phobia ketinggian

Meski begitu, bukan berarti kondisi ini tidak bisa diatasi atau disembuhkan. Menurut Australian Psychological Society, mempelajari atau mencari tahu bagaimana fobia ini muncul akan memudahkan Anda mengatasinya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika Anda benar-benar ingin terbebas dari phobia ketinggian, seperti berikut ini.

1. Pemulihan mandiri

Mengatasi kondisi ini secara mandiri artinya benar-benar mencoba sendiri berbagai cara untuk mengurangi rasa takut atau menghilangkan phobia terhadap ketinggian. Meskipun cara ini jarang berhasil, tapi setidaknya Anda memiliki rasa tanggung jawab terhadap pemulihan dari kondisi kesehatan Anda sendiri.

2. Terapi konseling

Jika mengatasi kondisi ini secara mandiri masih belum membuahkan hasil, cobalah untuk berbicara dengan dokter ahli kesehatan mental. Anda mungkin membutuhkan bantuan profesional dari seorang psikiater atau ahli terapi.

Ada beberapa jenis terapi konseling, dan tentu saja efektivitas terapi sangat bergantung pada ahli terapi yang mendampingi Anda. Namun, umumnya proses terapi ini lambat dan kurang berhasil, karena pelatihan ini tidak memiliki metode untuk menangani kekhawatiran yang serius.

3. Terapi pemaparan

Jika Anda menduga diri sendiri memiliki phobia atau rasa takut pada objek tertentu, mulailah berbicara dengan dokter yang dapat merekomendasikan ahli terapi yang tepat.

Anda mungkin akan disarankan untuk melakukan terapi pemaparan, yaitu salah satu jenis terapi yang dianggap paling efektif. Meski begitu, biasanya ahli terapi juga merekomendasikan perawatan tambahan.

Terapi pemaparan adalah bentuk terapi perilaku kognitif yang melibatkan diri Anda ke dalam skenario yang melibatkan phobia. Selain itu, saat menjalani terapi ini, Anda akan diminta mempelajari hal baru untuk mengatasi phobia. Proses ini biasanya memiliki 5 langkah, yaitu:

  • Evaluasi. Anda mendeskripsikan ketakutan Anda kepada terapis dan mengingat kembali kejadian di masa lalu yang diperkirakan berhubungan dengan phobia ketinggian.
  • Tanggapan. Terapis akan menawarkan evaluasi phobia Anda dan mengusulkan rencana pengobatan.
  • Pengembangkan tingkat ketakutan yang dirasakan. Anda dan terapis membuat daftar skenario yang melibatkan rasa takut Anda, masing-masing lebih intens dari yang terakhir.
  • Eksposur. Anda mulai membuka diri untuk masing-masing skenario pada daftar, dimulai dari situasi yang paling tidak menakutkan. Anda mulai menyadari bahwa kepanikan berkurang dalam beberapa menit saat menghadapi rasa takut Anda.
  • Tahap lanjutan. Ketika merasa nyaman pada setiap tahapan, maka Anda akan berpindah pada situasi yang lebih sulit.

4. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif merupakan pendekatan yang mendorong orang untuk menghadapi dan mengubah pikiran serta sikap yang mengarah pada rasa takut. Desensitisasi sistematis, yang merupakan terapi perilaku kognitif (CBT), adalah teknik terapi perilaku yang lebih sering digunakan untuk mengobati phobia ketinggian atau phobia lainnya.

Hal ini didasarkan untuk membuat pasien yang mengalami jenis gangguan kecemasan ini merasa rileks, kemudian membayangkan hal yang memicu phobia (dari yang kurang mengerikan hingga yang paling mengerikan).

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Acrophobia, or why are some people are afraid of heights. Retrieved 15 January 2021, from https://psychlopaedia.org/health/republished/health-check-why-are-some-people-afraid-of-heights/

Specific Phobias. Retrieved 15 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/specific-phobias/symptoms-causes/syc-20355156

Kapfhammer, H. P., Fitz, W., Huppert, D., Grill, E., & Brandt, T. (2016). Visual height intolerance and acrophobia: distressing partners for life. Journal of neurology263(10), 1946–1953. https://doi.org/10.1007/s00415-016-8218-9
Mataix-Cols, D., Fernández de la Cruz, L., Monzani, B., Rosenfield, D., Andersson, E., Pérez-Vigil, A., Frumento, P., de Kleine, R. A., Difede, J., Dunlop, B. W., Farrell, L. J., Geller, D., Gerardi, M., Guastella, A. J., Hofmann, S. G., Hendriks, G. J., Kushner, M. G., Lee, F. S., Lenze, E. J., Levinson, C. A., … Thuras, P. (2017). D-Cycloserine Augmentation of Exposure-Based Cognitive Behavior Therapy for Anxiety, Obsessive-Compulsive, and Posttraumatic Stress Disorders: A Systematic Review and Meta-analysis of Individual Participant Data. JAMA psychiatry74(5), 501–510. https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2016.3955
Foto Penulis
Ditulis oleh Annisa Hapsari pada 28/01/2021
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
x