Kenali Phobia Ketinggian (Acrophobia), Termasuk Gejala dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Memiliki rasa takut akan terjatuh saat berada di ketinggian adalah hal yang wajar, apalagi jika tidak ada pengaman. Namun, bagaimana dengan rasa takut yang muncul secara berlebihan saat berada di ketinggian, meski Anda berada di tempat yang aman? Mungkin Anda mengidap penyakit mental yang disebut dengan acrophobia. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu acrophobia?

Phobia atau rasa takut pada ketinggian yang dikenal juga sebagai acrophobia adalah salah satu jenis fobia yang paling umum. Meskipun banyak orang yang merasa takut saat berada di tempat yang tinggi, tapi orang yang memiliki phobia ketinggian akan merasa gelisah, cemas, hingga panik ketika berada di ketinggian. 

Tubuh manusia memang memiliki pertahanan alami terhadap bahaya, seperti melompat dari tebing atau mengemudi di atas jembatan sempit dan tinggi. Hal ini akan berubah menjadi masalah, jika insting rasa takut yang muncul secara alami berubah menjadi paranoia atau ketakutan abnormal.

Rasa takut berlebih ini dapat menjadi sesuatu yang menguntungkan dan juga merugikan. Rasa takut ini menguntungkan karena rasa takut akan menghalangi kita dari melakukan hal-hal yang membahayakan.

Namun, orang yang memiliki gangguan kecemasan berupa phobia ketinggian akan mengalami rasa panik atau kecemasan yang ekstrem. Phobia ketinggian dapat disembuhkan dengan terapi, tapi sebelum itu mari kita ketahui beberapa gejala fobia atau rasa takut berlebih akan ketinggian.

Gejala yang muncul saat mengalami phobia ketinggian

Saat mengalami akrofobia atau penyakit takut ketinggian, ada beberapa gejala yang mungkin Anda rasakan, beberapa di antaranya adalah:

  • Lebih berkeringat dibanding biasanya.
  • Nyeri dada atau dada terasa sesak.
  • Jantung berdebar, meski hanya memikirkan tempat yang tinggi.
  • Mual dan pusing saat berada di ketinggian.
  • Tubuh menjadi bergetar saat berada di ketinggian.
  • Sakit kepala dan rasanya seperti kehilangan keseimbangan saat berada di ketinggian.
  • Berusaha sebisa mungkin menghindari ketinggian, meski Anda harus bersusah payah menjalani aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, ada pula gejala psikis yang mungkin muncul, seperti berikut:

  • Mendadak mengalami serangan panik saat melihat, memikirkan, atau berada di ketinggian.
  • Memiliki rasa takut yang amat sangat saat berada di ketinggian.
  • Merasa cemas dan takut meski hanya menaiki anak tangga atau melihat ke luar jendela dari ruang yang terdapat di ketinggian.
  • Merasa khawatir berlebihan meski hanya memikirkan akan menghadapi ketinggian di kemudian hari.

Penyebab munculnya phobia pada ketinggian

Sama halnya dengan jenis fobia lainnya, phobia ketinggian juga bisa disebabkan karena terjadinya trauma dari pengalaman pahit di masa lalu. Biasanya, pengalaman tersebut berkaitan dengan ketinggian, seperti:

  • Memiliki pengalaman jatuh dari tempat yang tinggi.
  • Melihat orang lain jatuh dari ketinggian.
  • Mengalami serangan panik saat berada di tempat tinggi.

Meski begitu, fobia terhadap ketinggian juga bisa terjadi tanpa penyebab yang mendasarinya. Bisa jadi, kondisi ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan di sekitarnya. Artinya, jika ada anggota keluarga yang memiliki rasa takut terhadap ketinggian, potensi Anda mengalaminya juga lebih besar.

Cara-cara mengatasi phobia ketinggian

Meski begitu, bukan berarti kondisi ini tidak bisa diatasi atau disembuhkan. Menurut Australian Psychological Society, mempelajari atau mencari tahu bagaimana fobia ini muncul akan memudahkan Anda mengatasinya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika Anda benar-benar ingin terbebas dari phobia ketinggian, seperti berikut ini.

1. Pemulihan mandiri

Mengatasi kondisi ini secara mandiri artinya benar-benar mencoba sendiri berbagai cara untuk mengurangi rasa takut atau menghilangkan phobia terhadap ketinggian. Meskipun cara ini jarang berhasil, tapi setidaknya Anda memiliki rasa tanggung jawab terhadap pemulihan dari kondisi kesehatan Anda sendiri.

2. Terapi konseling

Jika mengatasi kondisi ini secara mandiri masih belum membuahkan hasil, cobalah untuk berbicara dengan dokter ahli kesehatan mental. Anda mungkin membutuhkan bantuan profesional dari seorang psikiater atau ahli terapi.

Ada beberapa jenis terapi konseling,  dan tentu saja efektivitas terapi sangat bergantung pada ahli terapi yang mendampingi Anda. Namun, umumnya proses terapi ini lambat dan kurang berhasil, karena pelatihan ini tidak memiliki metode untuk menangani kekhawatiran yang serius.

3. Terapi pemaparan

Jika Anda menduga diri sendiri memiliki phobia atau rasa takut pada objek tertentu, mulailah berbicara dengan dokter yang dapat merekomendasikan ahli terapi yang tepat.

Anda mungkin akan disarankan untuk melakukan terapi pemaparan, yaitu salah satu jenis terapi yang dianggap paling efektif. Meski begitu, biasanya ahli terapi juga merekomendasikan perawatan tambahan.

Terapi pemaparan adalah bentuk terapi perilaku kognitif yang melibatkan diri Anda ke dalam skenario yang melibatkan phobia. Selain itu, saat menjalani terapi ini, Anda akan diminta mempelajari hal baru untuk mengatasi phobia. Proses ini biasanya memiliki 5 langkah, yaitu:

  • Evaluasi. Anda mendeskripsikan ketakutan Anda kepada terapis dan mengingat kembali kejadian di masa lalu yang diperkirakan berhubungan dengan phobia ketinggian.
  • Tanggapan. Terapis akan menawarkan evaluasi phobia Anda dan mengusulkan rencana pengobatan.
  • Pengembangkan tingkat ketakutan yang dirasakan. Anda dan terapis membuat daftar skenario yang melibatkan rasa takut Anda, masing-masing lebih intens dari yang terakhir.
  • Eksposur. Anda mulai membuka diri untuk masing-masing skenario pada daftar, dimulai dari situasi yang paling tidak menakutkan. Anda mulai menyadari bahwa kepanikan berkurang dalam beberapa menit saat menghadapi rasa takut Anda.
  • Tahap lanjutan. Ketika merasa nyaman pada setiap tahapan, maka Anda akan berpindah pada situasi yang lebih sulit.

4. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif merupakan pendekatan yang mendorong orang untuk menghadapi dan mengubah pikiran serta sikap yang mengarah pada rasa takut. Desensitisasi sistematis, yang merupakan terapi perilaku kognitif (CBT), adalah teknik terapi perilaku yang lebih sering digunakan untuk mengobati phobia ketinggian atau phobia lainnya.

Hal ini didasarkan untuk membuat pasien yang mengalami jenis gangguan kecemasan ini merasa rileks, kemudian membayangkan hal yang memicu phobia (dari yang kurang mengerikan hingga yang paling mengerikan).  

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Timbul Keinginan Bunuh Diri

Beragam masalah dapat membuat Anda merasa terhimpit, sehingga timbul pikiran buruk. Apa yang perlu dilakukan jika timbul rasa ingin bunuh diri?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Kesehatan Mental, Cegah Bunuh Diri 1 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

Kenali 5 Ciri Utama “Toxic People”, Racun Dalam Persahabatan Anda

Toxic people merupakan salah satu jenis orang negatif yang harus Anda jauhi. Bagaimanakah ciri-cirinya? Simak jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hubungan Harmonis 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit

4 Jenis Gangguan Kesehatan Akibat Terlalu Sering Bermain Smartphone

Tak hanya membuat kita lupa waktu, bermain smartphone terlalu lama juga bisa memicu berbagai jenis gangguan kesehatan. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kecanduan 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Patah Hati Dapat Sebabkan Kematian?

Ketika patah hati atau ditinggalkan pasangan, rasanya dunia tidak lagi berwarna bahkan tidak bermakna. Namun, benarkah patah hati bisa sebabkan kematian?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengenal Misophonia

Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
sensory processing disorder

Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
avoidant personality tidak mau bergaul

Takut Berinteraksi dengan Orang Lain? Mungkin Itu Tanda Avoidant Personality Disorder

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
keuntungan jadi jomblo

7 Keuntungan Jadi Jomblo dari Sisi Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit