home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Berbagai Macam Pilihan Obat untuk Mengatasi Mata Bengkak

Berbagai Macam Pilihan Obat untuk Mengatasi Mata Bengkak

Mata yang bengkak terkadang dapat mengganggu keseharian Anda. Untungnya, ada beberapa pilihan obat yang dapat Anda gunakan untuk meredakan pembengkakan pada mata. Jenis-jenis obat yang ada tentu memiliki fungsi dan cara kerja yang berbeda, sehingga harus sesuai dengan penyebab bengkaknya mata Anda. Apa saja perbedaannya? Simak pilihan obat dan cara mengobati mata bengkak di bawah ini.

Pilihan obat mata bengkak

Mata bengkak adalah gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi atau gangguan kesehatan. Biasanya, pembengkakan terjadi karena adanya kelebihan cairan di jaringan sekitar mata. Pembengkakan juga terkadang disertai dengan gejala-gejala lain, seperti mata merah, kering, atau justru berair.

Salah satu cara mengobati mata bengkak adalah dengan obat-obatan. Akan tetap, karena penyebabnya beda-beda, obat yang digunakan juga berbeda menyesuaikan apa yang menyebabkan.

Maka itu, sebelum membeli obat untuk mata bengkak di apotek, ada baiknya Anda menjalani pemeriksaan mata terlebih dahulu dan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui obat yang sesuai.

Berikut adalah pilihan obat yang umumnya digunakan untuk mengatasi mata bengkak:

1. Obat tetes antihistamin

Apabila mata bengkak disebabkan oleh alergi, cara untuk menghilangkan kondisi tersebut adalah dengan memakai obat tetes mata antihistamin. Ya, antihistamin adalah jenis obat yang biasa digunakan untuk mengatasi gejala-gejala alergi.

Untuk mengetahui apakah mata bengkak dipicu oleh alergi, biasanya terdapat gejala-gejala lain yang menyertai, seperti mata gatal dan berair.

Antihistamin bekerja dengan cara menghambat kerja histamin, suatu zat kimia dalam tubuh yang memicu timbulnya gejala alergi ketika tubuh terpapar alergen.

Beberapa jenis obat tetes mata antihistamin yang umumnya diresepkan adalah azelastine HCl, emedastine difumarate, serta levocabastine.

2. Obat antibiotik

Apabila mata bengkak disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti konjungtivitis, Anda mungkin perlu menggunakan obat antibiotik.

Pembengkakan pada mata yang disebabkan oleh infeksi akibat pemakaian lensa kontak juga bisa diobati dengan antibiotik.

Obat antibiotik bekerja dengan membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi pada mata. Biasanya, obat diberikan dalam bentuk obat tetes.

3. Obat antijamur

Infeksi jamur juga bisa menyebabkan mata Anda menjadi bengkak. Dalam kondisi ini, dokter mata akan meresepkan obat antijamur untuk mengobati bengkak.

Obat biasanya tersedia dalam bentuk tetes mata, pil, atau obat suntik. Pemberian obat akan tergantung pada jenis jamur serta tingkat keparahan infeksinya pada mata Anda.

Umumnya, obat antijamur harus digunakan selama beberapa minggu hingga hitungan bulan. Salah satu jenis obat yang diresepkan untuk mengatasi infeksi jamur pada lapisan luar mata adalah natamycin, yang efektif membunuh jamur Aspergillus dan Fusarium.

4. Obat tetes kortikosteroid

Dalam beberapa kasus mata bengkak yang berkaitan dengan peradangan dan alergi, dokter mungkin akan meresepkan obat tetes mata kortikosteroid sebagai cara mengobati kondisi Anda.

Namun, menurut American Academy of Ophthalmology, pemakaian obat steroid untuk mata hanya diperbolehkan apabila gangguan mata disebabkan oleh infeksi bakteri yang menimbulkan luka pada kornea mata.

Hindari penggunaan obat kortikosteroid tanpa anjuran dan resep dari dokter. Pasalnya, penggunaan yang tidak tepat justru berisiko mengakibatkan kerusakan mata yang lebih parah.

5. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID)

Obat NSAID juga bisa digunakan sebagai pilihan untuk mengatasi mata bengkak yang juga disertai rasa gatal. Namun, pemberian obat NSAID juga harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak sembarang pasien bisa memakai obat ini.

Sama halnya dengan kortikosteroid, obat NSAID juga berpeluang cukup besar untuk mengakibatkan efek samping setelah pemakaiannya. Risiko efek samping obat NSAID lebih tinggi jika digunakan pada pasien dengan bentuk kornea mata yang bermasalah.

Adakah tips untuk mencegah mata bengkak?

Sering kali kita mendengar kata “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Nah, pembengkakan pada mata juga bisa Anda cegah dengan menjalani gaya hidup yang lebih bersih dan sehat.

Selain mengonsumsi obat, berikut adalah beberapa tips untuk mencegah bengkak pada mata:

1. Rajin mencuci tangan

Secara tidak sadar, Anda mungkin sering memegang wajah dan mata Anda. Padahal, mungkin saja ada berbagai macam bakteri dan kuman yang hinggap di tangan dan berpotensi pindah ke mata Anda. Hal tersebut akhirnya berisiko memicu masalah mata, termasuk pembengkakan.

Maka itu, pastikan Anda selalu mencuci tangan hingga bersih. Akan lebih baik lagi jika Anda tidak terlalu sering menyentuh wajah atau mengucek mata.

2. Hindari pemicu alergi

Jika mata bengkak yang sering Anda alami disebabkan oleh alergi, cara paling ampuh selain minum obat alergi tentunya adalah menghindari alergennya. Apabila Anda alergi debu, pastikan rumah Anda dibersihkan secara berkala, terutama di bagian-bagian yang mudah dihinggapi debu seperti sofa, karpet, dan kasur. Dengan begitu, risiko mata bengkak karena alergi dapat diturunkan.

3. Memakai pelindung mata

Paparan sinar UV dari matahari dapat memengaruhi kesehatan mata Anda. Oleh karena itu, gunakan kacamata hitam anti radiasi yang dapat melindungi mata Anda dari efek sinar UV.

4. Merawat lensa kontak dengan benar

Lensa kontak adalah alat bantu melihat yang menempel langsung ke mata Anda. Maka dari itu, perawatannya harus dilakukan dengan baik dan benar untuk menghindari risiko masalah mata, termasuk mata bengkak.

Itu dia berbagai obat yang bisa Anda gunakan untuk mengobati mata bengkak, serta beberapa cara pencegahannya.

Ingat, gunakan obat-obatan di atas sesuai dengan anjuran serta arahan dari dokter, ya. Dengan begitu, kinerja obat yang digunakan menjadi maksimal dan masalah mata Anda pun lebih cepat sembuh.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Eye Allergy Diagnosis and Treatment – American Academy of Ophthalmology. Retrieved September 24, 2020, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/allergies-diagnosis 

Weiner, G. (2013). Savvy Steroid Use – American Academy of Ophthalmology. Retrieved September 24, 2020, from https://www.aao.org/eyenet/article/savvy-steroid-use 

Burling-Philips, L. (2013). Topical NSAIDs: Best Practices for Safe Use – American Academy of Ophthalmology. Retrieved September 24, 2020, from https://www.aao.org/eyenet/article/topical-nsaids-best-practices-safe-use 

Boyd, K. (2020). Conjunctivitis: What Is Pink Eye? – American Academy of Ophthalmology. Retrieved September 24, 2020, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/pink-eye-conjunctivitis 

Porter, D. (2019). Antibiotic Eye Drops – American Academy of Ophthalmology. Retrieved September 24, 2020, from https://www.aao.org/eye-health/treatments/antibiotic-eye-drops 

Top 10 Tips to Save Your Vision – American Academy of Ophthalmology. (2015). Retrieved September 24, 2020, from https://www.aao.org/eye-health/tips-prevention/top-10-tips-to-save-your-vision-2 

Fungal Diseases – CDC. (2020). Retrieved September 24, 2020, from https://www.cdc.gov/fungal/diseases/fungal-eye-infections/treatment.html 

Eye Allergy Treatment and Management – American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. (n.d.). Retrieved September 24, 2020, from https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/allergies/eye-allergy 

Eye Allergy – American College of Allergy, Asthma, and Immunology. (n.d.). Retrieved September 24, 2020, from https://acaai.org/allergies/types/eye-allergy 

Eye Allergies – Kellogg Eye Center Michigan Medicine. (n.d.). Retrieved September 24, 2020, from https://www.umkelloggeye.org/conditions-treatments/eye-allergies 

Puffy Eyes: What Causes Them and What To Do About It – Cleveland Clinic. (2019). Retrieved September 24, 2020, from https://health.clevelandclinic.org/puffy-eyes-what-causes-them-and-what-to-do-about-it/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 20/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.