Abrasi Kornea

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Pengertian abrasi kornea

Abrasi kornea adalah tergoresnya permukaan kornea karena benda asing. Kornea adalah lapisan cair transparan di luar bola mata yang berfungsi sebagai “perisai”. Bersama dengan vitreous dan retina, kornea membantu memfokuskan cahaya yang terpantul dari objek yang dilihat menuju retina di dalam bola mata. 

Benda asing yang masuk ke mata, misalnya debu, butiran pasir, serangga kecil, dapat menempel di kornea. Jika tidak mendapatkan perawatan dengan tepat, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan kornea permanen.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Penyakit mata ini adalah salah satu bentuk paling umum dari cedera mata. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba pada semua usia dan saat menjalankan aktivitas normal, seperti menyetir, olahraga, atau memperbaiki barang.  

Tanda dan gejala abrasi kornea

Kebanyakan, jika terdapat benda asing di dalam kornea, mata akan memerah, perih, dan sensitif terhadap cahaya. Penglihatan mungkin menjadi buram untuk sementara.

Beberapa ciri lain yang menandakan Anda mengalami abrasi kornea adalah:

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasa cemas tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Ketika benda asing tersangkut di dalam mata, temui dokter untuk mendapatkan perawatan terbaik.

  • Anak-anak: hubungi dokter anak jika anak mengalami gangguan penglihatan, sakit mata, mata memerah atau berair
  • Dewasa: temui dokter jika Anda tidak dapat mengambil benda asing dari dalam mata atau merasa mata menyembul meskipun telah membuang benda asing di dalam mata, atau penglihatan yang buram, mata berdarah

Dokter akan memandu dan menyediakan perawatan untuk mencegah abrasi kornea mendadak.

Penyebab abrasi kornea

Terdapat banyak penyebab abrasi kornea mendadak. Benda asing yang terbang atau menempel di dalam mata adalah penyebab utama abrasi kornea.

Benda asing seperti debu, partikel pasir yang lama menempel di kelopak mata dapat menggores kornea saat mengedipkan mata.

Asap rokok, mengenakan lensa kontak terlalu lama, menggosok mata atau kontak langsung dengan sinar matahari juga bisa menyebabkan abrasi kornea.

Faktor risiko

Dikutip dari Harvard Health Publishing, meskipun abrasi kornea dapat menimpa semua orang di segala usia, terdapat beberapa faktor yang dapat membuat Anda lebih berisiko dibandingkan yang lain.

Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami abrasi kornea, antara lain:

  • Bayi yang menggaruk mata secara tidak sengaja dengan kuku yang panjang
  • Anak-anak sekolah yang bermain dengan pensil, pena, atau benda runcing lainnya
  • Atlet yang berolahraga tanpa menggunakan kacamata untuk berlindung dari debu, pasir, atau goresan tak sengaja dari jari pemain lain
  • Lebih banyak kornea mata tergores terjadi pada bisbol dan sepak bola daripada olahraga lainnya
  • Orang yang memiliki hobi atau kerajinan yang menggunakan alat-alat runcing, seperti menjahit dan mengukir kayu. Pertukangan dan perkebunan juga dapat meningkatkan risiko kornea mata tergores
  • Pekerja yang terpapar bahaya mata pada pekerjaannya, terutama mereka yang terlibat dalam pertanian atau konstruksi
  • Orang yang menggunakan lensa kontak dengan cara yang tidak tepat, seperti tidak membersihkan tangan atau lensa yang digunakan sebelumnya.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini?

Dokter Anda akan memeriksa mata dengan cahaya untuk memeriksa apakah ada luka kornea yang nyata, bintik-bintik kecil debu atau kotoran, atau benda asing lainnya. Untuk memastikan diagnosis korea mata tergores yang sangat kecil, dokter mungkin perlu memasukkan sedikit pewarna kuning (fluorescein) ke mata Anda. 

Biasanya, jika hanya mengalami abrasi kornea ringan, Anda tidak memerlukan tes lain. Namun, jika cedera lebih serius, dokter mungkin memeriksa mata Anda dengan sebuah alat dan akan menguji penglihatan Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk abrasi kornea?

Menurut American Academy of Ophthalmology, abrasi kornea ringan umumnya bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan apa pun. Dikutip dari Mayo Clinic, langkah cepat untuk mengatasi kornea mata tergores adalah:

  • Bilas mata Anda dengan air bersih. Anda dapat menggunakan gelas minum kecil dan bersih yang diposisikan di atas tulang di dasar rongga mata Anda. Membilas mata bisa membasuh benda asing yang mengganggu.
  • Berkedip beberapa kali. Ini dapat menghilangkan partikel kecil pada mata Anda. 
  • Tarik kelopak mata atas ke kelopak mata bawah. Hal ini membantu mata menjadi berair untuk membersihkan partikel asing. Cara ini juga dapat menyebabkan bulu mata pada kelopak mata bawah Anda untuk menyapu benda dari bawah kelopak mata atas Anda. 

Lakukan hal-hal di bawah ini untuk mencegah abrasi kornea memburuk:

  • Jangan mencoba mengambil benda di dalam mata atau membuatnya sulit untuk menutup mata
  • Jangan mengucek mata setelah cedera
  • Jangan menyentuh bola mata Anda dengan cotton bud, pinset, atau alat lainnya
  • Jika Anda menggunakan lensa kontak, jangan memakainya saat mata Anda sembuh. 

Namun, jika rasanya sudah sangat mengganggu, apalagi sampai mengakibatkan mata buram, segera konsultasikan ke dokter mata terdekat. Anda akan diberikan obat anastesi mata supaya merasa lebih nyaman.

Setelah itu, dokter akan memeriksa mata Anda, terutama lapisan kornea, untuk melihat seberapa banyak goresan yang ada di kornea. Tergantung dari seberapa parah abrasi kornea yang Anda alami, berikut ini beberapa pilihan pengobatan yang biasanya disarankan oleh dokter, yaitu:

1. Obat tetes mata

Sebagai langkah awal, dokter akan meresepkan obat tetes mata khusus untuk mengatasi abrasi kornea Anda. Obat tetes mata ini berfungsi untuk menjaga kelembapan dan mengurangi risiko infeksi mata.

Selain itu, dokter mata Anda mungkin juga akan meresepkan obat tetes mata steroid. Berbeda dengan obat tetes mata biasa, kandungan steroidnya dapat membantu mencegah pertumbuhan jaringan parut dari goresan di mata Anda.

2. Obat pereda nyeri

Bila mata Anda terasa nyeri dan semakin gatal, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Biasanya, obat ini baru akan diberikan untuk pasien yang mengalami penurunan kepekaan cahaya sampai abrasi korneanya sembuh.

Beri tahukan kepada dokter jika Anda punya masalah gagal jantung atau gagal ginjal. Orang dengan golongan ini tidak dianjurkan untuk minum obat ibuprofen atau obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) karena bisa menimbulkan efek samping yang cukup berat.

3. Operasi mata

Jika Anda sudah mencoba berbagai cara tapi abrasi kornea tak kunjung sembuh, operasi mata bisa menjadi solusi terbaik. Terlebih bila goresan di kornea cukup dalam, besar, dan mengganggu penglihatan.

Operasi ini dilakukan dengan cara menambal goresan atau luka pada lapisan kornea mata. Dengan begitu, pandangan mata Anda akan jadi lebih jelas dan terasa lebih nyaman.

Setelah operasi selesai, mata Anda akan ditempelkan perban lensa kontak lunak untuk mengurangi rasa nyeri dan mempercepat penyembuhannya. Biasanya, perban ini harus diganti satu kali setiap hari supaya tetap bersih dan steril.

Gunakan kacamata hitam tiap kali Anda keluar rumah. Ini bertujuan supaya tidak banyak cahaya yang masuk ke mata yang dapat menghambat penyembuhannya.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi abrasi kornea?

Jika kornea mata tergores, beberapa hal yang dapat Anda lakukan agar abrasi kornea cepat sembuh, antara lain:

  • Gunakan obat tetes mata dan salep sesuai petunjuk, dan obat-obatan dari dokter
  • Selalu istirahatkan mata setelah bekerja dalam waktu yang lama
  • Bersihkan lensa kontak secara rutin dan sebelum Anda memakainya
  • Beri tahu dokter jika mata Anda terasa pedih, iritasi atau kondisi kornea memburuk
  • Selalu pakai kacamata pelindung saat bekerja.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Funduskopi (Oftalmoskopi), Pemeriksaan untuk Diagnosis Berbagai Penyakit Mata

Funduskopi, atau oftalmoskopi, adalah tes untuk memeriksa mata bagian dalam. Apa saja penyakit yang bisa terdeteksi? Seperti apa prosesnya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kesehatan Mata, Perawatan Mata 23 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Mata Kering

Pemakai lensa kontak sudah biasa mengalami mata kering. Tapi tahukah bahwa penyebab mata kering Anda mungkin adalah pil KB yang Anda gunakan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mata 22 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Buta Warna

Buta warna terjadi ketika Anda kesulitan membedakan warna merah, hijau, biru, atau campuran dari warna-warna tersebut. Umumnya, ini disebabkan keturunan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Mata, Gangguan Penglihatan 22 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Pterigium

Pterigium (surfer's eye) adalah pertumbuhan jaringan pada selaput mata. Kondisi ini mungkin menyebabkan mata Anda menjadi merah dan terasa mengganjal.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Mata, Penyakit Mata 21 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

meningioma adalah

Meningioma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 9 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Kolesistitis adalah

Kolesistitis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
lidah terasa pahit saat sakit

Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Sarcoidosis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 24 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit