Apa Bedanya Air Mata Saat Sedih dan Bahagia?

    Apa Bedanya Air Mata Saat Sedih dan Bahagia?

    Perbedaan air mata sedih dan bahagia mungkin tidak dapat terlihat secara langsung. Anda baru bisa membedakannya saat mengetahui alasan seseorang menangis. Menangis adalah respons yang wajar saat Anda mengalami perubahan emosi, seperti sedih, bahagia, kesakitan, atau bahkan marah.

    Apa perbedaan air mata sedih dan bahagia?

    cara mengatasi duka cita

    Melansir situs American Psychological Association, menangis adalah bentuk ekspresi dari emosi.

    Jadi, perbedaan yang paling mendasar antara air mata sedih atau bahagia tentu saja dari emosi yang Anda rasakan pada saat itu.

    Selain karena sedih atau bahagia, menangis juga bisa saja disebabkan oleh perubahan emosi lainnya termasuk rasa sakit, kecewa, marah, dan simpati.

    Menangis memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan, seperti membuang racun dari tubuh dan menjaga keseimbangan emosional. Jadi, Anda tidak perlu enggan melakukannya.

    Mengapa Anda menangis saat sedih atau bahagia?

    Setelah mengetahui perbedaan air mata sedih dan bahagia, Anda mungkin ingin tahu kenapa seseorang menangis saat mengalami perubahan emosi tersebut.

    Setiap orang mungkin saja memiliki alasan yang berbeda-beda, tetapi umumnya, seseorang menangis karena alasan-alasan berikut.

    1. Emosi sedang tidak stabil

    Oriana Aragon pada situs Association for Psychological Science menyampaikan bahwa ketika Anda sedang sedih atau bahagia, tubuh Anda akan mengalami luapan emosi yang berlebihan.

    Nah, untuk menyeimbangkannya kembali, Anda perlu mengekspresikannya, salah satunya dalam bentuk tangis.

    Atas alasan ini, tubuh Anda akan secara otomatis akan mengeluarkan air mata saat sedih atau bahagia.

    2. Tubuh Anda sedang stres

    Stres bukan hanya terjadi saat menghadapi beban yang berat. Kondisi ini juga bisa saja terjadi bila Anda mengalami tekanan emosi, termasuk saat terlalu sedih atau terlalu gembira.

    Menurut penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Personality and Individual Differences pada beberapa wanita Jerman, banyak yang memilih menangis untuk menghilangkan tekanan tersebut.

    3. Mencari simpati

    Meskipun perbedaan air mata sedih dan bahagia terletak pada emosi yang Anda rasakan, ternyata keduanya dilakukan untuk mencari perhatian, simpati, atau dukungan.

    Manusia adalah makhluk sosial. Ketika mengalami pergulatan emosi, Anda tentunya membutuhkan dukungan dari orang lain.

    Bukan hanya saat berduka, tetapi juga saat bahagia, Anda juga ingin membaginya bersama orang lain.

    Dengan cara menangis, secara tidak langsung Anda memberi tahu orang lain bahwa Anda sedang sedih atau bahagia.

    4. Sebagai bentuk empati

    Menangis tidak hanya dilakukan karena adanya perubahan kondisi pada diri sendiri. Ini bisa juga karena faktor dari orang lain.

    Misalnya saat menyaksikan peristiwa yang menyedihkan, mengharukan, atau membahagiakan, tanpa sadar Anda turut mengeluarkan air mata meskipun bukan Anda yang mengalaminya.

    Lagi-lagi, ini karena manusia adalah makhluk sosial yang memiliki rasa empati. Perasaan ini membuat Anda merasa seolah-olah berada di posisi orang lain sehingga ikut merasakan emosi yang dirasakannya.

    Mengapa reaksi sedih dan bahagia bisa sama?

    Mungkin orang lain yang melihatnya akan sulit mengetahui perbedaan air mata sedih dan bahagia. Ini karena Anda menunjukkan ekspresi dan reaksi yang sama.

    Lalu mengapa dua emosi yang bertolak belakang bisa menimbulkan reaksi yang sama? Hal ini disebut juga dengan istilah ekspresi dimorfus. Menangis bahagia adalah salah satu contohnya.

    Menurut Association for Psychological Science, Anda mungkin menunjukkan ekspresi negatif (menangis) saat mengalami emosi positif (bahagia) yang berlebihan.

    Ini adalah mekanisme alami tubuh untuk menekan emosi positif agar tubuh mencapai titik kestabilan emosi.

    Hal ini juga dapat berlaku sebaliknya. Misalnya Anda tersenyum saat sedang bersedih.

    Apa yang memengaruhi seseorang untuk menangis?

    setelah menangis

    Meski menawarkan sejumlah manfaat, ternyata ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi seseorang untuk menangis, di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Usia

    Menangis identik dengan anak-anak. Ini karena otak kita di masa kecil bekerja dengan cara berbeda. Semakin dewasa seseorang biasanya akan semakin jarang ia menangis.

    Orang dewasa mungkin menahan air mata karena malu dan tidak ingin dianggap kekanak-kanakan.

    2. Jenis kelamin

    Menurut berbagai penelitian, wanita biasanya lebih mudah menumpahkan air mata daripada laki-laki, baik itu menangis karena sedih atau karena bahagia.

    Kebanyakan laki-laki menolak untuk menangis karena hal itu identik dengan hal-hal kewanitaan.

    3. Budaya

    Lingkungan juga ternyata memengaruhi perilaku seseorang dalam menangis. Orang yang hidup dalam budaya yang keras bisa saja tidak akan menangis meskipun sedang emosional.

    Bahkan, mungkin saja mereka sulit mengetahui perbedaan antara air mata sedih dan bahagia.

    Sebab apa pun alasannya, terkadang ada anggapan bahwa orang yang gampang menangis dianggap sebagai orang yang cengeng dan lemah.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    “Tears of Joy” May Help Us Maintain Emotional Balance. (2014). Retrieved 24 November 2021, from https://www.psychologicalscience.org/news/releases/tears-of-joy-may-help-us-maintain-emotional-balance.html

    Gračanin, A., Bylsma, L., & Vingerhoets, A. (2014). Is crying a self-soothing behavior?. Frontiers In Psychology, 5. doi: 10.3389/fpsyg.2014.00502

    Rottenberg, J., Bylsma, L., Wolvin, V., & Vingerhoets, A. (2008). Tears of sorrow, tears of joy: An individual differences approach to crying in Dutch females. Personality And Individual Differences, 45(5), 367-372. doi: 10.1016/j.paid.2008.05.006

    Ioannou, S., Morris, P., Terry, S., Baker, M., Gallese, V., & Reddy, V. (2016). Sympathy Crying: Insights from Infrared Thermal Imaging on a Female Sample. PLOS ONE, 11(10), e0162749. doi: 10.1371/journal.pone.0162749

    Why we cry. (2014). Retrieved 24 November 2021, from https://www.apa.org/monitor/2014/02/cry

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui Dec 06, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita