home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Jenis Tes Buta Warna, Bagaimana Cara Kerjanya?

Mengenal Jenis Tes Buta Warna, Bagaimana Cara Kerjanya?

Katanya, buta warna membuat seseorang hanya melihat warna hitam dan putih saja. Benar jika yang dimaksud adalah buta warna total. Padahal tidak semua orang mengalami buta warna total. Kebanyakan kasus buta warna justru adalah buta warna parsial, yaitu sulit membedakan warna merah, hijau, atau biru. Untuk memastikan jenis mana yang dialami, Anda perlu melakukan cek buta warna. Seperti apa tes buta warna?

Berbagai jenis tes buta warna

Buta warna terjadi karena adanya penurunan fungsi atau hilangnya sel-sel kerucut pada retina. Kerusakan pada sel kerucut di retina ini menyebabkan mata tidak dapat mendeteksi warna-warna dengan baik.

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan. Penyakit tertentu yang menyerang fungsi mata dan paparan zat kimia berbahaya juga bisa menjadi penyebab gangguan penglihatan ini.

Namun, banyak yang tidak menyadari dirinya mengalami buta warna karena sudah terbiasa menganggap warna tertentu sama dengan yang dilihat oleh matanya.

Padahal, beberapa pekerjaan atau bidang studi di perkuliahan menuntut seseorang untuk bisa sepenuhnya melihat warna dengan jelas.

Oleh karena itu, pemeriksaan tertentu perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi buta warna.

Tes yang umum dilakukan adalah untuk buta warna parsial dengan mengenali pola yang dibentuk dari titik berwarna, yakni tes Ishihara.

Namun, setidaknya ada 4 jenis tes yang perlu dilakukan dokter spesialis mata untuk mendiagnosis kelainan penglihatan warna.

1. Tes buta warna Ishihara

Tes buta warna Ishihara

Sesuai dengan namanya, penemu tes buta warna adalah Shinobu Ishihara, seorang optalmologis asal Jepang. Tes ni paling sering digunakan untuk mengetahui buta warna parsial, terutama pada buta warna merah-hijau.

Tes Ishihara terdiri dari 24 halaman, memuat gambar berupa titik-titik warna yang membentuk pola angka. Tujuan dari tes ini adalah membaca angka-angka yang tersusun dari titik-titik berwarna.

Saat tes, Anda perlu menutup salah satu mata ketika membaca angka dan dokter juga bisa meminta Anda menulusuri pola titk berwarna yang membentuk angka.

Pada gambar-gambar dalam tes Ishihara terdapat angka yang hanya dapat dibaca oleh orang dengan penglihatan normal.

Namun, ada juga gambar yang angkanya bisa dibaca oleh orang dengan mata normal, orang dengan buta warna parsial, dan orang dengan buta warna total.

Apabila Anda memiliki buta warna parsial merah-hijau, Anda akan kesulitan membaca beberapa halaman. Anda akan memiliki jawaban yang berbeda dibandingkan orang dengan penglihatan normal.

Bahkan, bisa jadi Anda tidak melihat keberadaan angka sama sekali.

Akan tetapi, beberapa halaman memang dikhususkan hanya dapat dibaca oleh penderita buta warna parsial.

Pada bagian ini, orang dengan penglihatan normal biasanya tidak menemukan adanya angka, sebaliknya orang dengan buta warna parsial justru melihat adanya angka.

2. Hardy-Rand-Rittler (HRR)

Tes buta warna ini pertama kali ditemukan pada tahun 1945 dan dapat digunakan untuk mendeteksi keseluruhan jenis buta warna parsial (merah, hijau, dan biru).

Tes HRR terdiri dari 4 bagian besar dan hasil dari masing-masing tes akan digunakan untuk menentukan jenis kelainan warna yang Anda miliki.

Pada tes ini Anda akan diminta untuk melihat beberapa bentuk gambar, seperti segitiga ataupun lingkaran.

Selain digunakan sebagai metode pemeriksaan buta warna, tes ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi penurunan kemampuan penglihatan warna yang menyertai beberapa penyakit mata.

Salah satu contoh penyakit mata yang bisa dideteksi dengan tes HRR yakni neuropati optik.

3. Farnsworth-Munsell 100-hue (Tes Hue)

Tes buta warna Farnsworth-Munsell 100-hue

Berbeda dengan tes buta warna lainnya, tes Hue terdiri dari 85 gradasi warna yang tersusun dalam 4 baris. Tes dilakukan dengan mengurutkan warna-warna tersebut sehingga membentuk suatu gradasi.

Dokter biasanya akan meminta Anda mengurutkan gradasi dari warna pelangi yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Hasilnya akan dijumlahkan untuk mengetahui seberapa berat atau ringan gangguan warna yang Anda alami.

Jika Anda mengalami kesulitan menyusun gradasi dari warna-warna tersebut, kemungkinan Anda memiliki gangguan penglihatan warna.

Dilansir dari National Eye Institute, tes Hue biasanya dilakukan untuk mendeteksi kelainan penglihatan warna untuk kualifikasi profesi fotografer dan desainer grafis.

4. Tes buta warna dengan anomaloskopi

Tidak seperti tes buta warna lainnya, pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang berbentuk seperti mikroskop, yaitu anomaloskop.

Cek buta warna menggunakan anomaloskop merupakan jenis pemeriksaan gangguan penglihatan warna yang paling akurat.

Pada tes ini, Anda akan diminta untuk menyesuaikan warna dengan warna yang ada dalam alat anomaloskop dengan memutar beberapa tombol pada alat tersebut.

Pada alat terdapat sebuah lingkaran yang terbagi menjadi dua warna, yaitu merah-hijau dan kuning. Anda perlu menunjukkan warna yang serupa dengan dua bagian lingkaran tersebut.

Selain cek buta warna, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan mata lengkap atau tes lainnya untuk mengetahui penyebab kelainan penglihatan warna secara pasti.

Apabila buta warna disebabkan oleh penyakit tertentuatau efek samping obat, hasil pemeriksaan nantinya akan dijadikan panduan untuk dokter menentukan cara mengatasi buta warna dengan tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

American Academy of Ophthalmology. (2020). Color Vision. Retrieved 22 September from https://www.aao.org/bcscsnippetdetail.aspx?id=fc70307a-f821-4d90-b49d-5b24f6ba24eb

National Eye Institute. (2020). Testing for Color Blindness. Retrieved 22 September 2020, from https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/color-blindness/testing-color-blindness

Colormax Institution. (2020). Color Blind Test | Test Color Vision by Ishihara Test for Colorblindness.  Retrieved 22 September 2020, from https://colormax.org/color-blind-test/

National Library of Medicine| National Health Institute. (2020). Color vision deficiency. Retrieved 22 September 2020, from https://ghr.nlm.nih.gov/condition/color-vision-deficiency#

National Eye Institute. (2020). Color Blindness. Retrieved 22 September 2020, from https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/color-blindness

NHS. (2017). Colour vision deficiency (colour blindness). Retrieved 22 September 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/colour-vision-deficiency/

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 30/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x