Mengenal 3 Generasi Bedah Refraktif Dengan Laser untuk Mata

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30 Desember 2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Ketika Anda punya keluhan tertentu terkait penglihatan atau mata, Anda mungkin sudah membayangkan hal-hal terburuk yang bisa terjadi. Apalagi jika dokter mata menyarankan pengobatan dengan bedah refraktif. Namun, jangan takut dulu ketika mendengar namanya. Bedah ini tidak menyeramkan seperti di film-film horor, kok. Teknologi bedah refraktif untuk mata selalu berkembang sehingga tidak menimbulkan rasa sakit atau efek samping berbahaya. Lebih jelasnya, simak ulasan berikut ini.

Apa itu bedah refraktif?

Bedah refraktif adalah tindakan operasi yang memperbaiki masalah penglihatan seperti rabun dekat, rabun jauh, astigmatisma dan presbiopia untuk mengurangi ketergantungan seseorang terhadap penggunaan kacamata atau lensa kontak. Bedah refraktif mampu mengubah kekuatan refraktif mata sehingga penglihatan menjadi lebih baik.

Bedah refraktif membantu memperbaiki kekuatan refraktif mata dengan mengubah atau memodifikasi bentuk kornea yang normal. Kornea sendiri merupakan bagian dari mata yang berbentuk seperti kubah, sangat jernih, dan berada di bagian paling depan mata. Kornea terdiri dari lima lapis, yaitu epitel (lapisan paling luar), membran Bowman, stroma, membran descemet, dan endotel (lapisan paling dalam). Untuk memperbaiki penglihatan, perlu dilakukan tindakan modifikasi terhadap lapisan stroma.

Jenis-jenis bedah refraktif dengan laser untuk mata

Saat ini sudah ada tiga generasi prosedur bedah refraktif dengan menggunakan laser. Ketiganya yaitu generasi pertama PRK (Photo Refractive Keratectomy), generasi kedua LASIK (laser-assisted in situ keratomielusis), dan generasi ketiga SMILE (small incision lenticule extraction). Sampai saat ini, LASIK merupakan prosedur bedah refraktif yang paling umum dan sering dilakukan. Nah, berikut penjelasan dan perbedaan setiap bedah refraktif yang mungkin perlu Anda jalani.

1. Photo Refractive Keratectomy (PRK)

Pada PRK, bagian depan dari kornea (lapisan epitel) dibuang. Kemudian dengan laser, dokter mata akan memodifikasi bentuk kornea. Prosedur PRK hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit untuk satu sisi mata.

Setelah operasi, pasien harus menggunakan lensa kontak khusus untuk melindungi kornea. Nah, karena ada sebagian kornea yang dibuang, diperlukan waktu yang cukup lama untuk pasien sampai bisa melihat kembali dengan jernih. Perlu waktu kurang lebih seminggu untuk pasien dapat melihat dengan baik, sehingga prosedur PRK biasanya dilakukan pada satu sisi mata terlebih dahulu.

Sedangkan untuk lapisan epitel kembali normal dibutuhkan waktu beberapa bulan. PRK dapat digunakan untuk memperbaiki miopia, hipermetropia, dan astigmatisma.

2. Operasi LASIK

LASIK juga menggunakan prinsip yang sama, yaitu mengubah bentuk kornea dengan menggunakan laser. Perbedaannya dengan PRK adalah pada LASIK akan dibuat “flap” terlebih dahulu. Dengan menggunakan laser, bagian depan di kornea diiris sebagian lalu kemudian dibuka seperti membuka jendela. Setelah itu, kornea dimodifikasi dengan menggunakan laser. Kemudian bagian depan kornea ditutup kembali.

Oleh karena adanya flap, maka penyembuhan setelah LASIK jauh lebih cepat. Hanya membutuhkan waktu satu hari bagi pasien untuk beraktivitas lagi seperti biasa. Meskipun begitu, prosedur LASIK tidak dianjurkan untuk orang-orang yang memiliki risiko trauma pada mata seperti petinju karena flap membuat kornea menjadi kurang stabil.

Selain itu, bagi Anda yang memiliki kornea tipis tidak dianjurkan untuk LASIK. Seperti pada PRK, LASIK juga dapat digunakan untuk memperbaiki miopia, hipermetropia, dan astigmatisma.

3.  Small Incision Lenticule Extraction (SMILE)

SMILE merupakan perkembangan dari dua generasi sebelumnya. Masih dengan prinsip yang sama, tapi prosedur SMILE berbeda dengan LASIK dan PRK.

Dengan menggunakan laser khusus, dokter bedah mata akan memotong bagian dalam kornea (tepatnya lapisan stroma), kemudian dibuat sayatan kecil pada tepi kornea sebagai jalan keluar untuk mengeluarkan sebagian kornea yang tadi telah dipotong dengan laser. Sayatan yang dibuat hanya sebesar 2-4 mm (oleh karena itu disebut “small incision” atau sayatan kecil), jauh lebih kecil dibandingkan prosedur LASIK yang membuat sayatan sebesar 20 mm.

Dengan sayatan yang lebih kecil, prosedur SMILE memiliki risiko efek samping yang lebih kecil dibandingkan LASIK dan PRK.

Sama seperti LASIK, hanya butuh satu hari bagi pasien untuk memulihkan diri dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Ini karena biasanya penglihatan sudah menjadi jauh lebih baik dalam waktu satu hari. Kekurangannya adalah prosedur ini hanya dapat digunakan untuk mengatasi miopia.

Ketiga prosedur bedah refraktif laser di atas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pilihan yang tepat berbeda untuk setiap orang sehingga jauh lebih untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter mata Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
tips lari untuk penderita rematik

6 Kesalahan Saat Olahraga Lari yang Wajib Dihindari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit