Pikun

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30 April 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu penyakit pikun?

Pikun adalah kondisi ketika seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya. Seiring bertambahnya usia, perubahan muncul di semua bagian tubuh, termasuk otak. Nah inilah sebabnya pikun adalah kondisi yang biasanya terjadi dalam proses penuaan.

Dalam dunia medis, pikun seringkali dijadikan gejala penyakit demensia dan penyakit Alzheimer. Demensia dan penyakit Alzheimer mengacu pada penurunan fungsi otak seperti menurunnya daya ingat dan kecepatan berpikir serta berperilaku.  

Seberapa umumkah?

Pikun adalah kondisi yang paling sering dialami oleh orang lanjut usia (lansia). Meski begitu, beberapa orang muda juga bisa saja mengalami pikun.

Pikun pada orang muda biasanya disebabkan karena cedera kepala dan trauma psikologis parah. Wanita lebih sering mengalami pikun daripada pria.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala pikun?

Tanda dan gejala pikun berbeda-beda pada setiap orang. Namun, beberapa tanda khas dari gejala pikun adalah:

  • Sering menanyakan hal yang sama berulang kali
  • Sering tersesat di tempat yang sudah lama dikenalinya
  • Tidak bisa mengingat dan mengikuti aturan
  • Bingung tentang waktu, orang, dan tempat
  • Lupa langkah-langkah untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi, pakai sepatu, dan berpakaian
  • Tidak memedulikan keamanan, kebersihan, dan asupan gizi mereka

Dikutip dari Fisher Center for Alzheimer’s Research Foundation, ada pula perubahan mental yang berhubungan dengan kondisi ini, yaitu:

  • Gangguan penilaian
  • Kehilangan ingatan
  • Terkadang berperilaku kekanak-kanakan

Perubahan psikologis dianggap terkait dengan penuaan sel-sel otak. Sementara itu, perubahan fisik yang terkait dengan penuaan terjadi pada semua individu sampai batas tertentu. 

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Pikun merupakan hal yang wajar bagi orang lanjut usia, tapi jika Anda merasa cemas, periksa ke dokter untuk saran dan nasihat lebih jelas. Jika dokter mencurigai adanya penyakit saraf dan mengharuskan perawatan, ikuti nasihat dan instruksi dokter.

Penyebab

Apa penyebab pikun?

Fungsi memori otak sangat rumit karena hampir terlibat pada semua aktivitas otak. Oleh sebab itu, cedera yang memengaruhi kepala dan otak dapat mengganggu ingatan.

Penyakit pikun mungkin merupakan akibat kerusakan struktur sistem sinyal otak (sistem yang mengendalikan emosi dan ingatan). Kondisi tersebut disebabkan oleh gangguan otak atau penyakit saraf.

Gangguan otak yang mungkin menjadi penyebab pikun adalah:

  • Stroke
  • Penyakit Alzheimer
  • Kejang
  • Tumor atau infeksi di dalam otak
  • Penyumbatan darah di dalam otak
  • Kekurangan oksigen di dalam otak
  • Keracunan karbon monoksida
  • Bakteri herpes encephalitis, kanker, dan penyakit autoimun
  • Kecanduan alkohol kronis Wernicke-Korsakoff yang mengakibatkan kekurangan vitamin B1
  • Efek samping pengobatan tertentu
  • Kekurangan vitamin B12 yang menyebabkan hilang ingatan

Faktor lain penyebab pikun adalah kelainan tiroid, ginjal, dan hati. Tak hanya itu, masalah kejiwaan seperti stres, kecemasan atau depresi, bisa membuat orang lebih cepat lupa dan dapat dikira terkena demensia.

Contohnya, orang yang baru-baru ini pensiun atau yang kerabatnya meninggal, atau yang sedang sedih, kesepian atau cemas.

Kebingungan dan kelupaan yang disebabkan oleh emosi biasanya bersifat sementara dan hilang ketika perasaan itu memudar. Masalah emosional dapat diselesaikan oleh pihak-pihak pendukung. 

Namun, jika perasaan tersebut bertahan lebih dari dua minggu, penting untuk mendapatkan bantuan dari dokter. Perawatan untuk mengatasi kondisi tersebut mungkin termasuk konseling, obat-obatan, atau keduanya.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya terkena penyakit pikun?

Beberapa hal yang meningkatkan risiko Anda terkena penyakit pikun adalah:

  • Cedera kepala dan otak
  • Stroke
  • Kecanduan alkohol
  • Kejang

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk penyakit pikun?

Penyakit pikun tidak memerlukan pengobatan. Pasalnya beberapa perubahan gaya hidup dapat membantu Anda mengatasi pikun. Latihan otak, menemukan hobi atau minat baru, dan terlibat dalam banyak aktivitas akan membantu berpikir cepat. Membatasi alkohol juga akan mencegah kerusakan otak.

Pasien juga dapat menggunakan metode obat pikun lainnya, seperti:

  • Membuat rencana dan daftar aktivitas.
  • Menggunakan catatan, kalender, dan benda yang membantu mengingat lainnya.
  • Keluarga dan teman dapat membantu orang mengingat rutinitas harian, aktivitas, dan kontak sosial.
  • Stress, kecemasan, atau depresi dapat membuat orang pelupa. Jika terus berlangsung, pengobatan dapat termasuk konseling, pengobatan, atau keduanya yang lebih sering.
  • Pada pasien Alzheimer di tahap awal dan menengah, obat-obatan mungkin mencegah memburuknya gejala.

Konsultasikan ke dokter untuk mengetahui obat pikun lainnya.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini?

Dokter akan memeriksa riwayat pengobatan dan kesehatan dengan bantuan ahli saraf dan psikiater. Beberapa tes yang biasa dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit pikun adalah:

  • Tes darah
  • Tes urin
  • Tes memori, kemampuan memecahkan masalah, dan bahasa

Dalam kasus yang spesifik, ST scan, MRI, ataupun PET scan mungkin membantu dokter mengesampingkan kelainan atau perubahan kimia otak.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi pikun?

Dilansir dari Healthline, gaya hidup dan pengobatan rumahan di bawah ini mungkin dapat membantu mencegah pikun:

  • Lakukan latihan otak. Lakukan aktivitas yang membuat Anda berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengingat informasi. Aktivitas semacam ini dapat merangsang otak Anda. Cobalah menyusun puzzle, melakukan aktivitas seni, atau mempelajari keahlian baru
  • Tetaplah aktif. Olahraga tidak hanya baik untuk kesehatan Anda secara keseluruhan, tapi aktivitas fisik bisa meningkatkan aliran darah ke otak Anda. Coba lakukan latihan aerobik paling tidak 30 menit sehari. 
  • Lakukan aktivitas sosial. Menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman dapat merangsang otak Anda dan mencegah Anda dari stres dan depresi. Anda juga bisa bergabung dalam kegiatan organisasi supaya tetap aktif berkegiatan sosial. 
  • Makan makanan bergizi. Fokus pada makanan yang kaya sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Pilihlah protein sehat, seperti kacang-kacangan, ikan, dan ayam. 
  • Deteksi kondisi kesehatan lain. Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko Anda mengalami pikun. Jika Anda mengidap penyakit, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau kolesterol tinggi, pastikan Anda menjalani perawatan di bawah pengawasan dokter. 
  • Jaga keamanan kepala. Cedera otak traumatis dapat menyebabkan kondisi ini. Ingatlah untuk selalu mengenakan helm saat melakukan kegiatan, seperti bersepeda atau olahraga lainnya.  

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Penyebab yang Mungkin Membuat Anda Mengalami Kram Otot

Semua orang mungkin pernah mengalami kram otot. Memahami penyebab kram otot dapat membantu Anda menghindarinya. Apa saja penyebab kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Myalgia (Nyeri Otot) 19 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Obat Nyeri Otot: Mulai dari Obat Resep Dokter Hingga Obat Herbal

Nyeri otot dapat mengganggu aktivitas harian. Temukan berbagai obat pereda nyeri otot yang ampuh, mulai dari obat resep dokter hingga obat herbal.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Myalgia (Nyeri Otot) 17 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Benarkah Bahaya Cyber Bullying Bisa Memicu Bunuh Diri?

Sekecil apapun bahaya cyber bullying tidak bisa dianggap remeh. Lambat laun, penindasan di dunia maya ini bisa berisiko pada tindakan bunuh diri.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Psikologi 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Mengetahui anak Anda melakukan masturbasi mungkin akan menimbulkan rasa kaget pada orang tua. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi hal tersebut?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Parenting, Tips Parenting 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
pelukan bayi dari orangtua distrofi otot muscular dystrophy adalah

Distrofi Otot

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

3 Jenis Obat Keseleo di Apotek dan Perawatannya di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit