Encopresis (Enkopresis)

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu encopresis?

Encopresis adalah kondisi keluarnya feses secara tidak sengaja, biasanya terjadi pada anak di atas usia 4 tahun yang sudah belajar menggunakan toilet. Tidak bisa menahan BAB akibat encopresis bukanlah suatu hal yang disengaja. Pada umumnya, encopresis disebabkan oleh suatu kondisi medis yang mendasarinya, baik secara fisik maupun mental.

Encopresis lebih sering ditemukan pada anak laki-laki usia sekolah, kurang dari 10 tahun.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala encopresis?

Gejala encopresis mungkin termasuk:

  • Buang air besar di celana, yang sering dianggap diare
  • Sembelit, feses keras dan kering
  • Feses berukuran besar
  • Tidak ingin atau menolak BAB
  • Jarak antar BAB panjang
  • Nafsu makan turun
  • Mengompol di siang hari (pipis di celana)
  • Infeksi kandung kemih kambuhan, khususnya pada anak perempuan

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Hubungi dokter ketika Anda menemukan gejala-gejala ini pada anak Anda:

  • Sembelit parah, bertahan lama, atau kambuhan
  • Mengeluhkan sakit saat BAB
  • Tidak ingin/menolak BAB; menahan BAB
  • BAB di celana ketika anak sudah berusia lebih dari 4 tahun

Penyebab

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk encopresis?

Ada banyak faktor risiko dari encopresis, yaitu:

  • Menggunakan obat-obatan yang dapat menyebabkan sembelit, seperti obat batuk
  • ADHD
  • Spektrum autisme
  • Gangguan kecemasan atau depresi

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana encopresis didiagnosis?

Dokter mendiagnosis encopresis dengan menanyakan seputar riwayat kesehatan anak; bagaimana ia belajar menggunakan toilet (toilet training); pola makan dan gaya hidupnya; obat-obatan yang sedang ia pakai; hingga pola perilakunya sehari-hari.

Dokter kemudian dapat menjalankan tes pemeriksaan fisik dasar untuk memeriksa kesehatan tubuh anak secara keseluruhan, termasuk kondisi usus, rektum, dan anusnya. Dokter mungkin akan memasukkan jari (memakai sarung tangan) ke dalam anus anak untuk memeriksa feses, dan memeriksa apakah otot-otot anus dan ukuran lubang anus anak normal.

Pada kebanyakan kasus, dokter mungkin akan merujuk anak untuk menjalani rontgen perut dan panggul untuk menentukan seberapa banyak feses yang menumpuk di usus, sekaligus untuk memeriksa apakah usus dan rektumnya membengkak.

Kadang, enema barium juga dapat dilakukan. Enema barium adalah tes diagnosis mirip rontgen, dengan memasukkan selang tipis ke dalam rektum anak yang dialiricairan pewarna radiopaque. Kemudian perut anak akan dirontgen untuk melihat apakah ada area perut yang bermasalah (misalnya usus terbelit atau menyempit) yang menyebabkan keluhan anak.

Pada beberapa kasus, dokter mungkin akan melakukan anorektal manometri. Dokter akan memasukkan selang tipis ke dalam rektum anak. Selang ini memiliki sensor tekanan, yang memungkinkan dokter mengetahui bagaimana anak menggunakan otot-otot perut dan rektumnya selama BAB. Kebanyakan anak yang memiliki sembelit kronis dan/atau encopresis tidak dapat menggunakan otot-otot ini dengan baik selama BAB.

Prosedur ini juga berguna untuk mengesampingkan kemungkinan penyakit Hirschsprung, kondisi yang amant jarang penyebab sembelit kronis. Jika dokter mencurigai kasus anak anda disebabkan oleh penyakit Hirschsprung, ia mungkin akan mengambil sampel jaringan rektum untuk melihat apakah ada fungsi saraf yang hilang. Hilangnya fungsi saraf di rektum adalah ciri khas dari penyakit Hirschsprung.

Bagaimana encopresis diobati?

Semakin cepat encopresis diobati, semakin baik. Langkah pengobatan pertama melibatkan pembersihan usus dari feses yang menumpuk. Prosedur ini bisa menggunakan resep obat pencahar, supositori rektum, atau enema.

Setelahnya, terapi pengobatan akan diutamakan untuk mendorong pola dan kebiasaan BAB yang baik. Pada beberapa kasus, rujukan psikoterapi mungkin akan ditambahkan ke terapi pengobatan anak.

Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Anda.

Pengobatan di Rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi encopresis?

Perubahan gaya hidup berikut dapat membantu anak mengatasi encpresis:

  • Perbanyak makanan berserat, termasuk sayur dan buah-buahan, untuk melembutkan feses.
  • Perbanyak minum air putih
  • Batasi asupan susu sapi. Pada beberapa kasus, susu sapi dapat menyebabkan anak sembelit. Namun diskusikan lebih dulu dengan dokter sebelum melakukan ini.
  • Buat waktu khusus untuk BAB. Minta anak untuk setidaknya duduk dulu selama 5-10 menit di atas toilet, di waktu yang sama setiap hari. Rutinitas ini sebaiknya dilakukan setiap makan, karena gerak usus akan lebih aktif setelah makan. Jangan lupa berikan motivasi dan pujian bagi anak selama waktu menunggu ini sampai BABnya keluar.
  • Berikan penyangga kaki di bawah toilet, untuk memudahkan anak berganti posisi duduk. Kadang, ekstra tekanan dari kaki akan menekan perut, yang dapat mempercepat proses BAB.
  • Pahami kondisi anak. Perlu diingat bahwa menahan BAB atau BAB di celana karena encopresis bukanlah suatu hal yang dikehendaki anak. Jangan memarahi atau mengomeli anak. Tunjukkaan kasih sayang dan berikan pengertian bahwa kondisinya akan baik-baik saja seiring waktu.

Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut. Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Bagaimana Jika Sekolah Dibuka Selama Pandemi COVID-19?

    Orangtua khawatir jika sekolah kembali dibuka pada tahun ajaran baru. Apakah sekolah yang dibuka selama pandemi COVID-19 aman bagi anak?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Coronavirus, COVID-19 03/06/2020

    Apakah Seseorang yang Terkena Penyakit Jantung Bisa Sembuh?

    Penyakit pilek dan batuk, dapat disembuhkan dengan istirahat dan minum obat. Lantas, apakah penyakit jantung juga bisa sembuh, seperti pilek?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji

    Perhatikan Penggunaan Disinfektan yang Baik Agar Aman dan Efektif Cegah Penyebaran Virus

    Sebelum menggunakan disinfektan, ada baiknya Anda memahami cara menggunakan larutan tersebut dengan baik dan benar agar efektif dan tidak memberbahayakan.

    Ditulis oleh: Roby Rizki

    Terus Mengantuk dan Ingin Tidur, Ini Berbagai Penyebab Anda Tidur Berlebihan

    Kurang tidur di malam hari menjadi penyebab utama Anda mengalami tidur berlebihan atau hipersomnia, tapi beberapa penyebab lainnya juga perlu diwaspadai.

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala

    Direkomendasikan untuk Anda

    epa untuk pasien kanker

    Pentingnya Konsumsi EPA bagi Pasien Kanker

    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020
    NSAID untuk autoimun

    Apakah Obat-obatan NSAID Bisa Digunakan untuk Penyakit Autoimun?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020
    rutinitas sehat agar produktif

    Jalani 4 Rutinitas Sehat Ini di Pagi Hari Agar Lebih Produktif

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020
    Mencegah COVID-19 di tempat kerja

    Panduan Mempersiapkan Diri untuk Cegah Penularan COVID-19 di Tempat Kerja

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020